Rasanya, baru kemarin aku menginjakkan kaki di tempat yang tak pernah aku bayangkan.
Hari ini, untuk pertama kalinya aku pulang ke kampung halaman. Seperti saat pertama aku datang kesini. Aku memilih naik bis yang berada di terminal Kampung Rambutan.
Bis melaju tanpa hambatan. Setelah melewati perjalanan kurang lebih delapan jam akhirnya aku telah sampai di satu-satunya terminal bis yang ada di kotaku. Segera saja aku bergegas mencari mobil bak terbuka yang akan mengantarkanku ke desa.
Ah, kembali merasakan naik mobil bak terbuka adalah salah satu yang paling kurindukan dari tanah kelahiranku. Tidak ada yang menggunakan transfortasi seperti ini di kota. Biasanya, bak terbuka hanya digunakan untuk mengangkut hewan ternak atau sayuran. Tak ada berubah dari jalan menuju desaku. Masih seperti dulu, jalan tanah dengan sedikit batu sisa pengaspalan yang telah mengelupas beberapa tahun lalu.
Dari jauh aku melihat kedua orang tuaku sedang bercengkrama di teras rumah. Sepertinya, kedatanganku memang sudah ditunggu-tunggu.
Setelah mengucapkan salam dan mencium tangan mereka aku segera masuk kedalam rumah merebahkan tubuhku di kursi. Perjalanan dari Depok ke kampung cukup menguras tenaga.
Rupanya, kedua orang tuaku tidak hanya menungguku melainkan mereka juga telah menyiapkan makanan kesukaanku. Bagi mereka, meskipun aku telah beranjak dewasa namun tetap saja bagi mereka aku adalah anaknya. Meskipun aku anak sulung, tapi kedua orang tuaku tidak pernah membedakan anak sulung atau anak bungsu. Bagi kedua orang tuaku, semuanya sama. Hanya saja, hari ini aku sedikit merasa risih karena sikap orang tuaku yang berlebihan. Mereka memanjakanku seperti pada anak kecil. Mungkin, ini adalah cara orang tua untuk melampiaskan kerinduannya pada anak. Sejak aku menginjakkan kaki di rumah entah sudah berapa kali ibu menyuruhku makan. Sampai aku sendiri sudah tidak bisa menolak lagi.
Kedua orang tuaku memang istimewa. Meskipun kami tidak terlalu berlebih dalam materi, setidaknya kami anak-anaknya tidak pernah kekurangan kasih sayang. Dan aku baru menyadari pentingnya kasih sayang dan kepedulian orang tua setelah aku mengenal beberapa sahabatku yang kekurangan kasih sayang orang tua karena orang tuanya sibuk dengan pekerjaan.
***
Sudah hampir seminggu aku berada di kampung. Aku sebenarnya bukan tipe orang yang senang nongkrong seperti kebanyakan teman-temanku. Praktis seminggu berlalu aku habiskan waktu di rumah bersama orang tua dam kedua adik perempuanku. Sesekali aku ikut bapak ke sawah. Sisanya hanya mengurung diri di kamar ditemani beberapa buah buku yang menjadi koleksiku. Sebenarnya, ada beberapa sahabat yang ingin aku kunjungi namun aku meragukan mereka ada di rumah karena setahuku mereka merantau setelah lulus sekolah. Ada satu hal yang mengganjal dalam hatiku untuk kepulangan kali ini. Ada seseorang gadis yang sangat ingin aku temui namun aku sedikit ragu. Karena aku belum terbiasa berkunjung ke rumah gadis. Di kampung aku dikenal sebagai pemuda yang pendiam,kalem dan tidak banyak tingkah. Aku jarang ikut kumpul di tongkrongan sebagaimana kebanyakan pemuda kampung. Paling juga ikut kumpul karang taruna. Lebih singkatnya aku anak rumah. Ku urungkan niat untuk mengunjungi gadis itu.
"Tumben kamu gak main ke rumah teman-temanmu kak?" Tanya ibu. Beliau memang sering memanggilku dengan sebutan kaka jika dihadapan adik-adikku. Untuk melatih adik-adikku agar memanggil kakak terhadapku.
"Teman dekat yang biasa dikunjungi juga sudah pada merantau bu."
"Terus kamu gak main ke tetangga sebelah?"
"Kan tadi baru saja pulang bu dari tetangga." Walau aku merasa sedikit aneh dengan pertanyaan ibu aku berusaha tetap menjawab karena sebenarnya ibu juga tahu kalau aku baru saja pulang dari tetangga.
"Maksud ibu, ke tetangga desa sebelah." Terang ibuku sambil senyum-senyum sendiri.
Ah aku dibuat kikuk dengan pernyataan ibuku. Aku sudah tahu maksudnya. Pasti yang dimaksud tetangga desa sebelah adalah Siti. Ah, gadis itu. Sebenarnya itu masuk dalam rencanaku hanya saja aku tidak berani sengaja berkunjung kerumahnya. Apalagi dia anak kepala desa sebelah. Bisa jadi bahan gosip dua desa kalau aku ketahuan main ke rumah Siti.
"Eh,, anu bu..." Aku menimbang jawaban yang tepat. "Rencananya besok bu." Jawabku mantap.
"Kenapa harus besok?"
"Tidak apa-apa sih bu." Aku kehilangan jawaban dan alhasil hanya cengengesan.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang saja mumpung tidak hujan lagi pula ini malam minggu. Sekalian ibu mau nitip ambilkan baju jahitan ibu di uwakmu!"
Ah, malam minggu? Sampai seumuran sekarang pun aku belum pernah merasakan seperti apa malam minggu yang sesungguhnya. Aku merasa malu dengan ibuku. Alhasil, aku menuruti saran ibuku.
Aku yang sebenarnya kurang suka berdandan pun seolah berubah sebaliknya. Lihatlah! Kini, sisiran rambutku nampak mengkilap dengan olesan minyak rambut padahal biasanya aku tak terlalu suka memakai minyak rambut karena sering membuat mual jika di siang hari. Pakaianku pun tak seperti biasanya. Meski tak biasa memakai celana jeans, untuk hari ini aku mengenakan celana jeans satu-satunya yang ada di lemari. Dan kemajaku? Ah, ibu rupanya telah menyiapkan semuanya. Kemejaku telah di setrikanya sampai perlente.
Aku kembali memperhatikan wajahku di cermin. Rasanya tidak yakin melihat penampilanku di cermin. Penampilanku benar-benar berbeda. Sampai-sampai aku merasa sedikit ragu untuk keluar kamar.
"Waduh,,, mau konser dimana kak?" Tanya adikku yang pertama saat aku keluar dari kamar. Dia memperhatikan tampilanku dari atas sampai ke bawah sambil senyum-senyum nggak jelas.
Ibuku juga yang sedang duduk dekat adikku tak kalah membuatku malu karena dia juga tak kuasa menahan tawanya meski tetap berusaha di tahan apalagi mendengar komentar adikku yang sedikit membuatku malu.
"Huss,,, kakakmu mau ke rumah pak kades jadi harus rapi." Terang ibu pada adikku.
"Ketemu pak kades atau ketemu kak Siti?" Tanya adikku sedikit meledek.
Aku sedikit sebal dengan adikku yang terus meledek hingga membuatku mati kutu dihadapan ibu.
"Kak Siti selalu titip salam loh kalau ketemu. Pasti sekarang dia bakal kelepek-kelepek lihat kakak tampilannya seperti ini." Tambah adikku yang semakin membuatku sebal. Aku segera mencubit hidung adikku dengan gemas sampai dia meronta minta dilepaskan.
"Sudah...sudah...lebih baik cepat berangkat nanti keburu sore!" Ibuku berusaha menengahi. Tepatnya menghentikan ledekkan adikku.
Aku segera pergi meninggalkan adikku yang masih cengengesan.
***
Bahasa cinta adalah bahasa kejujuran
Semakin kita berusaha berbohong terhadap hati
Maka, semakin keras upaya hati
Untuk mengungkapkan kejujuran
Perkara hati,
Tak perlu disembunyikan
Sebab, kita tak mungkin menolak anugerah
Yang telah Tuhan anugerahkan
Dan anugerah itu bernama Cinta.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar