Baru saja satu jam Kosim memejamkan mata. Namun, dia harus segera terbangun. Rasa kagetnya belum sempat hilang. Terbangun dari tidur karena kaget sangat menyesakkan dada.
Pukulan tongkat petugas keamanan cukup mengagetkan Kosim yang baru terlelap. Ditambah pula rasa kesal karena petugas keamanan itu harus memukul tongkatnya untuk membangunkan tidur. Seraya mengumpulkan separuh nyawanya yang masih berkeliaran Kosim menyapukan pandangannya ke sekeliling. Dia baru menyadari bahwa para tunawisma dan anak-anak kecil yang tadi tidur tak jauh dari tempatnya telah tiada. Padahal waktu masih menunjuk ke angka empat bahkan masih kurang. Namun, para tunawisma itu telah terbangun. Atau mungkin dibangunkan dengan paksa lalu lari tunggang langgang.
Saat semua nyawanya sudah terkumpul, Kosim segera merapikan barang bawaannya menuju mushala untuk melaksanakan shalat subuh. Walau sebenarnya masih cukup lama menunggu. Jakarta memang selalu memulai paginya lebih cepat sedangkan menutup malamnya lebih lambat. Atau bahkan aktivitas sebagian warga Jakarta tidak pernah mati. Dua puluh empat jam yang ada selalu saja ada aktivitas. Mesin-mesin di pabrik pun tak pernah berhenti beroperasi. Begitupun dengan buruh-buruhnya. Target produksi yang tinggi membuat mesin-mesin di pabrik-pabrik itu dipaksa bekerja lebih keras. Para pekerja dituntut lebih keras lagi memeras keringat.
Semuanya harus serba cepat. Lengah sedikit maka kita tidak akan bisa makan. Begitulah hukum mencari penghidupan di Jakarta.
Setidaknya, itu jugalah yang terjadi di terminal. Padahal, pagi masih terlalu buta. Bahkan ayam-ayam kampungpun belum sempat membuka matanya. Pintu-pintu mushalapun belum ada yang di buka. Namun, terminal kampung Rambutan sudah mulai ramai. Orang-orang yang menenteng jinjingan kardus besar sudah banyak yang berlalu lalang. Bahkan sebenarnya sepanjang malam pun terminal ini tidak tidur. Selalu saja ada bus yang menaikan atau menurunkan penumpang hanya saja tidak terlalu ramai.
Kosim menghempaskan tubuhnya diteras mushala terminal. Pandangannya menyapu ke seluruh arah mata angin. Meski masih temaram namun masih bisa melihat kesibukan orang-orang. Satu dua angkot warna merah sudah hilir mudik keluar masuk terminal. Bus-bus juga melengkingkan klakson yang cukup memekakan telinga.
Hampir saja Kosim tertidur lagi di teras mesjid. Rasa lelah benar-benar menjalari sekujur tubuhnya. Tapi, suara orang mengaji mulai terdengar dari mushala. Rupanya pintu mushala sudah dibuka dari tadi.
Kosim melaksanakan kewajibannya sebagai umat beragama dengan khidmat.
***
Seiring dengan sinar mentari yang mulai menghangat nampak pula kesibukan di terminal yang semakin menjadi. Setelah mengisi perutnya yang leroncongan, Kosim segera melanjutkan pencarian alamat. Dia menanyakan ke beberapa orang yang sepertinya tahu alamat yang ditanyakan. Kebanyakan memang tidak tahu pasti alamat yang di tanyakan namun mereka memberitahu mobil mana saja yang mengarah kesana.
"Naik saja mobil itu!" Kata petugas keamanan menunjuk ke satu mobil yang sedang terparkir. "Nanti kasih tahu saja kernetnya. Setelah disana bisa menanyakan lagi kapada orang lain. Lagi pula alamat yang kamu bawa tidak lengkap. Akan sulit mencari alamat di Jakarta. Alamatnya lengkap saja masih sulit di cari di Jakarta apalagi jika kurang lengkap." Tambah petugas keamanan sambil berlalu.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan penjual gorengan semalam. Hanya saja Kosim masih optimis karena dia akan menghadapi siang hari. Setidaknya masih banyak orang yang bisa di tanyai di jalan.
Kosim segera menuju mobil yang akan membawanya ke alamat mang Sobari. Ternyata, berada di dalam angkutan umum di Jakarta tidak lebih nyaman dari bus yang ditumpanginya saat ke Jakarta.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar