Sabtu, 14 November 2015

#4

Rumah itu berderet rapi di salah satu kawasn perumahan elite di Jakarta. Tidak ada yang menyangsikan lagi kemewahan rumah itu. Rumah besar bertingkat dua dengan halaman yang luas serta garasi yang terpajang dua mobil mewah nampak indah dipandangan mata siapa saja. Meski beberapa pohon mangga tumbuh di taman itu namun tak terlihat satu daun kering pun yang ada di bawahnya. Taman itu sangat terlihat sekali sangat terurus. Dua buah mobil yang terpajang di garasi pun selalu mengkilap sebab setiap hari selalu di bersihkan.

Sebagian orang akan iri jika melihat keasrian dan kemewahan rumah tersebut. Rumah yang nampak nyaman untuk dihuni. Itu jika hanya memandang sekilas saja.

Rumah yang sebesar itu sangat terasa sepi dan hampa bagi penghuninya. Tak ada canda tawa anak-anak yang riang bermain. Tak ada percakapan hangat sebagaimana rumah yang seharusnya. Setiap kata yang terucap di dalam rumah tersebut hanya akan memantul ke dinding-dinding kokoh yang mengelilingi rumah. Hampir tak ada tegur sapa lagi di dalam rumah mewah tersebut. Jangankan adanya kebahagiaan, yang ada hanyalah kekecewaan dan kemarahan. Kehampaan.

Pagar yang dibangun dengan tinggi telah menjadi batas yang jelas bahwa tidak sembarangan orang bisa masuk kedalam rumah tersebut. Pagar juga telah membatasi interaksi dari penghuni rumah dengan dunia luar.

"Den,..." Inah mengetuk pintu kamar anak majikannya.

Tapi tak terdengar sahutan dari dalam kamar.

"Den, makan dulu sudah siang!" Kembali suara Inah terdengar memenuhi seluruh ruangan di rumah itu. Memantul-mantul sebelum kembali hening.

Tanpa terdengar jawaban tiba-tiba saja pintu sudah di buka. Dengan langkah gontai Beni melangkah menuju ruang makan. Melewati Inah yang masih terdiam bisu.

Tak ada satu suara pun yang keluar dari seluruh penghuni rumah. Hanya terdengar beberapa peralatan makan yang beradu memecah keheningan.

"Bibi tidak makan?" Beni membuyarkan lamunan Inah yang sedari tadi menatapnya.

"Tidak den, bibi nanti saja." Sahut Inah sedikit merendahkan suara dan membungkukan badannya.

Sebenarnya, itu adalah pertanyaan yang tak harus dijawab Inah. Sebab, anak majikannya itu sudah tahu kalau dia hanya makan setelah semua penghuni rumah makan. Hanya saja ia tak mungkin untuk tidak menjawab pertanyaan anak majikannya.

"Kalau begitu bibi makan sekarang saja sekalian menemaniku makan!" Pinta Beni.

"Tidak den, bibi nanti saja." Inah menjawab dengan segan.

"Kenapa? Aku sudah sering makan sendiri. Dan hari ini aku sangat merindukan suasana makan bersama. Bibi mau kan menemaniku makan dan ridak sekedar menontonku makan? Sekalian dengan mang Narto. Aku ingin merasakan kehangatan makan bersama."

"Baik den. Nanti bibi panggilkan mang Narto dulu." Bi Inah pergi ke belakang memanggil mang Narto yang sedang membersihkan halaman.

Ketiga orang tersebut sudah berada di meja makan. Meskipun canggung, bi Inah dan mang Narto berusaha menyesuaikan dengan anak majikannya. Dia tidak ingin mengecewakan anak majikannya itu. Dia tidak ingin selera makan anak majikannya itu hilang hanya karena keinginannya tidak di turuti.

"Meskipun bibi dan mamang bukan bagian dari keluargaku namun setidaknya aku bisa merasakan kehangatan makan bersama..." Suara Beni menggantung di langit-langit rumah.

Sementara bi Inah masih menguasai diri. Bukan karena tak biasa makan di meja makan dengan anak majikannya hanya saja ada yang ingin dia sampaikan namun takut mengganggu makan anak majikannya.

"Den, apa tidak sebaiknya aden kembali bersekolah?" Akhirnya, keluar juga pertanyaan itu. Hanya pertanyaan yang biasa memang. Namun itu adalah pertanyaan yang sangat sensitif bagi anak majikannya.

Beni mendongakkan kepala menatap wajah Inah yang berusaha mengendalikan ketakutannya. Takut, jika anak majikannya yang masih kecil itu kembali marah dan meninggalkan meja makan.

"Aku tidak ingin kembali ke sekolah." Tukas Beni dengan tegas.

"Kenapa? Bibi takut jika Tuan kembali ke rumah ini justru bibi yang akan kena marah."

"Harus berapa kali aku mengatakan kepada bibi? Aku malu bi. Aku malu bertemu dengan teman-teman, guru-guru dan semua orang ...."

"Tapi...." Bi Inah tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Takut menyinggung hati anak majikannya itu.

"Bi, semua orang sudah tahu dengan kasus yang menimpa ayah. Dan itu membuat semua orang bergunjing tentang ayah. Semua teman-temanku mengejekku karena perbuatan ayah. Guru-guru, walaupun tidak secara terang-terangan mereka juga membicarakan ayah. Aku tidak sanggup lagi melanjutkan sekolah. Aku ingin berhenti sekolah. Aku malu bi..."  suara Sendok garpu yang tadi beradu di meja makanpun segera behenti di gantikan dengan isak Beni yang sudah tidak tertahankan lagi. Kekesalan yang biasanya dia pendampun kini sudah termuntahkan. Tekanan yang selalu dia dapatkan dari lingkungan tak bisa dia tanggung lagi dengan tubuh dan usianya yang masih kecil.

Bi Inah juga tak tega melihat anak majikannya yang mulai terisak.

"Aku ingin berhenti sekolah saja. Ini semua gara-gara ayah. Kenapa ayah harus menjadi seorang Koruptor?" Sebuah pertanyaan yang kembali menggantung. Memantul-mantul di rumah berukuran besar tersebut.

"Tapi, bukan berarti aden harus berhenti sekolah. Itu hanya akan menambah beban tuan saja." Bi Inah berusaha melembutkan suaranya agar tak menyinggung.

"Biar saja bi..." Tukas Beni dengan sedikit emosi sebab kebencian pada ayahnya.

"Bibi yakin, tuan memiliki alasan untuk melakukan itu..." Kata-kata bi Inah terasa mengambang. Seolah tak yakin kata-kata itu akan terucap juga dari bibirnya.

Sebab, dia pun tahu tak ada alasan yang membenarkan siapapun untuk melakukan tindakan kejahatan. Apalagi untuk kasus korupsi yang telah menggurita dan menjadi musuh masyarakat negeri ini. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana cara membesarkan hati anak majikannya itu.

Sementara mang Narto yang memang pendiam tak banyak bicara. Dia hanya memperhatikan istrinya yang berusaha melerai anak majikannya itu.

"Tapi kenapa harus menjadi seorang koruptor bi? Apakah dengan harta yang dimiliki masih belum cukup? Itu hanya menjadikanku hidup sengsara sebab tak ada yang mau berdekatan denganku. Aku tidak ingin kembali ke sekolah. Aku malu bi...." Kembali isak tangis yang lebih keras terdengar dari bibir kecilnya. Dia yang harus merasakan cemoohan akibat ulah ayahnya. Dia yang harus mendapatkan cibiran sebab keteledoran ayahnya. Sekecil itu harus sudah menanggung beban mental yang amat berat.

Bi Inah dan Mang Narto memilih diam membiarkan anak majikannya itu meluapkan emosi dan kesedihan yang membekam di hati.

***

#3

Malam telah sempurna menyelimuti langit Jakarta. Hanya saja, meskipun malam mulai merangkak naik tak ada perubahan pada tingkah laku dan aktivitas penghuninya. Jalan-jalan masih sama seperti saat siang. Penuh dengan keramaian kendaraan yang lalu lalang. Pasar-pasar masih sibuk dengan aktivitas para pedagang sayur dan buah. Deru mesin pabrik masih terdengar yang artinya produksi di dalam pabrik masih berlangsung. Begitulah wajah Jakarta. Kota yang seolah tak pernah tidur barang sekejap pun.

Sementara di sudut lain dari hiruk pikuk kesibukan penghuni ibu kota ini, Arif bersama ibu dan kedua adiknya sedang menikmati hidangan makan malam mereka. Makan malam menjadi istimewa bagi anak beranak ini. Bukan karena menunya yang lezat atau tempat makannya yang indah dengan pemandangan kota. Bukan. Bukan itu. Tak lain, karena bagi keluarga ini makan malam tak pernah ada dalam jadwal kegiatan mereka. Hanya jika ada sisa uang yang cukup saja mereka sesekali bisa menikmati makan tiga kali sehari-- termasuk makan malam. Biasanya, sudah makan dua kali sehari saja mereka sudah sangat bersyukur. Meski sekedar nasi putih dan sepotong tempe.

"Alhamdulillah." Ucap Arif saat dia menikmati suapan terakhirnya. Arif bahkan sempat menjilat bungkus makanan itu memastikan bahwa nasinya telah benar-benar habis--termasuk sarinya yang tersisa-- sebelum dia membuang kertas nasi itu.

Hari ini, dengan pendapatan Arif sebesar dua puluh empat ribu enam ratus itu cukup untuk membeli nasi guna makan malam.

"Setelah kau makan, tolong kau bantu adikmu! Tadi siang dia mengeluh kesulitan mengerjakan PR."

"Baik bu." Arif segera menghampiri adik perempuannya yang sedang terpekur menatap tugas sekolahnya.

Sejak sekolah, Arif termasuk anak yang cerdas. Namanya tak pernah alfa menjadi juara kelas. Maka, sekarangpun dengan senang hati dia membantu adiknya mengerjakan tugas.

Sambil mengingat pengalamannya saat berskolah dulu. Pikirnya.

Kakak beradik itu kini terlibat diskusi sederhana. Lebih tepatnya Arif sedang serius memberikan wejangan pada adiknya. Arif selalu bersemangat untuk mengajari adiknya itu meski sebenarnya tubuhnya terasa lelah setelah seharian dia berdiri di bawah lampu merah. Kulitnya terasa kering karena seharian terpapar debu jalanan dan terbakar terik matahari. Tulangnya terasa remuk redam, namun kecintaan pada adiknya membuat ia melupakan rasa lelah dan kantuk yang membayangi.

Sementara, Maryanah memilih untuk menidurkan si bungsu yang selalu rewel.

***

Malam kian merangkak naik. Suara kodok yang biasanya terdengar dari pinggir kali di belakang gubuk sudah tak terdengar lagi. Mungkin sudah terlelap atau mungkin sedang tersedak karena menghirup air sungai yang keruh oleh limbah.

Siti dan si bungsu telah terlelap di pembaringan. Kakak beradik itu telah menggelepar di atas kasur lantai lusuh seperti pindang yang di jajakan di pasar Kramat Jati.

Maryanah sedang melipat pakaian yang tadi saing di jemur dan memasukannya ke dalam keranjang plastik.

Sementara Arif, dia termenung menatap wajah adik-adiknya yang sudah terlelap. Dia menatap iba pada adiknya yang paling kecil.

Kasihan sekali dia. Batin Arif. Pandangannya tak lepas dari wajah adiknya. Mulutnya menganga sangat besar. Terlihat sekali dia sangat kesulitan untuk bernafas dalam tidurnya. Tarikan nafasnya terdengar berat. Perutnya yang buncit membuat pilu hati Arif. Dia tak tega melihat adiknya yang seperti tersiksa dengan keadaannya sendiri. Urat-urat sangat terlihat jelas dari hampir seluruh tubuhnya. Kulit yang seolah menempel dengan tulang semakin membuat hati Arif serasa tercacah. Nampak jelas adiknya sangat kurus seperti tak ada daging yang membungkus tulangnya.

Arif tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Tapi, segera dia menyeka air matanya agar tak terlihat bersedih oleh ibunya.

"Bu, apakah adik tidak bisa sembuh?" Arif bertanya pada ibunya yang sedang sibuk melipat baju. Begitulah Arif, dia tak pernah menyebut nama adiknya. Dia lebih senang menyapa adiknya dengan sebutan 'adik'.

Maryanah melihat sekilas pada wajah anaknya." Berdoa saja semoga adikmu bisa segera sehat dan hidup normal agar bisa bermain selayaknya anak-anak seusianya." Pelan saja kata-kata Maryanah meluncur dari bibirnya seolah kata tersebut benar-benar mewakili hatinya.

"Apakah tidak sebaiknya adik dibawa lagi ke dokter bu?"

"Untuk apa? Bukankah engaku sendiri sudah tahu dengan penyakit adikmu?"

Itu hanyalah pertanyaan retoris yang tak perlu di jawab oleh Arif. Karena memang dia sendiri sudah tahu dengan apa yang di derita adiknya. Hanya saja, bukan itu yang Arif harapkan keluar dari bibir ibunya.

"Adikmu bukan menderita sakit yang harus ke dokter. Dia hanya butuh asupan nutrisi yang lebih baik agar gizinya terpenuhi."

Mendengar kata-kata yang di ucapkan ibunya membuat hati malik seolah terbuka. Pikirannya terbuka. Bahwa sebenarnya, kesembuhan adiknya ada ditangannya sendiri. Dia bertekad untuk bekerja lebih keras lagi agar mampu membeli makanan yang memiliki gizi yang cukup bagi ibu dan adiknya. Karena adiknya masih menyusu pada ibunya berarti makanan yang dimakan ibunya pun sangat berpengaruh pad gizi adiknya. Begitulah kesimpulan hati malik.

"Lagi pula, bukankah kamu juga tahu apa yang di katakan dokter di klinik itu? Adikmu harus di rujuk ke rumah sakit kalau mau sembuh." Tambah ibunya dengan suara yang lemah.

Bagi orang-orang seperti mereka, mendengar kata Rumah Sakit sudah cukup membuat bulu kuduknya bergidig. Dia sudah sering mendengar bahwa biaya di Rumah Sakit tidaklah murah. Nyali mereka sudah menciut bahkan sebelum mereka mencoba. Meskipun dokter di klinik itu mengatakan bahwa pemerintah akan membantu biaya Rumah Sakit namun dengan beberapa syarat yang di kemukakan dokter di klinik membuat langkah Maryanah mundur setelah sebelumnya sinar harapan muncul di wajahnya.

Dari persyaratan yang di kemukakan dokter tersebut salah satunya memiliki kartu identitas alias KTP. Itu dianggap hanyalah syarat yang paling mudah dari syarat-syarat administrasi yang lain. Namun, bagi Maryanah syarat mudah itu pun menjadi sulit.

Setelah kepindahannya ke bantaran kali dia kehilangan beberapa surat berharga. Seperti KTP, Kartu Keluarga dan surat tak penting lainnya seperti Surat Garansi Dispenser yang selalu dia simpan. Surat-surat berharga itu hilang karena saat mereka pindah dari kontrakan sebelumnya tidak dengan baik-baik melainkan karena di usir sebab sudah tiga bulan kontrakannya belum dibayar.

Hidup di bantaran kali dilingkungan kumuh yang dihuni kaum papa lain seperti mereka yang tak sanggup menyewa kontarakan membuatnya bingung harus kemana dia mengurus pembuatan kartu identitas. Dia tak tahu tanah tempat gubuknya berdiri masuk RT dan kelurahan mana. Di gubuknya tak tertera RT maupun Rw sebagaimana layaknya rumah. Kiri kanannya gubuk pemulung yang biasa mencari sampah di kali belakang gubuk. Mereka tak pernah peduli alamat tempat tinggalnya karena mereka berpikir bahwa tak mungkin ada yang menanyakan alamat rumah mereka. Gubuk itu hanya sebagai tempat mereka berlindung saat malam atau hujan. Itu saja sudah cukup bagi mereka. Tak perlu memikirkan lagi alamat apalagi Kartu Tanda Penduduk dan surat-surat lainnya yang mesti di miliki oleh warga negara yang baik. Entahlah apakah orang-orang seperti mereka masih masuk warga negara Indonesia atau bukan. Sebab, mereka ridak memiliki satu pun identitas yang menunjukan bahwa mereka termasuk warga negara Indonesia. Selain karena mereka hidup di atas tanah Indonesia.

Hal seperti itulah yang menyebabkan program-program pemerintah yang di khususkan bagi warga tak mampu belum benar-benar mampu menjangkau dengan tepat kepada sasaran. Program-program pemerintah itu hanya sampai pada masyarakat tidak mampu yang terdata di pemerintahan. Bahkan sebagian bantuan dan kemudahan-kemudahan yang di khususkan bagi masyarakat miskin banyak di nikmati orang-orang mampu.

Masyarakat yang termarjinalkan seperti Maryanah dan beberapa masyarakat di bantaran kali dilingkungan itu tak pernah mendapatkan apa yang menjadi haknya. Karena mungkin, nama mereka sudah tak ada lagi di data negara. Nama-nama masyarakat marjinal seperti mereka telah di coret sebagi warga negara.

Akhirnya, anak bungsu Maryanah pun tak bisa mendapatkan penanganan yang selayaknya. Program yang di galakan pemerintah guna mengurangi gizi buruk pun tak pernah berpengaruh pada keadaan Ipan-- adik bungsu Arif. Alhasil, bukannya keadaan semakin membaik justru malah semakin memburuk karena mendapatkan penanganan yang salah.

Arif masih termenung menatap wajah adiknya. Dia merasa tak tega terhadap adiknya.

"Lebih baik kau pun segera tidur nak. Agar besok bisa bangun pagi dengan bersemangat. Adikmu pasti akan segera bisa hidup normal." Maryanah membuyarkan lamunan Arif.

"Iya bu."

Malam semakin pekat. Diantara bau sampah dan limbah sungai di belakang gubuk anak beranak itu telah terlelap menuju peraduannya. Wajah-wajah lelah menjalani hidup yang semakin memberatkan nampak pada mereka. Andai para pemangku kekuasaan melihat wajah mereka saat terlelap seperti itu tentu mereka akan merasa iba dan kasihan. Itu pun jika mereka masih memiliki hati nurani.

***

#2

"Lebih baik aden makan dulu!" Bujuk bi Inah.

Sedang yang di bujuk pun hanya menggeleng.

"Tidak mau bi. Aku tidak lapar. Sudah berapa kali aku mengatakan itu. Apakah bibi juga tidak bisa mendengar?"

"Tapi aden belum makan dari pagi. Bibi takut nanti aden jatuh sakit. Bibi tidak mau di salahkan karena tidak bisa mengurus aden." Bi Inah masih berusaha merayu anak majikannya itu.

"Kalau aku bilang tidak lapar ya tidak lapar. Apa bibi tidak bisa mendengar?" Bentak anak itu. Seraya meninggalkan bi Inah.

Bi Inah sudah kehabisan cara. Dia hanya bisa mengelus dada karena tingkah anak majikannya itu.

Sudah setahun ini kerja bi Inah semakin menguras emosi. Anak majikannya kian susah di atur dan mudah sekali marah.

Bi inah yang sudah ikut bekerja di rumah besar itu lebih dari lima belas tahun sangat hafal dengan watak asli anak majikannya itu. Sedari kecil anak itu sebenarnya sangat baik. Dia anak yang rajin dan selalu riang. Itu karena bi Inah sudah mengasuh anak itu sejak kecil bahkan sejak masih dalam kandungan ibunya. Dia tahu tumbuh kembang anak itu setiap waktu. Mungkin, bi Inah lebih banyak mengetahui perkembangan anak itu dibandingkan kedua orang tuanya.

Anak itu bernama Beni. Beni Pamungkas nama lengkapnya. Umurnya baru saja menginjak angka empat belas tahun. Tapi, di usianya yang baru berumur delapan tahun dia harus kehilangan kasih sayang seorang ibu. Kedua orang tuanya bercerai saat usia Beni baru saja akan menginjak angka delapan tahun.

Di tengah-tengah gelimangan harta yang di miliki orang tuanya, dia justru kehilangan sumber kebahagiaan sejati. Yakni kasih sayang. Sejak kecil dia tak pernah kesulitan untuk memenuhi keinginannya. Apapun yang dia inginkan pasti bisa dia dapatkan. Ayahnya yang merupakan seorang pengusaha sukses dan seorang politisi membuatnya sangat sibuk. Bahkan, meskipun tinggal satu atap dengan Beni namun mereka tidak bisa saling bertemu karena kesibukan ayahnya. Harus menunggu akhir pekan agar mereka bisa bertemu.

Ayahnya sangat berambisi untuk mengejar kekuasaan. Namanya pun sangat populer baik di kalangan pengusaha maupun politisi. Hampir semua orang mengenal sosok yang bernama Hadi Kusuma.

Sayang sekali, popularitas dan ambisinya telah merenggut waktu berharga yang seharusnya dia sediakan untuk anak semata wayangnya. Itu jugalah yang menyebabkan perceraian dengan istrinya. Ambisi Hadi Kusuma untuk berkuasa terlalu berlebihan hingga kadang membuatnya tidak sering berada di rumah dan memilih berada di luar bertemu denga kolega-koleganya. Baik untuk urusan bisnis maupun untuk urusan politik. Nasihat yang diberikan istrinya agar dia memperhatikan keluarga selalu dia tolak mentah-mentah. Alhasil pertengkaran-pertengkaran pun tak bisa di elakkan lagi hingga berujung perceraian.

Setelah perceraian dengan istrinya tidak membuat Hadi Kusuma memikirkan Beni. Justru setelah bercerai dengan istinya mebuat dia semakin leluasa dan bebas untuk melakukan apapun. Seolah Beni tak pernah ada di rumahnya.

***

Sejak kecil, Beni tumbuh di bawah pengasuhan bi Inah yang selalu setia mengabdi kepada ayahnya. Sebagai anak, tentu dia pun ingin merasakan kasih sayang ayahnya seperti anak-anak yang lain. Tapi, setiap dia ingin bermanja-manja dengan ayahnya hanya bentakan saja yang dia dapatkan.

"Ayah sedang lelah hari ini. Apa kamu tidak mendengar?" Bentak ayahnya saat Beni masih saja merengek untuk mengajaknya bermain saat usia Beni baru menginjak angka 10 tahun.

"Lebih baik kamu bermain saja dengan bi Inah! Biasanya juga kita liburan setiap akhir pekan. Kamu jangan jadi anak yang manja!" Tambah ayahnya suatu hari saat dia mengajak ayahnya bermain.

Puncaknya, saat usia Beni berusia 11 tahun. Waktu itu, Beni ingin sekali tidur bersama ayahnya. Beni sengaja menunggu ayahnya sampai larut malam.

"Yah, malam ini aku ingin tidur bersama ayah." Pinta Beni.

"Ayah capek. Lebih baik kamu masuk ke kamarmu! Ayah ingin istirahat dengan tenang malam ini." Hari itu memang ada masalah yang di hadapi ayahnya. Anak buahnya melakukan kesalahan hingga berujung pada kerugian pada usahanya.

"Tapi yah, untuk malam ini saja. Mau kan yah?" Beni masih merajuk pada ayahnya. Wajahnya benar-benar memelas.

"Beni! Jangan buat ayah marah sama kamu!" Bentak ayahnya.

"Kenapa yah? Beni hanya menginginkan untuk tidur bersama ayah untuk malam ini saja." Beni masih belum menyerah memohon pada ayahnya.

"Lebih baik cepat kamu masuk kamar dan jangan membuat kepala ayah semakin pusing!" Dengan nada tinggi menunjuk ke arah kamar Beni.

"Tidak!!!" Suara Beni lebih keras dari suara ayahnya.

"Kamu sudah berani melawan ayah?" Emosi ayahnya benar-benar memuncak.

Plakkkk....Tamparan mendarat tepat di pipi Beni. Hadi Kusuma benar-benar kehilangan kendali untuk menguasai emosinya.

Beni segera berlari terhuyung sambil memegangi pipinya masuk ke kamar lalu mengunci pintunya. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Malam itu, dia sangat membenci ayahnya.

"Ayah jahat..." Teriak Beni dari dalam kamarnya.

Hadi Kusuma tak ambil pusing dengan anaknya. Masalah di perusahaan telah menguras tenaga dan pikirannya.

Dia segera bergegas untuk mandi dan berniat segera istirahat. Permasalahan hari ini benar-benar menguras tenaganya.

"Tuan,,," Sapaan bi Inah menghentikan langkahnya saat hendak memasuki kamar.

"Ada apa bi?"

"Anu tuan... apakah tidak sebaiknya tuan menemui den Beni dulu sebelum istirahat? Tangisnya masih belum berhenti. Bibi tidak bisa masuk karena kamarnya di kunci dari dalam."

"Biarkan saja bi. Kalau kemauannya selalu di ikuti nanti akan membuatnya semakin manja. Nanti juga dia keluar sendiri. Bibi lebih tahu cara mengurusnya."

"Tapi tuan,..." Bi Inah ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

"Kenapa bi? Apakah ada yang masih ingin di sampaikan? Sampaikan saja segera, aku ingin istirahat."

"Anu tuan,... Sebenarnya, ada alasan kenapa den Beni ingin tidur bersama tuan malam ini." Bi Inah ragu-ragu untuk mengatakannya. Suaranya sedikit parau dan kepalanya semakin menunduk tak berani menatap majikannya.

"Kalau alasannya hanya ingin bermanja-manjaan atau sekedar menceritakan kejadian di sekolah lebih baik besok-besok saja. Hari ini aku sangat lelah." Suara Hadi Kusuma sesijit meninggi.

Bi Inah semakin ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

"Bukan itu tuan."

"Lalu apa bi? Jangan bertele-tele. Aku mau istirahat. Lebih baik bibi kembali ke dapur untuk mengurus pekerjaan bibi daripada mengganggu waktuku." Hadi sedikit membentak pembantunya itu.

"Sebenarnya, den Bagus telah menyiapkan kejutan untuk tuan karena malam ini tuan ulang tahun." Bi Inah tergesa-gesa melanjutkan kata-katanya tak ingin majikannya lebih marah lagi karena dia mengulur waktu.

Sementara, kerongkongan Hadi tercekat mendengar ucapan bi Inah yang terakhir. Atap rumahnya serasa hendak roboh menimpa kepalanya. Meski langit luar masih tenang dan damai namun mendengar apa yang dikatakan bi Inah serasa meghadirkan petir yang hendak menghantam dadanya. Apa yang dikatakan bi Inah bagaikan ujung pisau yang hendak menikam ulu hatinya. Kakinya tak mampu lagi berpijak dengan sempurna. Bibir yang selalu mengeluarkan semua kata yang hendak di ucapkan pun mendadak kelu. Ini diluar dugaannya.

Dia tidak menyangka bahwa malam ini anaknya telah menyiapkan sesuatu yang istimewa untuknya. Bahkan, dia sendiri sudah lupa dengan ulang tahunnya. Walaupun tadi siang di kantor anak buahnya memberikan ucapan ulang tahun namun masalah yang membelenggu pikirannya tidak sampai memikirkan bahwa anaknya akan memberikan kejutan untuknya.

Malam ini, dia sangat merasa bersalah pada anaknya. Tamparan yang mendarat di pipi anaknya bukan hanya membuat sakit di pipi tapi di hatinya. Usaha untuk membahagiakan ayahnya hanya bersambut sebuah tamparan.

Rasa kantuk yang sedari tadi telah bergelayutan di kelopak matanya seolah hilang begitu saja. Dia melangkahkan kaki ke kamar anaknya. Ada perasaan gamang dan bersalah dalam dadanya. Bagaimanapun Beni telah berusaha untuk membahagiakannya.

Bi Inah hanya mengelus dada karena dia bisa menuntaskan semua perkataannya. Dia merasa iba menyaksikan majikannya yang diliputi rasa penyesalan.

Tokkk...tokk...tok... Hadi mengetuk pintu kamar anaknya.

"Nak," Hadi berusaha melembutkan suaranya.

Sementara dari dalam masih terdengar isakan Beni.

"Nak, buka pintunya ayah mau minta maaf."

Beni masih terisak di dalam kamarnya tak menyahuti panggilan ayahnya itu.

"Nak, maafkan ayah. Ayah khilaf, buka pintunya nak. Ayah ingin bicara."

"Ayah jahat." Hanya itu yang keluar dari bibir Beni.

"Iya nak, ayah memang jahat. Maafkan ayah, tolong buka pintunya. Kamu boleh tidur bersama ayah malam ini."

"Tidak... Aku tidak ingin lagi melihat ayah. Lebih baik ayah pergi dari pintu kamar. Karena aku tidak ingin membukakan pintu." Beni menyahut dari dalam. Sahutannya masih terdengar bersamaan dengan isakkan yang belum mereda.

"Apakah kamu tidak ingin mengucapkan ulang tahun sama ayah nak?" Hadi masih merayu anakanya dengan suara selembut mungkin. Hatinya masih terasa pilu karena kesalahannya.

Beni menghentikan isakkannya. Dia hendak membuka pintu kamarnya. Namun, dia segera mengurungkan kembali niatnya saat teringat tamparan keras yang mendarat di pipi kanannya. Kembali terisak.

"Nak, bukalah pintunya. Maafkan ayah." Suara Hadi terdengar lebih  berat. Dia benar-benar menyesali perbuatannya.

Bi Inah dan mang Narto yang menyaksikan tidak kuasa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Karena baru malam ini dia menyaksikan majikannya mengeluarkan air mata yang tak lain karena penyesalan.

Mang Narto adalah supir pribadi di rumah itu yang tak lain adalah suami dari bi Inah.

Akhirnya, pintu di buka. Beni keluar dengan wajah yang sembab.

Tanpa menunggu lama, saat melihat pintu kamar di buka Hadi langsung menubruk anaknya. Memeluknya dengan erat.

"Maafkan ayah nak." Hadi tak kuasa untuk tidak menangis.

Beni masih terdiam. Dia masih belum mengerti dengan ayahnya. Selama ini, ayahnya tidak pernah terlihat menangis bahkan lebih sering memarahinya.

"Maafkan ayah nak. Ayah khilaf telah memarahi dan menamparmu."

Beni pun kembali menangis di pelukan ayahnya. Selama sebelas tahun usianya. Dia baru merasakan pelukan ayahnya yang benar-benar tulus.

"Ayah tahu, kamu hendak memberikan kejutan pada ayah di hari ulang tahun ayah. Hanya saja ayah terlalu menuruti emosi dan membuatmu kecewa. Maafkan ayah nak."

Beni tak mengelurkan kata-kata. Dia hanya bisa menangis dan memeluk erat ayahnya. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa memeluk ayahnya itu.

Bi Inah dan Mang Narto pun berpelukan terharu menyaksikan pemandangan ayah dan anak yang sedang berpelukan berlinang air mata.

"Selamat ulang tahun ayah." Akhirnya keluar juga kata-kata dari bibir Beni di sela isakkannya.

"Terimakasih nak." Hadi semakin erat memeluk anaknya.

"Beni ingin bisa memiliki waktu lebih banyak bersama ayah. Ayah jangan terlalu sibuk mencari uang." Kata-kata itu meluncur dengan polosnya dari bibir Beni.

"Maafkan ayah nak. Ini semua demi kamu. Demi masa depan kamu. Kelak, jika sudah waktunya ayah juga akan memiliki lebih banyak waktu dengan Beni. Ayah harap kamu bisa mengerti keadaannya nak." Hadi melepaskan pelukannya dan menatap mata anaknya yang masih berlinang air mata sambil memegang erat bahu anak laki-lakinya itu.

"Tapi kapan yah? Beni ingin merasakan kebersamaan dengan ayah seperti anak-anak lain."

Hadi kembali memeluk anaknya. "Secepatnya nak."

Sejak saat itulah Hadi berusaha meluangkan waktunya untuk sekedar menyapa anak semata wayangnya. Sebelum waktunya kembali terenggut karena beberapa bulan setelah itu dia terpilih sebagai wakil rakyat di daerah Jakarta.

***

Minggu, 08 November 2015

#1

Musim kemarau saat ini telah berada di puncaknya. Terbukti, siang ini pun matahari dengan perkasanya bertengger di singgasananya. Bahkan, mega-mega pun tak ada yang berani mendekat. Langit benar-benar bersih menghamparkan kanvas biru yang seolah tanpa cela. Namun bukan saat yang tepat untuk menatap langit di siang bolong. Sebab sinar matahari yang memancar cukup menyilaukan mata. Debu-debu di jalanan cukup menyesakkan pengguna jalan, ditambah pula dengan kepulan asap knalpot kian memperparah kualitas udara sekitar. Rasanya, sangat sulit untuk mendapatkan udara segar yang baik untuk kesehatan. Selain karena banyaknya debu dan asap knalpot kendaraan, ditambah pula dengan minimnya pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Hanya ada beberapa pohon akasia yang ditanam di pinggir jalan raya. Itu pun tidak banyak membantu karena perbandingannya sangat jauh jika dibandingkan dengan banyaknya jumlah kendaraan yang menghasilkan emisi gas buang. Alhasil, pohon yang ditanam di pinggir jalan pun perlahan daun-daunnya mulai menguning dan bahkan sebagian lagi sudah banyak daun-daunnya yang gugur. Hidup segan mati pun tak mau. Sekalipun ada yang masih berdaun, daun itu nampak sekali berwarna hitam karena terus terpapar asap dari kendaraan yang lalu lalang sepanjang jalan tersebut.

Di puncak musim kemarau seperti ini, Jakarta seolah di ciptakan di depan pintu neraka. Panasnya sudah di atas normal. Belum lagi debu dan asap knalpot menambah ketidaknyamanan lama-lama berada di jalan-jalan Jakarta yang selalu saja di hiasi dengan kemacetan yang semakin parah. Bagi sebagian penghuni kota metropolitan ini, masker sudah menjadi kebutuhan utama saat berada di jalan terutama bagi pengendara roda dua maupun pejalan kaki. Jalanan ibu kota ini selalu menjadi tempatnya keluh kesah tertumpah, sumpah serapah berserakan baik sumpah serapah kepada pemerintah yang masih belum mampu memberikan solusi bagi masalah kemacetan jalan dan sumpah serapah kepada sesama pengguna jalan yang tidak sabaran. Hal tersebut memang sudah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian masyarakat ibu kota. Itu hanyalah sebagian masalah dari banyaknya masalah yang menghias ibu kota negara tercinta ini. Masalah yang seperti benang kusut sulit terurai meski telah berganti-ganti pemimpin dan sudah banyak teori yang diterapkan guna menyelesaikan masalah tersebut namun tetap saja sampai sekarang pun keadaannya tak ada perubahan.

Sementara, di sudut lain kota Jakarta tepatnya di sudut timur Jakarta dan lebih tepatnya lagi dibawah lampu merah. Seorang anak kecil bertubuh kurus tak terurus dengan tanpa alas kaki sedang memperhatikan tiga lampu rambu-rambu yang berada di atasnya. Bukan, bukan sedang menunggu lampu menyala berwarna hijau. Justru dia sedang menunggu lampu tersebut berwarna merah.

1,2,3..Dia berhitung dalam hati. Tepat di hitungan ketiga lampu pun berwarna merah.

Dia segera turun dari trotoar menghampiri satu per satu mobil yang berhenti di bawah lampu merah. Tanpa basa-basi anak kecil itu membersihkan mobil-mobil yang berhenti dengan kemoceng yang selalu ia bawa kemanapun. Kemoceng itu adalah senjatanya. kalau petani mungkin itu adalah cangkulnya yang biasa dia gunakan untuk menggali rupiah. Meskipun mobil-mobil tersebut masih mengkilap namun tetap saja anak kecil itu terus membersihkannya. Dia baru berhenti jika  kaca mobil terbuka dan tangan dari dalam mobil menjulur memberikan uang koin kepadanya. Walaupun kadang tak sedikit pemilik kendaraan yang terus menutup kaca mobilnya sampai lampu kembali menyala hijau. Begitulah yang biasa ia kerjakan setiap hari di tempat yang sama. Mengais rezeki dengan membersihkan kendaraan menggunakan kemoceng. Hanya itu pekerjaan yang bisa dia lakukan sesuai dengan usianya. Setidaknya itu masih lebih baik daripada menengadahkan tangan tanpa berbuat sesuatu. Membersihkan mobil yang berhenti di lampu merah masih bisa disebut perbuatan yang layak mendapatkan imbalan. Meskipun sebenarnya tidak benar-benar membuat mobil bersih karena akan terpapar lagi oleh debu jalanan.

Tak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan. Di usianya yang masih sangat muda atau bahkan bisa disebut anak-anak dia harus berjibaku setiap hari dibawah terik matahari dan menghirup debu serta asap knalpot untuk melakukan pekerjaannya itu. Walau tak selalu dia mendapatkan rupiah dari setiap mobil yang dia bersihkan namun itu tak membuatnya putus asa. Selalu ada harapan dan doa yang dia panjatkan setiap lampu rambu-rambu itu berwarna merah berharap ada rupiah yang dia dapatkan dari pekerjaannya. Tapi tidak jarang juga dia hanya mendapatkan wajah nyinyir dari pemilik kendaraan yang dia bersihkan. Semangatnya telah teruji waktu. Kesabarannya seakan telah teruji masa. Lebih tepatnya semuanya karena terpaksa.

Sebenarnya, bukan hanya dia saja yang melakukan pekerjaan tersebut. Setidaknya di bawah lampu merah itu masih ada dua orang temannya lagi. Hanya saja untuk saat ini keduanya sedang menepi karena tak kuat dengan panas matahari yang memanggang bumi siang ini.

"Terimakasih." Anak itu menganggukan kepalanya mengucapkan terimakasih pada pemilik kendaraan yang memberikannya koin logam lima ratusan.

Lampu telah kembali berwarna hijau. Dia segera menepi ke atas trotoar. Peluh yang membanjiri keningnya tak pernah menyulutkan semangatnya untuk mencari kepingan-kepingan rupiah.

Begitulah pekerjaannya dari pagi sampai petang menjelang. Jika sedang beruntung, dia bisa mendapatkan rupiah yang cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan perut ibu dan kedua adiknya yang masih kecil. Ya, mereka tak memikirkan kebutuhan yang lain. Untuk urusan perut pun mereka masih kerepotan. Karena terkadang, uang hasil pekerjaannya seharian membersihkan kendaraan yang tak seberapa itu harus rela dibagi dengan beberapa preman jalanan. Ah, lebih tepatnya dipaksa berbagi.

Hari ini, tak terasa dia sudah seharian dia berada dibawah lampu merah itu. Senja beberapa saat lagi menyapa. Dia segera menepi ke pinggir jalan yang cukup sepi. Dia merogoh saku celana merah ati nya yang sudah kumal. Itu adalah celana kebanggannya. Setidaknya itu menjadi identitasnya bahwa dia pernah mengenyam bangku pendidikan meski hanya sampai sekolah dasar. Dia mengeluarkan semua uang logam yang ada disakunya lalu menghitungnya dengan sangat hati-hati agar hitungannya tepat lalu memasukan uang yang sudah di hitung ke dalam plastik yang tak kalah kumal dengan pakaian yang dia kenakan.

"Dua puluh empat ribu enam ratus." Dia merapalkan hasil hitungannya dengan yakin. Lalu memasukan kembali plastik berisi uang receh itu ke dalam sakunya.

Sebelum melangkah pulang, dia melihat ke kiri dan kanannya memastikan tidak ada preman jalanan yang akan mengikutinya. Setelah yakin tidak ada preman yang mendekat dia segera melangkahkan kakinya menuju ke rumah. Langkah kakinya terburu seolah sedang di kejar anjing. Itu tidak lain karena dia takut keburu malam. Sebab, jika langit sudah nampak gelap maka itu pertanda akan makin banyak preman yang bermunculan dan itu akan menambah runyam urusan.

Begitulah pekerjaannya setiap hari. Dari pagi hingga petang. Hanya agar bisa menyambung hidup.

***

Dialah Arif. Seorang anak kecil yang sudah dipaksa oleh keadaan untuk membanting tulang disaat usianya baru menginjak tiga belas tahun. Harusnya, anak seusia dia saat ini sedang berada di bangku sekolah. Belajar, bermain, tertawa bersama sahabat-sahabatnya. Tapi, lagi-lagi keadaan telah memaksanya tercerabut dari dunia yang menyenangkan itu. Sekolah kini tinggalah kenangan dan impian yang telah dia kubur dalam-dalam dari pikirannya. Dunia bermain telah dia tinggalkan lebih cepat dari yang seharusnya. Kini, dia telah menjajaki dunia orang-orang dewasa yang harus banting tulang mencari rupiah guna menyambung hidup. Walaupun dalam hatinya masih merasakan kesedihan saat melihat teman-temannya menggendong tas sekolah mengenakan pakaian seragam putih biru, tertawa dan bercanda sepanjang perjalanan. Kesedihan itu segera saja dia hapus dari hatinya dan digantikan dengan semangat yang membara untuk bekerja membantu ibunya. Baginya, telah mengenyam pendidikan sampai selesai Sekolah Dasar pun telah cukup. Itu masih bisa dia syukuri bila dibandingkan dengan salah seorang kawannya seprofesi yang bahkan tidak menamatkan sekolah dasar. Tabiatnya sebagai seorang anak-anak belum sepenuhnya hilang. Setidaknya senyum yang selalu menghias bibir keringnya itu masih menandakan bahwa dia memiliki ciri khas dunia anak-anak yang selalu tersenyum apapun masalahnya.

Meskipun pekerjaan yang dia lakukan cukup menguras tenaganya, dia tak pernah berkeluh kesah. Lelah sepenjang hari berada di jalanan akan terbayar dengan melihat senyum ibu dan adik-adiknya.

Arif kini tinggal di gubuk kecil, kumuh dibantaran kali bersama ibu dan kedua adiknya yang masih kecil. Adiknya yang pertama perempuan yang bernama Siti sudah berumur delapan tahun dan saat ini sedang menempuh pendidikan kelas dua sekolah dasar. Sedangkan adiknya yang paling kecil laki-laki  bernama Ipan baru berumur satu tahun setengah. Hanya saja, adik yang paling kecil itu tidak tumbuh normal sebagaimana anak kecil seusianya yang biasanya sudah bisa berjalan. Adiknya itu hanya bisa terkulai di pangkuan ibunya dengan tubuh yang sangat kurus. Matanya seperti ingin terlompat dari kelopaknya dan perutnya sedikit membuncit. Permasalahan klasik anak orang-orang miskin. Apalagi kalau bukan gizi buruk?

Itulah sebabnya Arif harus bekerja sendiri karena ibunya tidak bisa meninggalkan adiknya yang paling kecil. Sudah hampir satu tahun Arif menjadi yatim. Ayahnya meninggal karena kecelakaan kerja di pabrik. Ibunya hanya mendapat santunan beberapa rupiah yang kini telah habis untuk menyelesaikan sekolah Arif.cItulah yang memaksa bu Maryanah--ibunya Arif-- mengajak anak-anaknya meninggalkan rumah kontrakan yang biasa mereka huni saat ayahnya Arif masih hidup dan memilih tinggal di bantaran kali dengan membuat rumah dari bahan triplek seadanya dengan atap asbes bekas.

Riyan harus merelakan bahwa sekolahnya tidak bisa dilanjutkan. Tapi, dia tidak ingin adiknya juga putus sekolah setidaknya sampai lulus sekolah dasar.

Bu Maryanah sebenarnya bukan warga Jakarta asli. Seperti kebanyakan penghuni Jakarta lainnya, dia adalah perantau dari salah satu kota di Jawa Barat. Dia telah merantau di Jakarta hampir dua puluh tahun. Di kampung sudah tidak ada lagi yang bisa di harapkan. Tanah warisan orang tuanya telah dia jual dulu saat suaminya menganggur. Maka, dengan terpaksa kini mereka bertahan hidup di Jakarta meramaikan persaingan perut di tanah metropolitan.

Sebenarnya, bu Maryanah pun tak tega jika melihat anak sulungnya bekerja sendirian di usianya yang masih belia. Namun, apa daya si bungsu pun tak tega dia tinggalkan dengan kondisinya saat ini. Akhirnya, dia hanya bisa meneteskan air mata dan memanjatkan doa agar anak sulungnya selalu diberikan kesehatan dan rizki oleh yang maha kuasa setiap melepas anak sulungnya berangkat bekerja setiap pagi. Dibalik senyum anak sulungnya yang selalu bersemangat selalu ada kesedihan yang mengganjal di hatinya. Kepergian suami yang begitu cepat telah membuat hidunya lebih susah--walaupun keadaan tak jauh berbeda saat suaminya masih hidup. Tapi setidaknya, jika suaminya masih hidup si sulung masih bisa melanjutkan sekolahnya. Merasakan dunianya bukan berada di atas jalan raya mengais rupiah dibawah terik matahari dan bergumul dengan debu jalanan yang menyesakkan dada persis seperti nasib hidupnya yang harus sering mengelus dada agar lebih sabar lagi menghadapi kerasnya kehidupan di ibu kota negara.

***

Minggu, 01 November 2015

Dua Belas

"Nanti malam aku dan Beni ke kosan mu. Tunggu sekitar setengah delapan!" Gista mengingatkanku saat kami baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhir.

Aku hanya mengangguk.

Sesuai janji, malam ini kami hendak pergi untuk sekedar menghilangkan penat karena rutinitas belajar yang membosankan. Seperti biasa, kami pergi ke tempat favorit.

Ah, entahlah aku sendiri menjadi bingung dengan semua kebiasaanku kini. Bermain ke tempat-tempat hiburan malam pun rasanya kini bukan lagi menjadi hal yang tabu. Untuk sekedar menghirup bau minuman memabukkan pun bukan lagi hal yang aneh. Padahal, dulu aku sangat membenci tempat-tempat yang biasa aku kunjungi itu. Mungkin benar pepatah yang mengatakan bahwa saat kita bergaul dengan penjual minyak wangi maka sedikit banyaknya kita akan kena cipratan minyak wangi tersebut. Pun saat kita bergaul dengan penjual minyak tanah maka kita akan kena bau nya. Aku menyadari kekeliruanku, namun rasanya sulit untuk menghindar dari kebiasaan burukku ini. Apalagi jika sudah mengatakan solidaritas, aku tidak bisa mengelak. Lebih tepatnya tidak mau mengelak.

Tepat Jam setengah delapan terdengar bunyi klakson mobil dari jalan depan kontrakanku. Dan sudah kuduga, itu adalah suara mobil Beni.

Aku bergegas menuju mobil Beni agar dia tidak membunyikan klakson terus karena aku tak kunjung menemuinya.

"Cepat naik!" Seru Gista masih dalam mobil.

"Loh, Tiara?" Aku sedikit kaget saat masuk ke dalam mobil karena melihat seorang gadis yang aku kenal.

"Hey...." Sapa Tiara ramah.

"Dia cewek gue bro. Malam ini, bakalan ada pesta kecil-kecilan. Jadi sengaja gue ajak Tiara." Beni mengerti kebingunganku.

Dialah Tiara, salah satu gadis penghuni kelasku. Sosoknya yang cantik namun ramah. Dia salah satu primadona kampus, khususnya di fakultas tempatku menimba ilmu.

Jika boleh menggambarkannya, Tiara itu gadis yang sempurna. Pintar, kaya, cantik, ramah. Apalagi yang kurang?

Hanya memang, meskipun dia adalah gadis yang ramah dan membuat laki-laki menaruh hati padanya tapi tak ada yang berani mengungkapkan perasaan mereka. Semuanya memilih untuk mengubur parasaannya. Salah satu alasannya karena minder.

Tiara adalah anak seorang pengusaha sukses dengan semua fasilitas yang diberikan orang tuanya tak membuat dia menjadi sombong. Dia dikenal sebagai gadis yang suka membantu sesama. Menolong yang lemah. Ah, gadis mana yang tak kan iri padanya?

Memang, sebelumnya desas desus kedekatan antara Beni dan Tiara sudah menyebar. Tapi, tidak mudah mempercayai kabar yang dibawa burung liar. Tak baik pula mempercayai kabar yang dibawa angin. Sebelum benar-benar kita mengetahui kebenarannya semua kabar itu masih dikategorikan gosip. Dan gosip adalah salah satu konsumsi masyarakat zaman sekarang termasuk mahasiswa.

"Mulai kapan jadian?" Tanyaku. Berusaha memecah keheningan saat mobil terjebak macet.

"Baru juga seminggu, bro." Beni yang menjawab pertanyaanku. Sementara Tiara hanya mengangguk menyetujui jawaban Beni.

"Oh gitu, ya udah selamat aja deh. Semoga hubungannya bertahan lama sampai kakek nenek."

Suasana dalam mobil kembali hening. Mobil mulai melaju diantara kemacetan kota di akhir pekan.

"Oh iya Gis, gimana hubunganmu sama si Dian?" Aku berusaha menghidupkan suasana.

Gista yang sedari tadi melihat jendela memperhatikan pengendara motor yang sedang adu mulut dengan pengendara mobil pun sedikit kikuk.

"Pertanyaan lu serius apa ngeledek?"

"Ya serius lah."

"Cintanya di kebiri sama si Dian. Makanya dari tadi hanya diam saja macam orang sakit gigi." Beni  yang menyahuti pertanyaanku.

Sontak saja membuat aku, Beni dan Tiara tertawa. Ditambah pula dengan ekspresi Gista yang memprihatinkan.

Obrolan pun terus mengalir tentang hal-hal kecil yang akan di lakukan di villa.

"Gue punya kejutan buat kalian semua. Kita akan pesta. Pesta yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup." Beni.

Aku tak menanggapi.

Mobil terus melaju membelah jalanan. Menyusuri remang-remang bayang lampu jalanan.

***

Malam masih tetap sama.
Setia pada gelap.
Takluk pada gigil dingin.

Sementara tawa selalu berubah.
Kadang tertawa bahagia.
Kadang mentertawakan kekonyolan hidup.

Biarlah malam, menyimpan rahasia tawa anak manusia.
Yang berjalan di atas angan-angan.
Sementara esok belumlah pasti kan tiba.

***

Senin, 12 Oktober 2015

Sebelas

Waktu berjalan seperti tak mengenal jeda. Begitulah memang.
Hari-hari yang aku jalani masih sama. Belajar menjadi tujuan utama. Sekarang pendidikanku sudah menginjak smester ke tujuh. Itu artinya tinggal satu smester lagi aku berada di kampus ini dengan status mahasiswa. Mudah-mudahan saja bisa lulus tepat waktu.

Persahabatanku dengan Beni dan Gista semakin dekat saja. Dia adalah sahabat yang telah mengajakku menjelajahi cakrawala kehidupan yang lain. Meski sebenarnya aku memiliki banyak teman-teman di organisasi namun entah kenapa aku lebih dekat dengan Beni dan Gista. Salah satunya mungkin karena mereka berdua adalah sahabat yang mengerti arti persahabatan yang sesungguhnya. Begitu juga dengan Irman, dia juga lebih sibuk dengan sahabat-sahabatnya. Keadaan tersebut membuat pertemanan kami semakin hambar. Namun, dia masih peduli terhadapku. Itu terbukti dengan seringnya dia memberi nasihat kepadaku.

"Ham, apa tidak sebaiknya kamu membatasi pergaulan kamu dengan Beni dan Gista? Kenapa kamu tidak memilih untuk lebih dekat dengan teman-teman organisasimu saja?" Tanya Irman pada satu waktu.

"Memangnya kenapa?" Datar saja aku menanggapinya.

"Aku khawatir kamu terjerumus pada kesalahan yang akan mengganggu penggapaian cita-citamu. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa dua smester yang telah lewat IP mu tak seperti yang kamu targetkan?"

"Kamu tidak usah terlalu khawatir. Aku masih bisa menjaga diri sendiri. Kamu tidak usah terlalu berlebihan karena sejauh ini aku pun masih mampu menguasai diriku. Lagipula mereka adalah sahabat yang baik. Masalah nilai-nilaiku yang tidak sesuai harapan bukan karena mereka jadi tidak usah kamu kaitkan dengan mereka." Aku merasa yakin dengan diriku.

Memang itu terbukti setiap Beni dan Gista mengajakku ke kafe-kafe sekalipun aku tidak pernah tergiur dengan minuman keras. Walaupun memang sesekali aku sudah belajar menghisap sigaret. Itupun hanya di lakukan di tempat-tempat tertentu hanya agar tidak terlalu disebut kampungan. Paling aku hanya ngobrol dengan gadis-gadis kafe.

"Ya itu terserah kamu saja. Yang penting aku sudah mengingatkan untuk tetap hati-hati dalam nergaul karena tujuan kita untuk menuntut ilmu. Kamu yang lebih tahu dirimu. Sebagai teman aku hanya mengingatkan tidak lebih.

"Iya, aku mengerti. Terimakasih atas nasihatnya."

Begitulah aku dengan Irman. Hanya saling berbicara untuk hal yang dianggap penting saja.

Untuk masalah merokokpun sebenarnya aku merasa berdosa dan bersalah terhadap orang tuaku. Aku sudah berjanji pada mereka untuk tidak merokok selama masih kuliah. Aku pun merasa seperti orang yang paling munafik saat aku pulang ke kampung setiap libur panjang. Orang tuaku masih percaya bahwa aku bukan perokok. Pun dengan orang-orang desa yang masih menganggapku pemuda baik-baik. Pemuda yang pendiam dan soleh. Padahal kenyataannya disini aku sering le tempat-tempat yang mungkin belum pernah dikunjungi pemuda-pemuda kampung yang hobi nongkrong. Kenakalan pemuda kampung hanya sebatas nongkrong sampai larut malam sementara aku, aku main ke tempat-tempat remang sampai tidak mengenal waktu. Namun meskipun demikian aku selalu berpikir bahwa ini hanya sementara dan dalam batas yang aku masih sanggup mengendalikannya. Sungguh itu adalah pembelaan yang paling menjijikan sebenarnya.

Dihadapan orang tuaku memang aku bersikap sebagaimana anggapan orang tuaku bahwa aku adalah anak yang baik. Entah jika mereka mengetahui kelakuanku di luar rumah saat jauh dari mereka. Mungkin mereka akan membenciku sejadi-jadinya.

Aku adalah anak yang biasa di manja oleh orang tuaku meski bukan berasal dari keluarga berlebih namun orang tuaku selalu memastikan keperluanku terpenuhi. Selain tidak banyak tingkah, aku juga termasuk anak yang penurut. Setiap perkataan dari orang tua selalu aku penuhi. Aku tidak pernah membangkang pada setiap larangan mereka. Lebih tepatnya aku seperti dikendalikan oleh orang tuaku. Alhasil saat aku jauh dari mereka seperti menemukan kebebasan. Tidak ada aturan yang harus aku patuhi. Orang tuaku selalu membatasi setiap gerak-gerikku dan kini aku seperti kuda yang lepas dari ikatannya. Masih terlihat jinak, namun sebanrnya sudah liar karena kebebasan yang dimilikinya.

Aku merasa berdosa dan bersalah terhadap orang tuaku namun rasa penasaran kadang mengalahkan semuanya. Kesempatan dan ego diri selalu menguasaiku.

***

Ada hal yang lebih aku tunggu di ujung masa pendidikanku selain tentu dapat lulus dan mendapatkan selembar ijazah. Lebih dari itu ada hati yang sedang menungguku. Dan ada perasaan yang membuncah didadaku.

Hubunganku dengan Siti kian menggembirakan. Orang tua siti dan orang tuaku telah sama-sama tahu hubungan yang kita jalin. Bahkan orang tua siti menyarankanku agar melakukan proses lamaran bersamaan dengan kelulusanku.

"Tidak baik menjalin hubungan tanpa tujuan ke arah yang lebih serius. Walaupun kami percaya nak Ilham sungguh-sungguh mencintai Siti. Tapi, sebagai orang tua kami ingin agar ada obrolan yang lebih serius antar dua keluarga agar kami lebih tenang terhadap hubungan kalian." Begitulah yang di ungkapkan orang tua Siti.

Sebenarnya aku tidak ingin terburu-buru dalam urusan yang satu ini. Namun tidak ada salahnya jika aku mencoba untuk menyampaikan apa yang disampaikan oleh orang tua Siti pada orang tuaku.

"Itu lebih baik. Karena memang dalam tradisi kita tidak baik menggantungkan anak orang tanpa kejelasan tujuan." Jelas bapakku saat aku mengutarakan apa yang disampaikan orang tua Siti.

"Tapi aku masih terlalu muda untuk memikirkan itu pak. Lagi pula saat ini aku masih kuliah." Aku mengeluarkan pendapatku.
Tapi, itu bukan berarti aku tidak serius dengan hubungan yang aku jalani. Aku hanya tidak ingin terburu-buru.

"Memastikan bukan berarti kamu harus segera menikahinya nak." Bapakku malam itu terlihat lebih bijak dan tenang.

"Sebagai laki-laki kamu harus bisa memberi kepercayaan kepada orang tua perempuan bahwa kamu pantas mendampingi anak perempuan mereka. Mereka juga tidak ingin memaksa kamu untuk segera menikahinya. Lagi pula mereka tahu kamu masih kuliah dan anak mereka juga masih kuliah. Ini hanya soal kesungguhan. Itu saja. Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita melangsungkan tunangan saat kamu lulus kuliah? Itu juga sebagai tanda syukur atas kelulusanmu." Kali ini aku menemukan bapakku lebih bijak dari biasanya. Ketenangannya dalam berbicara menyiratkan kedewasaannya sebagai orang tua. Itu terlihat dari caranya memilih kata. Sangat hati-hati.

Aku hampir saja melonjak kaget.

"Tapi aku masih muda pak. Dan saat lulus berarti belum memiliki pekerjaan. Karena jika sudah bertunangan maka tidak perlu menunggu lama untuk melangsungkan pernikahan." Aku berusaha setenang mungkin menolak permintaan bapak.

Sekali lagi bukan karena aku tidak serius dengan gadis pujaanku. Ini karena aku tidak ingin ada penyesalan setelahnya.

"Dalam budaya kita bahkan agam tidak melarang sepasang kekasih menikah muda. Bahkan di anjurkan. Kamu tidak perlu memikirkan apa yang harus kamu siapkan untuk acara tersebut. Selama kamu masih belum berumah tangga, kamu masih menjadi tanggungan kami. Lagipula kamu sudah bisa mencari pekerjaan setelah lulus sebelum melangsungkan pernikahan sambil menunggu nak Siti lulus kuliah. Itu juga jika kamu benar-benar serius dengan kekasihmu. Sebab, bagaimanapun dia adalah anak kepala desa, sangat tidak elok jika terlihat berduaan denganmu tanpa kamu benar-benar menunjukan keseriusan terhadapnya."

Kali ini aku memilih mengikuti apa yang bapak katakan. Karena memang sebenarnya itulah yang aku inginkan.

Smester terkahir akan menjadi terasa begitu panjang bagiku. Mengejar toga dan menuju cinta. Meski sekedar lamaran.

***


"

Minggu, 11 Oktober 2015

Sepuluh

Bus sudah melaju dengan kecepatan sangat tinggi karena memang saat itu jalanan pantura sangat lengang. Beberapa penumpang banyak yang terlelap tidak peduli dengan supir bus yang ugal-ugalan. Ah, kondisi tersebut membuatku tak bisa memejamkan mata. Seperti biasa, aku memilih menikmati pemandangan sepanjang jalan pantura. Sesekali menuliskan sesuatu pada jendela bus yang berembun akibat hembusan nafasku yang terlalu dekat dengan kaca.

Liburan telah berakhir. Saatnya menuju medan jihad, meneruskan perjuangan menuntut ilmu. Namun, beberapa kenangan saat liburan masih terus membayangiku. Apalagi hal-hal konyol yang terjadi selama liburan yang pasti akan aku rindukan selama berada di kota orang. Selain orang tua dan kedua adikku, ada seseorang yang juga akan memaksaku untuk selalu rindu pulang kampung. Ah, andai liburannya bisa di perpanjang tentu akan lebih baik.

Aku masih menikmati pemandangan sepanjang perjalanan meski sesekali harus terpelanting ke depan akibat supir bus yang rem mendadak. Memasuki daerah Karawang jalanan sudah mulai terjadi kemacetan. Beberapa pedagang buku Teka Teki Silang juga sudah ada yang berjualan di bus. Hanya satu dua orang saja yang membeli buku Teka-Teki Silang tersebut. Setelah itu disusul lagi dengan artis jalanan yang menjajakan suara emas mereka. Vokalis nya masih anak-anak namun suaranya cukup merdu. Alhasil, hampir semua penumpang bus pun mengulurkan tangannya berbagi rupiah pada kelompok penyanyi jalanan tersebut.

Tak terasa, bus sudah mendarat mulus di terminal kampung Rambutan. Bus yang memang tidak terlalu sesak dengan penumpang membuatku leluasa untuk keluar dari bus yang terasa panas. Aku sudah tidak harus bertanya lagi angkutan yang akan membawaku ke kost-kostan karena memang sudah hafal.

***

Irman rupanya telah lebih dulu  berada di kostan. Dia memang teman kostku yang rajin. Aku beruntung bisa satu kostan dengan dia, setidaknya kami sama-sama memiliki kepedulian terhadap tempat kami tinggal.

"Sudah lama tiba disini?" Aku menyimpan satu buah kardus di pojok kamar. Irman yang sedang membaca buku menoleh padaku.

"Saya sudah berada disini sejak kemarin. Banyak tugas yang harus diselesaikan." Terangnya.

"Oh..." Aku hanya ber-oh saja.

Begitulah kami, meski kami satu kamar namun sikap kami datar-datar saja. Pembicaraan kami sepertinya selalu serius sesekali bercandapun terasa hambar. Mungkin karena kami masih sama-sama kaku. Padahal Irman biasanya periang dan suka bercanda jika dengan teman-temannya. Aku pun demikian. Tapi, di kamar ini seolah candaan yang biasa kami lemparkan terasa hambar. Tapi aku selalu berusaha tetap nyaman tinggal disini dan Irman pun sepertinya demikian.

***

Kamis, 08 Oktober 2015

Sembilan

Jarak antara desaku dan desa sebelah tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, rasanya aku sudah seperti orang gila. Setiap kaca rumah yang aku lewati pasti selalu menyempatkan melihat tampilanku dari kaca. Aku tidak peduli walaupun orang yang berada di dalam rumah menertawakan tingkahku. Ah, mungkin memang benar, cinta bisa membuat orang menjadi gila.

Langkahku terhenti saat aku tepat berada di depan mesjid yang berhadapan dengan rumah pak kades--rumah Siti lebih tepatnya. Tiba-tiba saja aku menjadi ragu untuk meneruskan langkah. Mungkin karena belum terbiasa berkunjung ke rumah perempuan.

Tapi, entah kekuatan apa yang membuatku mampu melangkah sampai di depan pintu. Keringat dingin mulai keluar dari pori-poriku saat aku mengetuk pintu rumah. Setelah dua kali mengetuk pintu terdengar jawaban dari dalam rumah. Suara seorang perempuan namun dengan suara sedikit lebih berat yang aku taksir suara bu kades.

"Eh, ini siapa ya?" Tanya bu Kades merasa keheranan melihatku mematung di depan pintu.

Aku berusaha mengendalikan emosiku. Rupanya aku tidak di kenal di desa sebelah meskipun di desaku aku sangat terkenal.

"Saya Ilham bu dari desa sebelah."

"Oh, nak Ilham temannya Siti ya?"

Aku hanya mengangguk.

"Kalau nak Ilham ibu tahu. Siti sering cerita tentang nak Ilham. Mari masuk!" Ajaknya.

Deg,,, tiba-tiba saja hatiku bergetar tidak karuan. Sering cerita tentangku? Apa saja yang Siti ceritakan? Ah, pikiranku menjadi tidak karuan. Keringat dingin semakin membanjiri keningku. Pengalamn pertama yang mendebarkan.

"Sebentar ya, ibu panggil dulu Sitinya. Oh iya nak Ilham mau minum apa?"

"Tidak usah repot-repot bu!"

Bu Kades tidak menjawab. Dia segera meninggalkanku.

"Eh kak Ilham, sudah lama kak?"

Ah, suara itu. Aku yang sedang memperhatikan ke luar rumah pun dibuat kikuk dengan suara itu. Aku berusaha mengatur tempo nafasku agar tidak terlihat grogi.

"Baru saja." Jawabku sambil mencuri pandang pada wajahnya yang esdikit menunduk menyimpan segelas teh di meja.

Ternyata wajahnya masih sama persis seperti yang aku lihat terakhir kali di sekolah. Masih membuatku tidak bisa konsentrasi. Aku masih terus berusaha berbicara senormal mungkin meski terlihat di buat-buat.

Saat aku sudah menguasai diriku, obrolan pun berlangsung hangat. Bertukar kabar, bertukar pengalaman. Sesekali aku melihat rona merah di pipinya saat aku takbl sengaja mengucakan kata kangen padanya. Ah, pengalaman pertama yang menakjubkan.

"Sepertinya keinginanku untuk kuliah ditempat kakak kuliah harus di urungkan." Tiba-tiba saja wajahnya berubah murung.

Entah apa maksudnya. Mungkin karena impiannya juga sama sepertiku dapat menempuh pendidikan di kampus terbaik negeri ini. Atau karena alasan yang lain? Entah.

"Loh, kenapa memangnya?"

"Aku tidak lolos seleksinya Kak."

"Oh begitu. Tidak apa-apa dimana pun sama saja menuntut ilmu tidak ada bedanya." Aku berusaha membesarkan hatinya.

"Iya sih kak." Jawabannya hampir tidak terdengar.

"Terus rencananya mau meneruskan pendidikan dimana?"

"Rencananya di Cirebon."

"Dimanapun tempatnya harus tetap semangat dong!" Aku berusaha menghiburnya yang tiba-tiba terlihat murung.

Obrolan pun terus berlanjut sampai tidak terasa aku sudah kurang lebih satu jam setengah berada di rumahnya. Aku segera pamit padanya dan ibunya. Karena sebentar lagi adzan magrib.

***

Ini kali pertama aku berkunjung ke rumah gadis. Dan entah kenapa perasaanku seperti kegirangan tidak karuan. Aku tak kuasa lagi untuk tidak tersenyum sepanjang jalan. Orang-orang yang hendak ke mesjid pun keheranan melihat tingkahku yang tidak jauh dengan orang gila. Sepanjang jalan yang terbayang dalam ingatanku hanya rona merah di pipinya dan senyum malu-malu gadis itu. Ah, aku akan rindu untuk segera pulang kampung lagi nanti setelah aku berada di kota.

Aku memasuki rumahku dengan hati berbunga-bunga. Kedua orang tua dan adikku menatap aneh terhadapku. Aku pun menjadi malu sendiri.

"Kamu tidak apa-apa kan kak?" Tanya ibuku penuh selidik.

"Tidak, memangnya kenapa bu?" Jawabku sambil sedikit tersenyum.

Sementara kedua adikku sedang tertawa melihat tingkah polahku yang sedikit aneh.

"Ya sudah kalau tidak apa-apa lebih baik kamu mandi dulu lalu shalat magrib. Siapa tahu setelah itu kamu normal lagi." Terang bapakku sambil senyum-senyum tidak jelas menghentikan introgasi ibuku.

Meski masih bingung dengan sikap kedua orang tua dan adikku namun aku memutuskan mengikuti saran bapakku.

Setelah shalat, aku segera menuju ruang keluarga. Disana sudah ada kedua orang tua dan adikku. Dengan wajah yang sedikit aneh menatapku.

"Bener kak kamu tidak apa-apa?" Tanya ibuku lagi dengan pertanyaan yang sama.

"Tidak bu. Memangnya kenapa? Ada yang aneh dengan saya bu? Perasaan tidak ada yang hilang dariku." Aku meraba kepalaku,telinga, tanganku, menghitung jariku memastikan tidak ada yang berubah dariku.

Sontak saja aktivitasku membuat kedua orang tua dan adikku tertawa.

"Bukan itu maksud ibu. Bukannya tadi ibu nitip sama kamu untuk mengambilkan jahitan baju ibu di uwakmu?"

Astaga! Aku menepuk jidatku sekras-kerasnya.

Semua penghuni rumah kecilku tertawa lepas. Adikku yang paling pertama tertawanya paling lepas. Terlihat puas sekali menertawakan kakaknya yang tak berdaya. Aku sampai lupa untuk mengambil titipan ibu.

"Gara-gara perempuan sampai lupa segalanya." Kata bapakku di sela tawa yang masih saja meramaikan rumah kami. Di akhiri dengan tawa lepas.

"Iya nih kak, payah cuma gara-gara perempuan jadi lupa segalanya." Timpal adikku yang belum puas meledek dan mentertawakanku.

Aku hanya menggaruk kepalaku yang tak gatal. Menyadari keteledoranku yang konyol.

Ah, benar saja cinta membuat segalanya jadi aneh.

***

Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta cuka menjelma anggur segar
Karena cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Karena cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Karena cinta api yang berkobar-kobar Jadi cahaya yang menyenangkan
Karena cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Karena cinta batu yang keras menjadi lembut bagaikan mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat
Karena cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Karena cinta sakit jadi sihat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-ramahan

(Jalalludin Rummi : Karena Cinta)

***

Cahaya Yang Hilang (1 Bersama sebuah doa)

Wisuda adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh semua yang mengatasnamakan dirinya mahasiswa. Perjuangan menyelesaikan tugas akhir yang menguras tenaga pun seolah terbayar lunas manakala seorang mahasiswa memakai toga, memakai jubah kebesaran bak seorang pahlawan yang baru saja diberi gelar pahlawan nasional. Terlepas dari siapa dan apa yang ada di balik pengerjaan tugas akhir yang jelas tujuannya ialah mengenakan toga. Pidato-pidato ilmiah yang disampaikanpun tak terlalu penting. Karena yang terpenting ialah saat tali toga dipindahkan dari kiri ke kanan. Wajah-wajah sumringah para generasi muda harapan bangsa yang siap mengabdikan ilmunya nampak jelas menghiasi ruangan auditorium tempat berlangsungnya acara wisuda.

Kebahagiaan akan bertambah lengkap manakala nama kita disebut sebagai wisudawan terbaik. IP mu disebutkan di depan khalayak yang hadir memenuhi auditorium. Selain membuat bangga diri kita sudah barang tentu akan membuat bangga orang tua yang turut menyaksikan acara wisuda. Hal tersebut menjadi hadiah yang sangat indah bagi orang tua kita.

Irham Ramadhan.

Ya, nama itu menjadi wisudawan terbaik. Suara rektor membahana memanggil namanya untuk diwisuda terlebih dahulu.

Semua orang yang mengenalnya menoleh, melemparkan senyum kebanggaan.

Sebelum melangkah memenuhi panggilan rektor yang sudah berulang-ulang melalu mikropon yang bergaung menggetarkan auditorium, Irham memeluk erat kedua orang tuanya. Air mata keharuan mengalir tak bisa terbendung dari mata mereka.

"Selamat nak." Terdengar lirih kedua bibir kedua orang tuanya mengucapkan kata tersebut bahkan hampir tak terdengar.

Tepuk tangan riuh rendah membahana mengiringi langkah pemuda yang selalu menampilkan wajah optimis tersebut. Semua mata tertuju padanya. Seolah tersihir oleh pesonanya. Antara ketampanan dan kepintarannya. Irham seolah gambaran pemuda yang sempurna.

Hari ini adalah hari yang sempurna baginya. Senyum selalu menghias wajah tampannya.

Selanjutnya, satu per satu wisudawan dan wisudawati di panggil melalui pengeras suara membuat suasana auditorium tempat  berlangsungnya wisuda kian ramai.

"Selamat nak, ibu dan bapak bangga padamu. Kamu telah berhasil mengangkat derajat orang tuamu." Perempuan paruh baya yang tak lain ibunya Irham kembali memeluk anak bungsunya tersebut seolah tak ingin melepaskannya. Sementara, bapaknya lebih terlihat tenang walaupun sebenarnya dia juga tidak bisa menyembunyikan genangan di sudut matanya.

"Terimakasih bu, pak. Kalau bukan karena doa ibu dan bapak tidak mungkin Irham bisa mendapatkan ini semua."

Pelukan ibunya baru terlepas saat suasana di luar auditorium sudah semakin tidak karuan. Para wisudawan dan wisudawati memanfaatkan waktu yang ada untuk berfose di depan kamera bersama sanak famili yang mengantarnya wisuda. Senyum-senyum yang mengembang di bibir semakin memperjelas arti kebahagiaan mereka.

"Selamat Ham, aku sudah menduga bahwa kamu akan menjadi wisudawan terbaik. Dan kamu memang pantas mendapatkannya."

" Terimakasih Mam. Alhamdulillah."

"Sama-sama. Oh iya, sengaja aku menemuimu. Aku ingin mengajakmu berfoto bersama kawan-kawan satu kostan yang lain. Hitung-hitung sebagai kenang-kenangan."

Imam adalah salah satu teman kosan Irham selama menempuh pendidikan. Selain teman kostan, dia juga adalah sahabat yang paling dekat dengan Irham. Dia yang selalu mendukung dan memberi motivasi saat semangat Irham sedang turun. Keduanya sudah seperti saudara.

"Mana teman yang lain?"

"Mereka sudah menunggu disana." Imam menunjuk ke arah dimana teman-temannya telah menunggu dengan memakai toga. Nampak jelas dari kejauhan terlihat gagah.

Jumat, 18 September 2015

Serba Cepat

Baru saja satu jam Kosim memejamkan mata. Namun, dia harus segera terbangun. Rasa kagetnya belum sempat hilang. Terbangun dari tidur karena kaget sangat menyesakkan dada.

Pukulan tongkat petugas keamanan cukup mengagetkan Kosim yang baru terlelap. Ditambah pula rasa kesal karena petugas keamanan itu harus memukul tongkatnya untuk membangunkan tidur. Seraya mengumpulkan separuh nyawanya yang masih berkeliaran Kosim menyapukan pandangannya ke sekeliling. Dia baru menyadari bahwa para tunawisma dan anak-anak kecil yang tadi tidur tak jauh dari tempatnya telah tiada. Padahal waktu masih menunjuk ke angka empat bahkan masih kurang. Namun, para tunawisma itu telah terbangun. Atau mungkin dibangunkan dengan paksa lalu lari tunggang langgang.

Saat semua nyawanya sudah terkumpul, Kosim segera merapikan barang bawaannya menuju mushala untuk melaksanakan shalat subuh. Walau sebenarnya masih cukup lama menunggu. Jakarta memang selalu memulai paginya lebih cepat sedangkan menutup malamnya lebih lambat. Atau bahkan aktivitas sebagian warga Jakarta tidak pernah mati. Dua puluh empat jam yang ada selalu saja ada aktivitas. Mesin-mesin di pabrik pun tak pernah berhenti beroperasi. Begitupun dengan buruh-buruhnya. Target produksi yang tinggi membuat mesin-mesin di pabrik-pabrik itu dipaksa bekerja lebih keras. Para pekerja dituntut lebih keras lagi memeras keringat.

Semuanya harus serba cepat. Lengah sedikit maka kita tidak akan bisa makan. Begitulah hukum mencari penghidupan di Jakarta.

Setidaknya, itu jugalah yang terjadi di terminal. Padahal, pagi masih terlalu buta. Bahkan ayam-ayam kampungpun belum sempat membuka matanya. Pintu-pintu mushalapun belum ada yang di buka. Namun, terminal kampung Rambutan sudah mulai ramai. Orang-orang yang menenteng jinjingan kardus besar sudah banyak yang berlalu lalang. Bahkan sebenarnya sepanjang malam pun terminal ini tidak tidur. Selalu saja ada bus yang menaikan atau menurunkan penumpang hanya saja tidak terlalu ramai.

Kosim menghempaskan tubuhnya diteras mushala terminal. Pandangannya menyapu ke seluruh arah mata angin. Meski masih temaram namun masih bisa melihat kesibukan orang-orang. Satu dua angkot warna merah sudah hilir mudik keluar masuk terminal. Bus-bus juga melengkingkan klakson yang cukup memekakan telinga.

Hampir saja Kosim tertidur lagi di teras mesjid. Rasa lelah benar-benar menjalari sekujur tubuhnya. Tapi, suara orang mengaji mulai terdengar dari mushala. Rupanya pintu mushala sudah dibuka dari tadi.

Kosim melaksanakan kewajibannya sebagai umat beragama dengan khidmat.

***

Seiring dengan sinar mentari yang mulai menghangat nampak pula kesibukan di terminal yang semakin menjadi. Setelah mengisi perutnya yang leroncongan, Kosim segera melanjutkan pencarian alamat. Dia menanyakan ke beberapa orang yang sepertinya tahu alamat yang ditanyakan. Kebanyakan memang tidak tahu pasti alamat yang di tanyakan namun mereka memberitahu mobil mana saja yang mengarah kesana.

"Naik saja mobil itu!" Kata petugas keamanan menunjuk ke satu mobil yang sedang terparkir. "Nanti kasih tahu saja kernetnya. Setelah disana bisa menanyakan lagi kapada orang lain. Lagi pula alamat yang kamu bawa tidak lengkap. Akan sulit mencari alamat di Jakarta. Alamatnya lengkap saja masih sulit di cari di Jakarta apalagi jika kurang lengkap." Tambah petugas keamanan sambil berlalu.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan penjual gorengan semalam. Hanya saja Kosim masih optimis karena dia akan menghadapi siang hari. Setidaknya masih banyak orang yang bisa di tanyai di jalan.

Kosim segera menuju mobil yang akan membawanya ke alamat mang Sobari. Ternyata, berada di dalam angkutan umum di Jakarta tidak lebih nyaman dari bus yang ditumpanginya saat ke Jakarta.

***

Senin, 14 September 2015

3 Selamat Datang

Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dengan bus, akhirnya kosim telah sampai di salah satu terminal di bagian timur Jakarta. Dia terdampar di terminal kampung Rambutan.

Kosim baru tersadar bahwa perjalanan yang dia tempuh tidak sebentar. Delapan jam di perjalanan membuatnya sampai di terminal Kampung Rambutan saat langit telah gelap. Jam di mushala yang tak jauh dari tempat bus berhenti telah menunjuk angka delapan. Kesibukan memang masih melanda terminal namun itu tak cukup untuk menenangkan hatinya. Ini untuk kali pertama dia menginjak kaki di tanah Jakarta. Dia membaca secarik kertas yang berisi alamat mang Sobari. Disana tertulis sebuah alamat yang akan menjadi tujuannya. Namun, hati kecilnya pesimis bisa menemukan alamat tersebut. Apalagi keadaan akan semakin gelap dan terminal akan semakin sepi.

Segera saja dia menghampiri penjual gorengan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Wah, ini sih masih jauh dari sini. Kebayoran lama itu Jakarta Selatan sedangkan kamu berada di Jakarta Timur. Kamu baru ke Jakarta?" Terang penjual gorengan saat Kosim menanyakan alamat yang tertulis di sobekan kertas tersebut.

"Iya pak, saya baru datang dari kampung." Jawab Kosim jujur. Dia berusaha tetap bersikap sopan meakipun pada pedagang gorengan. Karena memang begitulah seharusnya.

"Apalagi jika kamu baru ke Jakrta. Akan sulit mencari alamat di malam hari. Siang hari saja belum tentu kita bisa dengan mudah menemukan alamat tersebut. Jakarta sangat rawan jika malam hari terutama bagi pendatang baru sepertimu. Lebih baik mencari alamatnya besok saja." Penjual gorengan tersebut memberi saran.

Ucapan penjual gorengan tersebut semakin membuat hati Kosim pesimis. Apalagi di alamat yang dia bawa tidak tertera Rt/Rwnya, hanya kelurahan saja.

Mungkin, benar kata penjual gorengan tersebut. Tidak mudak mudah mencari alamat di Jakarta pada malam hari. Kosim membatin.

Namun, keadaan tersebut semakin membuatnya bingung. Ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di Ibu Kota. Dia tidak memiliki kenalan siapapun yang bisa dimintainya tumpangan menginap untuk malam ini saja. Kegetiran dan kekhawatiran nampak jelas di wajah Kosim. Belum lagi badannya sudah terasa ngilu. Persendiannya seolah telah berpencar karena lelah. Dua buah kardus menambah beban tangannya. Keadaanya semakin menyedihkan karena perlahan malam kian larut dan terminal tak seramai tadi.

Disudut terminal yang lain nampak segerombolan pemuda dengan tampilan yang menyeramkan menenteng botol minuman keras. Disisi lain para tuanwisma sudah mulai menggelar kardus mereka untuk alas tidur. Sementara Kosim masih belum memutuskan akan menghabiskan malam dimana. Apakah dia juga akan berbaur dengan para tuanwisma yang sudah mulai terlelap diatas alas kardus?

Kosim menatap beberapa anak kecil yang juga tidur diatas kardus di pojok terminal. Kosim merinding melihat wajah anak-anak kecil dengan baju lusuh dan wajahnya yang lelah. Bayangan akan kehidupan manis Jakarta seolah pergi begitu saja menyaksikan pemandangan pertamanya saat menginjakkan kaki di Jakarta. Bukankah lapangan pekerjaan di Jakarta banyak?

Kosim lupa bahwa banyaknya lapangan pekerjaan di Jakarta tak sebanding dengan para pencari kerjanya.

Dia melangkahkan kakinya menuju sudut terminal tak jauh dari para tunawisma yang sudah terlelap. Kakinya sudah terlalu berat untuk diajak berjalan jauh. Dia sudah memutuskan untuk menghabiskan malam ini di sudut terminal. Sungguh sambutan yang tidak menyenangkan dari ibu kota atas kedatangannya.

***

Meski seluruh anggota tubuhnya telah meminta untuk diistirahatkan namun rupanya mata tak bisa di ajak kompromi. Ngantuk tak kunjung datang. Bau sampah dari sebuah selokan menyeruak ke rongga hidungnya. Semakin membuatnya tak nyaman. Hawa dingin yang mulai menggerayangi tubuhpun membuat mata tak mau terpejam. Dia bangkit dari pembaringannya lalu duduk termenung dalam remang-remang terminal.

Dia memandangi wajah dua orang anak kecil yang tertidur melingkar tak jauh dari tempat mengantri tiket. Mereka seolah bisa tidur terlelap tanpa merasakan terganggu dengan sekelilingnya. Penjaga keamanan masih lalu lalang disekitar terminal. Kosim mulai menyadari sepenuhnya dimana dia berada.

Aku sedang berada di kota yang paling kejam bahkan melebihi kejamnya ibu tiri. Aku sedang berada di tempat dimana orang-orang akan saling sikut dan melakukan apapun demi bertahan hidup. Aku sedang berada diantara orang-orang yang hampir menyerah pada kerasnya kehidupan metropolitan. Kosim membatin sedang matanya tak lepas memandang beberapa keluarga tunawisma yang harus tidur di pojokan terminal dengan karung yang berisi botol-botol plastik tak jauh dari mereka. Karung-karung itu menjadi alat mereka mencari kehidupan di Jakarta.

Sepanjang malam Kosim tak bisa memejamkan mata. Samar-samar dia mendengar suara orang-orang yang tertawa. Mungkin itu suara gerombolan yang tadi dilihat Kosim. Atau mungkin, itu suara lain yang sedang menertawakan Kosim.

Tiba-tiba saja bayangan kedua orang tua dan adiknya berkelebat dihadapannya. Juga gadis bermata bulat dengan rambut panjang tergurai menari-nari di pelupuk matanya. Soleha, ah kalau bukan karena ingin membuktikan keseriusan cinta pada gadis itu tentu Kosim malam ini sedang berada di rumah. Tidur di atas kasur dengan hangatnya lingkungan orang-orang terdekat.

Tapi, keputusan sudah di ambil. Risiko apapun akan dihadapinya.

Kosim baru bisa memejamkan matanya saat angka jam di tempat pembelian tiket menunjuk ke angka tiga.

Angin malam yang berhembus pelan seolah berbisik pada kosim.

Selamat datang...

***

Minggu, 13 September 2015

2. Tujuan

Matahari sudah mulai menampakkan diri. Bahkan cahayanya sudah sedikit menyengat saat Kosim tiba di terminal bus yang terletak di kota Kabupaten. Setelah melewati perjalanan yang melelahkan selama dua jam dari desa Mekar Sari, Kosim tiba di tempat dimana bus-bus berjajar rapi. Perjalanan dua jam dari desa Mekar Sari ke kota mungkin lebih melelahkan dibanding perjalanan dari kota Kabupaten ke Jakarta. Menaiki kendaraan bak terbuka dari desa Mekar Sari dapat membuat sendi-sendi terputus. Seperti kapal yang terombang-ambing ditengah lautan, begitulah sensasi menaiki mobil bak terbuka dari desa Mekar Sari. Jika tidak berpegangan maka bisa jadi akan terpelanting dari mobil karena memang kondisi jalan yang sangat hancur. Selain itu, penumpang mobil tersebut harus berdesak-desakkan dengan kambing-kambing yang hendak di jual ke pasar.

Kernet-kernet bus lalu lalang sambil berteriak menawarkan tumpangan.

"Ke Jakarta?" tanya sang kernet pada Kosim yang sedang celingak-celinguk mencari bus yang akan membawanya ke Jakarta.

Yang ditanya hanya mengangguk.

Dua buah kardus yang di jinjing Kosim pun langsung disambar kernet tersebut. Kosim mengikuti langkah kaki kernet yang terburu-buru. Setelah kernet memasukan barang bawaannya ke bagasi, Kosim segera naik ke dalam bus yang baru berisi beberapa penumpang saja. Dia menghempaskan tubuhnya di deretan kursi tengah. Sengaja dia memilih bangku tepat dipinggir dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.

Bus tak kunjung berangkat karena masih mencari penumpang lain.

Sementara pikiran Kosim masih berkecamuk tentang hal-hal yang tidak terlalu penting. Bayang-bayang keberhasilan dan kesuksesan merantau di Jakarta telah menari-nari dalam pikirannya. Dia tersenyum sendiri.

Kosim Kosiman, itulah nama lengkap yang diberikan kedua orang tuanya. Anak sepasang petani miskin dari udik yang telah memutuskan untuk mencari peruntungan di Jakarta. Prihal nama, bagi masyarakat desa seperti di Mekar Sari tidak terlalu menjadi masalah pelik. Kita bisa menebak kepanjangan dari nama seseorang. Nama belakang biasanya masih sama dengan nama depan. Seperti Kosim Kosiman, Yana Suryana, Dian Sudiana. Sederhana saja dalam pemberian nama.

Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya bus mulai merangkak perlahan menuju tempat tujuan. Bus ekonomi yang ditumpangi Kosim berjalan sangat perlahan. Sesekali berhenti untuk menaikan penumpang atau pedagang asongan. Bus yang sudah berumur tua itu mulai memancarkan hawa panas karena memang tidak ada pendingin udara yang dipasang di bus. Aroma pembakaran dibagian mesin mulai menyeruak menimbulkan bau yang tidak sedap dan menyebabkan perut mual.

Perlahan, bus mulai dipacu dengan kecepatan tinggi. Menyalip satu dua kendaraan yang ada dihadapannya. Dilihatnya pemandangan diluar jendela bus. Pohon-pohon, bangunan-bangunan, seolah sedang berlomba untuk mengejar bus yang ditumpangi kosim. Semuanya seolah bergerak mengikuti laju bus yang kian cepat.

Kosim menyaksikan pemandangan disetiap jalan yang dilewati bus. Namun, pikirannya tidak sedang berada di kursi bus tersebut. Pikirannya sedang berada di alam yang lain. Pikirannya sudah menerawang jauh membayangkan kehidupan di kota Jakarta. Namun, sesekali bayangannya terlontar kebelakang yang telah meneguhkan keinginannya untuk pergi merantau.

***

Malam minggu, seperti biasa selalu menjadi malam yang istimewa bagi kaula muda. Untuk sekedar nongkrong dipinggir jalan bersama kawan-kawan atau menyepi ditempat-tempat yang jauh dari keramaian bersama kekasih. Ritual malam minggu juga berlangsung di desa yang amat jauh dari hiruk pikuk kota, desa Mekar Sari. Setiap malam minggu, rumah-rumah gadis desa selalu ramai oleh pemuda yang berkunjung. Tentu, tujuannya untuk menarik simpati gadis pujaannya. Pemuda kampung bergerombol dengan kelompoknya masing-masing. Biasanya, satu kelompok pemuda terdiri dari tiga atau empat orang. Mereka akan bermain ke rumah gadis desa incarannya. Ini biasa dilakukan oleh pemuda desa yang memilih untuk hidup di kampung dengan segala keterbatasan pekerjaan dan kesempatan.

Kosim tidak pernah ketinggalan untuk ikut menyemarakan ritual malam minggu. Sejak dia duduk dibangku STM dia telah tertarik dengan salah seorang gadis yang menjadi incaran pemuda tanggung sepertinya. Gadis itu bernama Soleha. Gadis dengan kulit putih mulus, mata bola pingpong dan rambut panjang tergurai. Dia anak dari salah satu pejabat desa. Kosim dan Soleha telah menjalin hubungan sejak tiga bulan terakhir.

Hampir setiap malam minggu, Kosim selalu berada di rumah Soleha. Inilah kelebihan budaya desa yang sangat luhur. Meskipun pemuda pemudi telah saling mencintai namun mereka tidak pernah sengaja pacaran ditempat-tempat sepi seperti generasi muda di kota.  Apalagi di tempat-tempat hiburan, tidak pernah mereka jalan-jalan malam minggu di tempat hiburan. Selain karena mereka mengenal sopan santun dan adab sebagai sepasang kekasih yang belum sah dalam ikatan suci, alasan lainnya karena memang tidak ada tempat-tempat hiburan di desa terpencil seperti Mekar Sari. Jika seorang pemuda telah menjalin hubungan dengan seorang gadis, maka kabar itu akan segera menjadi buah bibir masyarakat desa. Itu mungkin kebiasaan buruk masyarakat desa yang lebih suka membicarakan hidup orang lain. Bahkan urusan sepele pun taknluput dari pembicaraan masyarakat desa. Baik itu di warunh- warung saat berbelanja, di sawah, di ladang atau di pos ronda. Kebiasaan masyarakat desa adalah mengomentari kehidupan orang lain. Sebenarnya bukan masyarakat desa saja yang seperti itu karena ternyata masyarakat perkotaan pun lebih parah lagi.

Soleha adalah gadis desa tulen yang tidak pernah dan bahkan tidak pernah tertarik untuk merantau ke kota sebagaimana yang di lakukan gadis seumurannya. Banyak kawan-kawannya yang merantau. Ada yang menjadi pengasuh bayi china, menjadi pembantu rumah tangga, penjaga toko atau yang memiliki ijazah SLTA bisa menjadi buruh di pabrik tekstil.

Malam itu, seperti biasanya Kosim berkunjung ke rumah Soleha untuk sekedar melepas rindu. Tentu pertemuan tersebut tidak hanya mereka berdua karena ayah Soleha selalu siaga dan ikut nimbrung dalam obrolan sepasang kekasih tersebut. Hal yang biasa dilakukan oleh seorang ayah yang memiliki anak gadis.

"Bagaimana dengan ternak-ternakmu Sim?" Tanya ayahnya Soleha untuk sekedar basa-basi kepada Kosim yang terlihat canggung karena telah kehabisan kata-kata dengan Soleha.

"Masih seperti dulu pak." Jawab Kosim sekenanya.

"Apa tidak pernah terpikir untuk merantau ke Jakarta seperti yang lain?" Tanya ayah Soleha lagi.

"Untuk saat ini belum ada niatan pak. Sementara ingin fokus dulu merawat kambing-kambing saya. Apalagi satu kambing sedang hamil."

Ayahnya Soleha hanya mengangguk-angguk. Sebenarnya Kosim sedikit risi jika setiap kunjungannya kerumah Soleha selalu ada ayahnya. Namun, Kosim faham bagaimana ayahnya Soleha. Bagaimanapun dia adala pejabat desa yang tidak ingin membiarkan anak gadisnya melakukan hal yang lebih jauh bersama Kosim. Karena jika hal tersebut terjadi maka nama baik ayahnya Soleha akan tercemar sebagai pejabat desa. Nama baik selalu menjadi prioritas utama bagi para pejabat negeri ini.

Malam mulai larut. Kosim segera undur diri dari rumah Soleha. Dia bersalaman dan berpamitan kepada ayahnya Soleha. Namun, ayahnya Soleha meminta Kosim untuk duduk sesaat. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Sementara Soleha seperti sudah mengerti segera undur diri masuk ke kamar.

"Sim, apakah kamu sudah serius dengan anak saya?" Ayahnya Soleha membuka perbincangan keduanya.

"Tentu serius pak." Jawab Kosim.

"Sejauh mana keseriusan kamu?"

Kosim diam sejenak. Dia tidak mengira akan ditanya seperti itu oleh ayahnya Soleha jadi belum sempat menyiapkan jawaban apapun.

"Maaf sebelumnya jika pertanyaanku membuatmu kaget. Aku hanya tidak ingin kamu menjadikan anak gadisku sebagai permainan saja. Jika memang kamu serius aku sangat bersyukur." Tambah ayahnya Soleha. Kosim belum berkata-kata lagi.

"Aku serius pak." Nada bicara Kosim sedikit menegang. Pertanyaan tersebut memang lebih sulit dari pertanyaan guru-gurunya waktu di sekolah.

"Aku percaya kamu tidak ingin mempermainkan anakku karena setahuku kamu adalah pemuda yang baik. Hanya saja, kamu sebagai seorang laki-laki harus segera memikirkan masa depanmu. Umurmu dan tentu umur Soleha akan beranjak dewasa. Tentu ada hal lain yang harus kalian pikirkan selain cinta dan perasaan. Karena hubungan yang sesungguhnya tidak bisa hanya dibangun dengan kata-kata cinta." Meski suaranya lembut namun kata-kata ayahnya Soleha mampu membuat nafas Kosim tercekat.

Kosim tidak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya menunduk mendengarkan.

"Apalagi, kamu sekarang hanya anak desa yang kesehariannya hanya menyabit rumput untuk kambing-kambingmu. Aku tidak merendahkan ppekerjaanmu. Karena apapun pekerjaannya, rezeki sudah ada yang mengatur. Hanya saja apakah kamu tidak ada keinginan untuk mencari peruntungan di kampung orang seperti kebanyakan pemuda disini. Apalagi kamu masih muda dan memiliki ijazah STM. Apakah kamu tidak kasihan pada orang tuamu yang telah rela menjual sawah satu-satunya demi sekolah kamu. Sementara ijazahnya kamu biarkan begitu saja di dalam lemari. Aku tidak bermaksud apapun pada dirimu. Karena anak gadisku juga tidak jauh berbeda. Dia hanya gadis kampung yang kesehariannya hanya menunggu warung kecil kami. Hanya saja, sekali lagi kamu adalah laki-laki yang kelak dipundakmu tugas mencari nafkah bagi istrimu itu akan tersemat. Sekali lagi pembicaraanku kali ini tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin berbagi ilmu hidup karena kebetulan aku lebih dahulu menjalani hidup di dunia ini." Semakin kesini, kata-kata ayahnya Soleha membuat bulu kuduk Kosim berdiri.

"Iya pak. Saya mengerti, dan terimakasih atas saran dan ilmunya." Suara Kosim hampir tak terdengar jelas. Pemuda yang gagah itu tiba-tiba menjadi tak berdaya di hadapan orang tua gadis incarannya.

Masyarakat desa selalu menganggap serius untuk masalah hubungan anak-anak gadisnya. Jika ada seorang pemuda yang mendekati anak gadisnya maka mereka akan menamyakan keseriusan pemuda tersebut. Sperti itulah yang terjadi pada Kosim.

Kosim juga menyadari hal itu. Namun, usianya yang baru menginjak dua puluhan belum sampai memikirkan sejauh mana hubungannya dengan Soleha akan berjalan. Yang dia rasakan ialah menikmati malam minggu dengan gadis cantik pujaannya. Tapi kali ini pertanyaan-pertanyaan itu seolah menampar kesadarannya. Apalagi ayahnya Soleha menyinggung perjuangan orang tuanya dalam membiayai sekolah.

Pikiran Kosim menjadi runyam. Bayang-bayang Soleha menari-nari di pelupuk matanya.

"Sebenarnya, baberapa hari yang lalu ada seorang pemuda yang juga tertarik dengan Soleha. Namun, aku tidak mengatakan apapun pada pemuda itu karena aku tahu anak gadisku telah dekat denganmu. Aku tidak ingin kamu kecewa. Untuk itulah aku malam ini menanyakan ini padamu agar aku percaya bahwa kamu sudah serius dengan anak gadisku." Perkataan ayahnya Soleha itu nyaris membuat jantung Kosim copot. Dugaannya benar, ada sesuatu dibalik pertanyaan ayahnya Soleha itu.

"Siapa pemuda itu pak?" Tanya Kosim dengan sedikit getir.

"Kamu tentu tahu orangnya. Pemuda itu si Deri."

Hampir saja Kosim melonjak kaget mendengar nama itu. Deri adalah sahabatnya. Meskipun usianya sedikit lebih tua dari Kosim. Bahkan Deri pulalah yang membantu agar hubungannya dengan Soleha dapat terjalin. Kenapa sekarang tiba-tiba dia juga tertarik dengan Soleha?

Semenjak lulus STM, Deri sudah pergi merantau. Memang beberapa minggu yang lalu dia pulang karena ada keperluan yang mendadak. Baru dua tahun dia merantau namun sudah mampu membeli sepeda motor dan beberapa petak sawah di kampung. Katanya, dia sudah bekerja di pabrik perakitan motor di kawasan industri Cikarang.

"Dia juga sudah menyatakan keseriusannya dengan anak gadisku. Namun, aku merasa tidak enak denganmu, Sim." Ayahnya Soleha seolah memahami keadaan hati Kosim.

"Aku juga serius dengan Soleha pak. Saya berjanji akan membuktikan keseriusanku." Janji Kosim.

***

Sebenarnya, itulah yang melandasi keputusan Kosim merantau. Alasan yang tidak pernah diceritakan pada orang tuannya.

Benar kata orang, karena cinta semuanya bisa berubah. Bahkan, saat pamit pada gadis pujaanya Kosim tidak mengatakan alasan tersebut. Dia hanya mengatakan tujuanya merantau hanya untuk mencari pengalaman dan peruntungan di tanah orang.

Meski berat, Soleha akhirnya menerima keputusan Kosim yang mendadak itu. Dia tidak bisa memaksa Kosim untuk tetap tinggal di kampung bersamanya karena memang di kampung tak menjanjikan kehidupan yang lebih baik pada hubungan cintanya.

Kosim tersadar dari lamunannya saat ada seorang pengamen jalanan yang menawarkan suara sumbangnya dengan sedikit rupiah.

Pemandangan diluar jendela masih sama. Pohon-pohon dan bangunan seolah mengikuti laju bus yang meraung-raung karena dipacu dengan kecepatan tinggi.

Seperti bus, jantungnya pun berpacu tqk kalah cepat. Ia ingin segera sampai di kota dan segera mendapatkan pekerjaan yang layak untuk membuktikan pada ayahnya Soleha bahwa dia tidak main-main dengan anak gadisnya. Gadis dengan mata indah dan bibir merah alami itu menari-nari di pelupuk matanya. Digenggamnya erat-erat kertas kecil bertuliskan alamat mang Sobari yang akan menjadi temapat tujuannya sementara.

Sesungging senyum menghias bibir Kosim. Membayangkan wajah Soleha cukup membuatnya bahagia dan bersemangat menjalani hidup selanjutnya di tanah orang.

***

Minggu, 06 September 2015

1 Merantau

Mentari masih malu-malu untuk menampakan dirinya menyapa mahluk bumi. Mungkin mentari pagi ini masih bermalas-malasan untuk mulai merangkak menikmati pemandangan kehidupan bumi. Buaian angin malam membuatnya terlelap hingga malas untuk terbangun. Sudah jam setengah enam namun belum terlihat tanda-tanda akan kemunculan mentari pagi yang akan menyiramkan cahaya hangatnya. Kokok ayam disubuh hari tidak membangunkan sang raja siang itu. Hanya awan hitam yang bergumul di langit beriringan seirama seolah sedang meninabobokan si raja siang agar tidak segera terbangun. Embun-embun masih bergelantungan di daun-daun. Rupanya embun pun masih enggan untuk menapakkan kakinya di atas bumi. Ia masih merajuk manja pada ujung daun.

Kampung yang dikelilingi bukit barisan itu seolah lenyap ditelan kabut yang merangsak turun menjalari setiap jengkal kampung. Suasana seperti ini adalah suasana yang paling dibenci oleh warga kampung. Karena dengan cuaca yang seperti ini maka kadar kemalasan pun bertambah beberapa kali lipat. Tak ada semangat. Hawa dingin membuai agar tidak ada aktivitas pagi ini.

Tapi, tidak dengan penghuni rumah yang berada tepat di ujung desa. Semuanya telah sibuk sejak subuh hari.

Ini adalah hari dimana anak sulungnya memutuskan untuk merantau. Seperti kebanyakan pemuda kampung lainnya, dia juga telah memutuskan untuk pergi mengadu nasib di kerasnya kehidupan Jakarta bersaing dengan perantau lain yang sama-sama mengadu nasib. Awalnya, memang tidak ada keinginan dalam diri Kosim untuk merantau. Dia ingin mencari penghidupan ditanah sendiri, ditanah tempat ari-arinya terkubur. Dia ingin dekat dengan kedua orang tua dan kedua adiknya.

Namun memang kenyataan tak seindah yang di harapkan. Keberuntungan yang diusahakan itu tak kunjung datang.  Dua tahun setelah kelulusannya dari sebuah sekolah kejuruan hanya di habiskan dengan menyabit rumput untuk tiga ekor kambingnya. Ijazah SMKnya hanya tersimpan rapi di lemari dari sejak dia menerimanya. Kini, dia telah memutuskan untuk menggunakan ijazah tersebut sebagai kartu keberuntungannya di Jakarta. Sebagai perantau.

Keinginannya untuk hidup di desa harus ditanggalkannya. Karena mimpinya untuk menjadi peternak sukses sulit terwujudkan. Modal menjadi kendala utamanya. Disisi lain sebagai seorang pemuda yang sedang beranjak dewasa Kosim juga merasa iri melihat teman-teman seperjuangannya dulu telah banyak yang berhasil di perantauan. Mereka kembali ke desa hanya setahun sekali saat idul Fitri dengan segala atribut yang menandakan bahwa mereka telah berhasil di perantauan. Sedangkan dia? Dia tetap saja begitu. Kesehariannya sibuk dengan menyabit rumput. Jangankan mampu membeli sepeda motor atau apapun kebutuhannya seperti teman-temannya di perantauan. Untuk sekedar makan saja kadang Kosim masih mengandalkan dari orang tuanya.

Sekarang, dia baru menyadari kalau ternyata kehidupannya tidak akan berubah jika hanya tinggal di kampung. Keinginan untuk menjadi peternak sukses harus ia singkirkan dulu karena keterbatasan modal.

Umpan manis yang dijanjikan ibu kota rupanya mampu memikat hati pemuda kampung tersebut. Kawan-kawannya yang baru saja pulang merantau dari Jakarta pada lebaran lalu banyak bercerita tentang enaknya hidup di ibu kota.

"Disana, asal kita mau, kita bisa bekerja apa saja. Asal kita siap bekerja keras semuanya akan jadi uang. Untuk sekedar kencing saja disana bisa menjadi ladang bisnis." Itulah sebagian yang dikatakan kawannya.

Mendengar rayuan seperti itu goyah juga hati dan pemikiran Kosim. Ditambah pula mimpinya untuk menjadi peternak yang sukses di kampung tak kunjung menampakkan hasil. Teori-teori yang dia pelajari di sekolah pun seolah tak bermanfaat jika tidak di tunjang dengan kemampuan ekonomi yang memadai. Menjadi peternak yang sukses membutuhkan modal yang tidak sedikit. Itu juga yang mendorong keinginannya untuk merantau.

Barangkali dengan merantau aku akan mampu mengumpulkan modal untuk memulai usaha di kampung. Begitulah pemikiran sederhananya.

Sebenarnya, masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan modal usaha. Salah satunya dengan meminjam uang di bank. Bukan tidak pernah dicoba oleh Kosim cara tersebut. Namun, meminjam uang di bank bukan perkara mudah. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya ialah jaminan.

Apa yang hendak dijadikan jaminan?

Harta satu-satunya yang dimiliki keluarga tersebut tinggal rumah yang mereka tempati. Satu-satunya sawah warisan kakek Kosim telah habis dijual untuk membiayai sekolah Kosim di STM. Apalagi Kosim hanyalah pemuda tanggung yang masih labil. Tidak mudah bagi pegawai bank meminjamkannuangnpada pemuda tanggung sepertinya. Kini, seolah telah menjadi syarat yang tidak tertulis bahwa Kosim harus mampu mengangkat ekonomi keluarganya dan bertanggung jawab akan pendidikan adik-adiknya. Sebagai anak sulung dan anak laki-laki satu-satunya.

Harapan untuk menjadi tuan di tempat ari-arinya terkubur pun harus disimpan rapat-rapat dalam sanubarinya. Karena sebentar lagi dia akan menjadi petarung di ibu kota sebagai perantau. Mimpi semua perantau pasti sama yakni mendapatkan keberhasilan di tanah rantau agar kelak bisa membanggakan tanah kelahirannya. Itu juga harapan Kosim.

***

Embun masih bergeliat lesu di ujung daun. Matahari pun masih belum terlihat tanda-tanda kemunculannya. Meski begitu, Kosim telah melangkahkan kakinya menuju lapangan balai desa tempat dimana mobil pikap yang biasa mengatar warga ke kabupten itu mangkal. Hanya ada tiga mobil pikap yang sedang menunggu penumpang.

Desa Mekar Sari sangat terpencil bahkan bisa dikatakan terisolir dari kehidupan kota. Jarak dari desa Mekar Sari ke kota bisa ditempuh dengan waktu dua jam menggunakan mobil bak terbuka. Perjalanan tersebut tidaklah mudah. Harus melewati hutan-hutan belantara ditambah pula dengan kontur jalan yang jauh dari kata layak. Mungkin, jalan tersebut hanya sekali-sekalinya di aspal. Karena sekarang jalan tersebut sudah seperti sungai. Batu-batu berukuran sedang tergeletak tanpa aspal yang kadang membuat mobil bak terbuka itu tergelincir atau keseleo. Belum lagi tanjakan dan turunannya yang curam sangat berbahaya. Jika sedang menanjak kadang mobil pengangkut warga tak mampu menanjak. Mobil tua tanpa atap itu sering tersengal meraung-raung karena tak kuat menanjak. Jika sedang turun sering membuat hati penumpang berdebar-debar karena takut kalau mobil tersebut tersungkur ke dalam jurang yang ada di pinggir-pinggir jalan tersebut. Singkatnya, desa mekar sari adalah desa yang terpencil atau udiknya udik.

Kebanyakan anak-anak disana tidak bersekolah tinggi karena memang tidak ada sekolah disana selain sekolah SD ditambah satu sekolah Tsanawiyah yang berada di pusat kecamata. Jika ingin sekolah lebih tinggi maka harus siap dengan biaya yang tidak sedikit. Itulah sebabnya untuk sekolah ke STM saja orang tua Kosim harus menjual sawah mereka satu-satunya. Sekolah STM berada dipusat kota kabupaten, jadi untuk sekolah disana harus ngkost. Tentu itu tidak lah mudah bagi warga kampung yang kesehariannya hanya bertani.

Jika ada yang mengatakan bahwa sekolah tidak terlalu penting maka warga desa mekar sari mungkin akan menjadi khalayak yang menyetujui pendapat tersebut.

Nasib desa terpencil memang tak jauh berbeda di pelosok manapun di negeri ini. Hanya saja pemerintah seolah tutup mata dan telinga untuk melihat dan mendengar kenyataan tersebut.

Kesejahteraan bagi seluruh rakyat indonesia itu hanya omong kosong bagi masyarakat terpencil. Janji manis pemerintah hanya menjadi dongeng indah sebelum tidur bagi masyarakat pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.

Maka, atas dasar itulah kebanyakan orang-orang kampung merantau. Pemuda-pemuda desa yang harusnya menjadi garda terdepan dalam pembangunan desa pun memilih untuk merantau karena di desa tak pernah menjajnjikan kehidupan yang lebih baik. Berbekal ijazah seadanya dan kemampuan yang seadanya pula mereka nekat memasuki lubang gua yang gelap bernama ibu kota. Didalam gua tersebut masih belum terlihat ada hewan apa saja yang menghuninya. Mereka semua nekat untuk berbaur dengan perantau lain menjadi bagian dari masalah kependudukan di ibu kota. Meski banyak yang hanya berakhir di kolong jembatan atau di bantaran sungai namun tak menyurutkan orang-orang udik seperti Kosim untuk mengurungkan niatnya merantau. Kabar burung tentang banyaknya lapangan pekerjaan di ibu kota rupanya lebih menarik untuk dipikirkan daripada memikirkan kemungkinan buruk yang akan menimpa.

Maka, dengan menjinjing dua kardus mie instan yang berisi perbekalan dan satu tas besar yang berisi pakaian Kosim memutuskan untuk mengikuti jejak pemuda kampung lainnya sebagai perantau. Diiringi tatapan menyedihkan dari kedua orang tua dan adik-adiknya Kosim melangkah menyusuri jalan tanah yang masih gerimis untuk pergi berjuang ditanah orang. Doa-doa orang terkasih senantiasa mengiringi langkahnya. Keputusannya untuk merantau tidak bisa di goyahkan lagi meskipun hawa dingin masih menyelimuti desa mekarsari.

Berbekal secarik kertas yang berisi alamat mang Sobari yang tak lain adalah tetangganya sendiri yang telah lebih dulu merantau ke jakarta sebagai pedagang Kosim menguatkan tekadnya. Statusnya akan segera berubah menjadi perantau.

***