Senin, 14 September 2015

3 Selamat Datang

Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dengan bus, akhirnya kosim telah sampai di salah satu terminal di bagian timur Jakarta. Dia terdampar di terminal kampung Rambutan.

Kosim baru tersadar bahwa perjalanan yang dia tempuh tidak sebentar. Delapan jam di perjalanan membuatnya sampai di terminal Kampung Rambutan saat langit telah gelap. Jam di mushala yang tak jauh dari tempat bus berhenti telah menunjuk angka delapan. Kesibukan memang masih melanda terminal namun itu tak cukup untuk menenangkan hatinya. Ini untuk kali pertama dia menginjak kaki di tanah Jakarta. Dia membaca secarik kertas yang berisi alamat mang Sobari. Disana tertulis sebuah alamat yang akan menjadi tujuannya. Namun, hati kecilnya pesimis bisa menemukan alamat tersebut. Apalagi keadaan akan semakin gelap dan terminal akan semakin sepi.

Segera saja dia menghampiri penjual gorengan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Wah, ini sih masih jauh dari sini. Kebayoran lama itu Jakarta Selatan sedangkan kamu berada di Jakarta Timur. Kamu baru ke Jakarta?" Terang penjual gorengan saat Kosim menanyakan alamat yang tertulis di sobekan kertas tersebut.

"Iya pak, saya baru datang dari kampung." Jawab Kosim jujur. Dia berusaha tetap bersikap sopan meakipun pada pedagang gorengan. Karena memang begitulah seharusnya.

"Apalagi jika kamu baru ke Jakrta. Akan sulit mencari alamat di malam hari. Siang hari saja belum tentu kita bisa dengan mudah menemukan alamat tersebut. Jakarta sangat rawan jika malam hari terutama bagi pendatang baru sepertimu. Lebih baik mencari alamatnya besok saja." Penjual gorengan tersebut memberi saran.

Ucapan penjual gorengan tersebut semakin membuat hati Kosim pesimis. Apalagi di alamat yang dia bawa tidak tertera Rt/Rwnya, hanya kelurahan saja.

Mungkin, benar kata penjual gorengan tersebut. Tidak mudak mudah mencari alamat di Jakarta pada malam hari. Kosim membatin.

Namun, keadaan tersebut semakin membuatnya bingung. Ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di Ibu Kota. Dia tidak memiliki kenalan siapapun yang bisa dimintainya tumpangan menginap untuk malam ini saja. Kegetiran dan kekhawatiran nampak jelas di wajah Kosim. Belum lagi badannya sudah terasa ngilu. Persendiannya seolah telah berpencar karena lelah. Dua buah kardus menambah beban tangannya. Keadaanya semakin menyedihkan karena perlahan malam kian larut dan terminal tak seramai tadi.

Disudut terminal yang lain nampak segerombolan pemuda dengan tampilan yang menyeramkan menenteng botol minuman keras. Disisi lain para tuanwisma sudah mulai menggelar kardus mereka untuk alas tidur. Sementara Kosim masih belum memutuskan akan menghabiskan malam dimana. Apakah dia juga akan berbaur dengan para tuanwisma yang sudah mulai terlelap diatas alas kardus?

Kosim menatap beberapa anak kecil yang juga tidur diatas kardus di pojok terminal. Kosim merinding melihat wajah anak-anak kecil dengan baju lusuh dan wajahnya yang lelah. Bayangan akan kehidupan manis Jakarta seolah pergi begitu saja menyaksikan pemandangan pertamanya saat menginjakkan kaki di Jakarta. Bukankah lapangan pekerjaan di Jakarta banyak?

Kosim lupa bahwa banyaknya lapangan pekerjaan di Jakarta tak sebanding dengan para pencari kerjanya.

Dia melangkahkan kakinya menuju sudut terminal tak jauh dari para tunawisma yang sudah terlelap. Kakinya sudah terlalu berat untuk diajak berjalan jauh. Dia sudah memutuskan untuk menghabiskan malam ini di sudut terminal. Sungguh sambutan yang tidak menyenangkan dari ibu kota atas kedatangannya.

***

Meski seluruh anggota tubuhnya telah meminta untuk diistirahatkan namun rupanya mata tak bisa di ajak kompromi. Ngantuk tak kunjung datang. Bau sampah dari sebuah selokan menyeruak ke rongga hidungnya. Semakin membuatnya tak nyaman. Hawa dingin yang mulai menggerayangi tubuhpun membuat mata tak mau terpejam. Dia bangkit dari pembaringannya lalu duduk termenung dalam remang-remang terminal.

Dia memandangi wajah dua orang anak kecil yang tertidur melingkar tak jauh dari tempat mengantri tiket. Mereka seolah bisa tidur terlelap tanpa merasakan terganggu dengan sekelilingnya. Penjaga keamanan masih lalu lalang disekitar terminal. Kosim mulai menyadari sepenuhnya dimana dia berada.

Aku sedang berada di kota yang paling kejam bahkan melebihi kejamnya ibu tiri. Aku sedang berada di tempat dimana orang-orang akan saling sikut dan melakukan apapun demi bertahan hidup. Aku sedang berada diantara orang-orang yang hampir menyerah pada kerasnya kehidupan metropolitan. Kosim membatin sedang matanya tak lepas memandang beberapa keluarga tunawisma yang harus tidur di pojokan terminal dengan karung yang berisi botol-botol plastik tak jauh dari mereka. Karung-karung itu menjadi alat mereka mencari kehidupan di Jakarta.

Sepanjang malam Kosim tak bisa memejamkan mata. Samar-samar dia mendengar suara orang-orang yang tertawa. Mungkin itu suara gerombolan yang tadi dilihat Kosim. Atau mungkin, itu suara lain yang sedang menertawakan Kosim.

Tiba-tiba saja bayangan kedua orang tua dan adiknya berkelebat dihadapannya. Juga gadis bermata bulat dengan rambut panjang tergurai menari-nari di pelupuk matanya. Soleha, ah kalau bukan karena ingin membuktikan keseriusan cinta pada gadis itu tentu Kosim malam ini sedang berada di rumah. Tidur di atas kasur dengan hangatnya lingkungan orang-orang terdekat.

Tapi, keputusan sudah di ambil. Risiko apapun akan dihadapinya.

Kosim baru bisa memejamkan matanya saat angka jam di tempat pembelian tiket menunjuk ke angka tiga.

Angin malam yang berhembus pelan seolah berbisik pada kosim.

Selamat datang...

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar