Mentari masih malu-malu untuk menampakan dirinya menyapa mahluk bumi. Mungkin mentari pagi ini masih bermalas-malasan untuk mulai merangkak menikmati pemandangan kehidupan bumi. Buaian angin malam membuatnya terlelap hingga malas untuk terbangun. Sudah jam setengah enam namun belum terlihat tanda-tanda akan kemunculan mentari pagi yang akan menyiramkan cahaya hangatnya. Kokok ayam disubuh hari tidak membangunkan sang raja siang itu. Hanya awan hitam yang bergumul di langit beriringan seirama seolah sedang meninabobokan si raja siang agar tidak segera terbangun. Embun-embun masih bergelantungan di daun-daun. Rupanya embun pun masih enggan untuk menapakkan kakinya di atas bumi. Ia masih merajuk manja pada ujung daun.
Kampung yang dikelilingi bukit barisan itu seolah lenyap ditelan kabut yang merangsak turun menjalari setiap jengkal kampung. Suasana seperti ini adalah suasana yang paling dibenci oleh warga kampung. Karena dengan cuaca yang seperti ini maka kadar kemalasan pun bertambah beberapa kali lipat. Tak ada semangat. Hawa dingin membuai agar tidak ada aktivitas pagi ini.
Tapi, tidak dengan penghuni rumah yang berada tepat di ujung desa. Semuanya telah sibuk sejak subuh hari.
Ini adalah hari dimana anak sulungnya memutuskan untuk merantau. Seperti kebanyakan pemuda kampung lainnya, dia juga telah memutuskan untuk pergi mengadu nasib di kerasnya kehidupan Jakarta bersaing dengan perantau lain yang sama-sama mengadu nasib. Awalnya, memang tidak ada keinginan dalam diri Kosim untuk merantau. Dia ingin mencari penghidupan ditanah sendiri, ditanah tempat ari-arinya terkubur. Dia ingin dekat dengan kedua orang tua dan kedua adiknya.
Namun memang kenyataan tak seindah yang di harapkan. Keberuntungan yang diusahakan itu tak kunjung datang. Dua tahun setelah kelulusannya dari sebuah sekolah kejuruan hanya di habiskan dengan menyabit rumput untuk tiga ekor kambingnya. Ijazah SMKnya hanya tersimpan rapi di lemari dari sejak dia menerimanya. Kini, dia telah memutuskan untuk menggunakan ijazah tersebut sebagai kartu keberuntungannya di Jakarta. Sebagai perantau.
Keinginannya untuk hidup di desa harus ditanggalkannya. Karena mimpinya untuk menjadi peternak sukses sulit terwujudkan. Modal menjadi kendala utamanya. Disisi lain sebagai seorang pemuda yang sedang beranjak dewasa Kosim juga merasa iri melihat teman-teman seperjuangannya dulu telah banyak yang berhasil di perantauan. Mereka kembali ke desa hanya setahun sekali saat idul Fitri dengan segala atribut yang menandakan bahwa mereka telah berhasil di perantauan. Sedangkan dia? Dia tetap saja begitu. Kesehariannya sibuk dengan menyabit rumput. Jangankan mampu membeli sepeda motor atau apapun kebutuhannya seperti teman-temannya di perantauan. Untuk sekedar makan saja kadang Kosim masih mengandalkan dari orang tuanya.
Sekarang, dia baru menyadari kalau ternyata kehidupannya tidak akan berubah jika hanya tinggal di kampung. Keinginan untuk menjadi peternak sukses harus ia singkirkan dulu karena keterbatasan modal.
Umpan manis yang dijanjikan ibu kota rupanya mampu memikat hati pemuda kampung tersebut. Kawan-kawannya yang baru saja pulang merantau dari Jakarta pada lebaran lalu banyak bercerita tentang enaknya hidup di ibu kota.
"Disana, asal kita mau, kita bisa bekerja apa saja. Asal kita siap bekerja keras semuanya akan jadi uang. Untuk sekedar kencing saja disana bisa menjadi ladang bisnis." Itulah sebagian yang dikatakan kawannya.
Mendengar rayuan seperti itu goyah juga hati dan pemikiran Kosim. Ditambah pula mimpinya untuk menjadi peternak yang sukses di kampung tak kunjung menampakkan hasil. Teori-teori yang dia pelajari di sekolah pun seolah tak bermanfaat jika tidak di tunjang dengan kemampuan ekonomi yang memadai. Menjadi peternak yang sukses membutuhkan modal yang tidak sedikit. Itu juga yang mendorong keinginannya untuk merantau.
Barangkali dengan merantau aku akan mampu mengumpulkan modal untuk memulai usaha di kampung. Begitulah pemikiran sederhananya.
Sebenarnya, masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan modal usaha. Salah satunya dengan meminjam uang di bank. Bukan tidak pernah dicoba oleh Kosim cara tersebut. Namun, meminjam uang di bank bukan perkara mudah. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya ialah jaminan.
Apa yang hendak dijadikan jaminan?
Harta satu-satunya yang dimiliki keluarga tersebut tinggal rumah yang mereka tempati. Satu-satunya sawah warisan kakek Kosim telah habis dijual untuk membiayai sekolah Kosim di STM. Apalagi Kosim hanyalah pemuda tanggung yang masih labil. Tidak mudah bagi pegawai bank meminjamkannuangnpada pemuda tanggung sepertinya. Kini, seolah telah menjadi syarat yang tidak tertulis bahwa Kosim harus mampu mengangkat ekonomi keluarganya dan bertanggung jawab akan pendidikan adik-adiknya. Sebagai anak sulung dan anak laki-laki satu-satunya.
Harapan untuk menjadi tuan di tempat ari-arinya terkubur pun harus disimpan rapat-rapat dalam sanubarinya. Karena sebentar lagi dia akan menjadi petarung di ibu kota sebagai perantau. Mimpi semua perantau pasti sama yakni mendapatkan keberhasilan di tanah rantau agar kelak bisa membanggakan tanah kelahirannya. Itu juga harapan Kosim.
***
Embun masih bergeliat lesu di ujung daun. Matahari pun masih belum terlihat tanda-tanda kemunculannya. Meski begitu, Kosim telah melangkahkan kakinya menuju lapangan balai desa tempat dimana mobil pikap yang biasa mengatar warga ke kabupten itu mangkal. Hanya ada tiga mobil pikap yang sedang menunggu penumpang.
Desa Mekar Sari sangat terpencil bahkan bisa dikatakan terisolir dari kehidupan kota. Jarak dari desa Mekar Sari ke kota bisa ditempuh dengan waktu dua jam menggunakan mobil bak terbuka. Perjalanan tersebut tidaklah mudah. Harus melewati hutan-hutan belantara ditambah pula dengan kontur jalan yang jauh dari kata layak. Mungkin, jalan tersebut hanya sekali-sekalinya di aspal. Karena sekarang jalan tersebut sudah seperti sungai. Batu-batu berukuran sedang tergeletak tanpa aspal yang kadang membuat mobil bak terbuka itu tergelincir atau keseleo. Belum lagi tanjakan dan turunannya yang curam sangat berbahaya. Jika sedang menanjak kadang mobil pengangkut warga tak mampu menanjak. Mobil tua tanpa atap itu sering tersengal meraung-raung karena tak kuat menanjak. Jika sedang turun sering membuat hati penumpang berdebar-debar karena takut kalau mobil tersebut tersungkur ke dalam jurang yang ada di pinggir-pinggir jalan tersebut. Singkatnya, desa mekar sari adalah desa yang terpencil atau udiknya udik.
Kebanyakan anak-anak disana tidak bersekolah tinggi karena memang tidak ada sekolah disana selain sekolah SD ditambah satu sekolah Tsanawiyah yang berada di pusat kecamata. Jika ingin sekolah lebih tinggi maka harus siap dengan biaya yang tidak sedikit. Itulah sebabnya untuk sekolah ke STM saja orang tua Kosim harus menjual sawah mereka satu-satunya. Sekolah STM berada dipusat kota kabupaten, jadi untuk sekolah disana harus ngkost. Tentu itu tidak lah mudah bagi warga kampung yang kesehariannya hanya bertani.
Jika ada yang mengatakan bahwa sekolah tidak terlalu penting maka warga desa mekar sari mungkin akan menjadi khalayak yang menyetujui pendapat tersebut.
Nasib desa terpencil memang tak jauh berbeda di pelosok manapun di negeri ini. Hanya saja pemerintah seolah tutup mata dan telinga untuk melihat dan mendengar kenyataan tersebut.
Kesejahteraan bagi seluruh rakyat indonesia itu hanya omong kosong bagi masyarakat terpencil. Janji manis pemerintah hanya menjadi dongeng indah sebelum tidur bagi masyarakat pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.
Maka, atas dasar itulah kebanyakan orang-orang kampung merantau. Pemuda-pemuda desa yang harusnya menjadi garda terdepan dalam pembangunan desa pun memilih untuk merantau karena di desa tak pernah menjajnjikan kehidupan yang lebih baik. Berbekal ijazah seadanya dan kemampuan yang seadanya pula mereka nekat memasuki lubang gua yang gelap bernama ibu kota. Didalam gua tersebut masih belum terlihat ada hewan apa saja yang menghuninya. Mereka semua nekat untuk berbaur dengan perantau lain menjadi bagian dari masalah kependudukan di ibu kota. Meski banyak yang hanya berakhir di kolong jembatan atau di bantaran sungai namun tak menyurutkan orang-orang udik seperti Kosim untuk mengurungkan niatnya merantau. Kabar burung tentang banyaknya lapangan pekerjaan di ibu kota rupanya lebih menarik untuk dipikirkan daripada memikirkan kemungkinan buruk yang akan menimpa.
Maka, dengan menjinjing dua kardus mie instan yang berisi perbekalan dan satu tas besar yang berisi pakaian Kosim memutuskan untuk mengikuti jejak pemuda kampung lainnya sebagai perantau. Diiringi tatapan menyedihkan dari kedua orang tua dan adik-adiknya Kosim melangkah menyusuri jalan tanah yang masih gerimis untuk pergi berjuang ditanah orang. Doa-doa orang terkasih senantiasa mengiringi langkahnya. Keputusannya untuk merantau tidak bisa di goyahkan lagi meskipun hawa dingin masih menyelimuti desa mekarsari.
Berbekal secarik kertas yang berisi alamat mang Sobari yang tak lain adalah tetangganya sendiri yang telah lebih dulu merantau ke jakarta sebagai pedagang Kosim menguatkan tekadnya. Statusnya akan segera berubah menjadi perantau.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar