Wisuda adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh semua yang mengatasnamakan dirinya mahasiswa. Perjuangan menyelesaikan tugas akhir yang menguras tenaga pun seolah terbayar lunas manakala seorang mahasiswa memakai toga, memakai jubah kebesaran bak seorang pahlawan yang baru saja diberi gelar pahlawan nasional. Terlepas dari siapa dan apa yang ada di balik pengerjaan tugas akhir yang jelas tujuannya ialah mengenakan toga. Pidato-pidato ilmiah yang disampaikanpun tak terlalu penting. Karena yang terpenting ialah saat tali toga dipindahkan dari kiri ke kanan. Wajah-wajah sumringah para generasi muda harapan bangsa yang siap mengabdikan ilmunya nampak jelas menghiasi ruangan auditorium tempat berlangsungnya acara wisuda.
Kebahagiaan akan bertambah lengkap manakala nama kita disebut sebagai wisudawan terbaik. IP mu disebutkan di depan khalayak yang hadir memenuhi auditorium. Selain membuat bangga diri kita sudah barang tentu akan membuat bangga orang tua yang turut menyaksikan acara wisuda. Hal tersebut menjadi hadiah yang sangat indah bagi orang tua kita.
Irham Ramadhan.
Ya, nama itu menjadi wisudawan terbaik. Suara rektor membahana memanggil namanya untuk diwisuda terlebih dahulu.
Semua orang yang mengenalnya menoleh, melemparkan senyum kebanggaan.
Sebelum melangkah memenuhi panggilan rektor yang sudah berulang-ulang melalu mikropon yang bergaung menggetarkan auditorium, Irham memeluk erat kedua orang tuanya. Air mata keharuan mengalir tak bisa terbendung dari mata mereka.
"Selamat nak." Terdengar lirih kedua bibir kedua orang tuanya mengucapkan kata tersebut bahkan hampir tak terdengar.
Tepuk tangan riuh rendah membahana mengiringi langkah pemuda yang selalu menampilkan wajah optimis tersebut. Semua mata tertuju padanya. Seolah tersihir oleh pesonanya. Antara ketampanan dan kepintarannya. Irham seolah gambaran pemuda yang sempurna.
Hari ini adalah hari yang sempurna baginya. Senyum selalu menghias wajah tampannya.
Selanjutnya, satu per satu wisudawan dan wisudawati di panggil melalui pengeras suara membuat suasana auditorium tempat berlangsungnya wisuda kian ramai.
"Selamat nak, ibu dan bapak bangga padamu. Kamu telah berhasil mengangkat derajat orang tuamu." Perempuan paruh baya yang tak lain ibunya Irham kembali memeluk anak bungsunya tersebut seolah tak ingin melepaskannya. Sementara, bapaknya lebih terlihat tenang walaupun sebenarnya dia juga tidak bisa menyembunyikan genangan di sudut matanya.
"Terimakasih bu, pak. Kalau bukan karena doa ibu dan bapak tidak mungkin Irham bisa mendapatkan ini semua."
Pelukan ibunya baru terlepas saat suasana di luar auditorium sudah semakin tidak karuan. Para wisudawan dan wisudawati memanfaatkan waktu yang ada untuk berfose di depan kamera bersama sanak famili yang mengantarnya wisuda. Senyum-senyum yang mengembang di bibir semakin memperjelas arti kebahagiaan mereka.
"Selamat Ham, aku sudah menduga bahwa kamu akan menjadi wisudawan terbaik. Dan kamu memang pantas mendapatkannya."
" Terimakasih Mam. Alhamdulillah."
"Sama-sama. Oh iya, sengaja aku menemuimu. Aku ingin mengajakmu berfoto bersama kawan-kawan satu kostan yang lain. Hitung-hitung sebagai kenang-kenangan."
Imam adalah salah satu teman kosan Irham selama menempuh pendidikan. Selain teman kostan, dia juga adalah sahabat yang paling dekat dengan Irham. Dia yang selalu mendukung dan memberi motivasi saat semangat Irham sedang turun. Keduanya sudah seperti saudara.
"Mana teman yang lain?"
"Mereka sudah menunggu disana." Imam menunjuk ke arah dimana teman-temannya telah menunggu dengan memakai toga. Nampak jelas dari kejauhan terlihat gagah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar