Jarak antara desaku dan desa sebelah tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, rasanya aku sudah seperti orang gila. Setiap kaca rumah yang aku lewati pasti selalu menyempatkan melihat tampilanku dari kaca. Aku tidak peduli walaupun orang yang berada di dalam rumah menertawakan tingkahku. Ah, mungkin memang benar, cinta bisa membuat orang menjadi gila.
Langkahku terhenti saat aku tepat berada di depan mesjid yang berhadapan dengan rumah pak kades--rumah Siti lebih tepatnya. Tiba-tiba saja aku menjadi ragu untuk meneruskan langkah. Mungkin karena belum terbiasa berkunjung ke rumah perempuan.
Tapi, entah kekuatan apa yang membuatku mampu melangkah sampai di depan pintu. Keringat dingin mulai keluar dari pori-poriku saat aku mengetuk pintu rumah. Setelah dua kali mengetuk pintu terdengar jawaban dari dalam rumah. Suara seorang perempuan namun dengan suara sedikit lebih berat yang aku taksir suara bu kades.
"Eh, ini siapa ya?" Tanya bu Kades merasa keheranan melihatku mematung di depan pintu.
Aku berusaha mengendalikan emosiku. Rupanya aku tidak di kenal di desa sebelah meskipun di desaku aku sangat terkenal.
"Saya Ilham bu dari desa sebelah."
"Oh, nak Ilham temannya Siti ya?"
Aku hanya mengangguk.
"Kalau nak Ilham ibu tahu. Siti sering cerita tentang nak Ilham. Mari masuk!" Ajaknya.
Deg,,, tiba-tiba saja hatiku bergetar tidak karuan. Sering cerita tentangku? Apa saja yang Siti ceritakan? Ah, pikiranku menjadi tidak karuan. Keringat dingin semakin membanjiri keningku. Pengalamn pertama yang mendebarkan.
"Sebentar ya, ibu panggil dulu Sitinya. Oh iya nak Ilham mau minum apa?"
"Tidak usah repot-repot bu!"
Bu Kades tidak menjawab. Dia segera meninggalkanku.
"Eh kak Ilham, sudah lama kak?"
Ah, suara itu. Aku yang sedang memperhatikan ke luar rumah pun dibuat kikuk dengan suara itu. Aku berusaha mengatur tempo nafasku agar tidak terlihat grogi.
"Baru saja." Jawabku sambil mencuri pandang pada wajahnya yang esdikit menunduk menyimpan segelas teh di meja.
Ternyata wajahnya masih sama persis seperti yang aku lihat terakhir kali di sekolah. Masih membuatku tidak bisa konsentrasi. Aku masih terus berusaha berbicara senormal mungkin meski terlihat di buat-buat.
Saat aku sudah menguasai diriku, obrolan pun berlangsung hangat. Bertukar kabar, bertukar pengalaman. Sesekali aku melihat rona merah di pipinya saat aku takbl sengaja mengucakan kata kangen padanya. Ah, pengalaman pertama yang menakjubkan.
"Sepertinya keinginanku untuk kuliah ditempat kakak kuliah harus di urungkan." Tiba-tiba saja wajahnya berubah murung.
Entah apa maksudnya. Mungkin karena impiannya juga sama sepertiku dapat menempuh pendidikan di kampus terbaik negeri ini. Atau karena alasan yang lain? Entah.
"Loh, kenapa memangnya?"
"Aku tidak lolos seleksinya Kak."
"Oh begitu. Tidak apa-apa dimana pun sama saja menuntut ilmu tidak ada bedanya." Aku berusaha membesarkan hatinya.
"Iya sih kak." Jawabannya hampir tidak terdengar.
"Terus rencananya mau meneruskan pendidikan dimana?"
"Rencananya di Cirebon."
"Dimanapun tempatnya harus tetap semangat dong!" Aku berusaha menghiburnya yang tiba-tiba terlihat murung.
Obrolan pun terus berlanjut sampai tidak terasa aku sudah kurang lebih satu jam setengah berada di rumahnya. Aku segera pamit padanya dan ibunya. Karena sebentar lagi adzan magrib.
***
Ini kali pertama aku berkunjung ke rumah gadis. Dan entah kenapa perasaanku seperti kegirangan tidak karuan. Aku tak kuasa lagi untuk tidak tersenyum sepanjang jalan. Orang-orang yang hendak ke mesjid pun keheranan melihat tingkahku yang tidak jauh dengan orang gila. Sepanjang jalan yang terbayang dalam ingatanku hanya rona merah di pipinya dan senyum malu-malu gadis itu. Ah, aku akan rindu untuk segera pulang kampung lagi nanti setelah aku berada di kota.
Aku memasuki rumahku dengan hati berbunga-bunga. Kedua orang tua dan adikku menatap aneh terhadapku. Aku pun menjadi malu sendiri.
"Kamu tidak apa-apa kan kak?" Tanya ibuku penuh selidik.
"Tidak, memangnya kenapa bu?" Jawabku sambil sedikit tersenyum.
Sementara kedua adikku sedang tertawa melihat tingkah polahku yang sedikit aneh.
"Ya sudah kalau tidak apa-apa lebih baik kamu mandi dulu lalu shalat magrib. Siapa tahu setelah itu kamu normal lagi." Terang bapakku sambil senyum-senyum tidak jelas menghentikan introgasi ibuku.
Meski masih bingung dengan sikap kedua orang tua dan adikku namun aku memutuskan mengikuti saran bapakku.
Setelah shalat, aku segera menuju ruang keluarga. Disana sudah ada kedua orang tua dan adikku. Dengan wajah yang sedikit aneh menatapku.
"Bener kak kamu tidak apa-apa?" Tanya ibuku lagi dengan pertanyaan yang sama.
"Tidak bu. Memangnya kenapa? Ada yang aneh dengan saya bu? Perasaan tidak ada yang hilang dariku." Aku meraba kepalaku,telinga, tanganku, menghitung jariku memastikan tidak ada yang berubah dariku.
Sontak saja aktivitasku membuat kedua orang tua dan adikku tertawa.
"Bukan itu maksud ibu. Bukannya tadi ibu nitip sama kamu untuk mengambilkan jahitan baju ibu di uwakmu?"
Astaga! Aku menepuk jidatku sekras-kerasnya.
Semua penghuni rumah kecilku tertawa lepas. Adikku yang paling pertama tertawanya paling lepas. Terlihat puas sekali menertawakan kakaknya yang tak berdaya. Aku sampai lupa untuk mengambil titipan ibu.
"Gara-gara perempuan sampai lupa segalanya." Kata bapakku di sela tawa yang masih saja meramaikan rumah kami. Di akhiri dengan tawa lepas.
"Iya nih kak, payah cuma gara-gara perempuan jadi lupa segalanya." Timpal adikku yang belum puas meledek dan mentertawakanku.
Aku hanya menggaruk kepalaku yang tak gatal. Menyadari keteledoranku yang konyol.
Ah, benar saja cinta membuat segalanya jadi aneh.
***
Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta cuka menjelma anggur segar
Karena cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Karena cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Karena cinta api yang berkobar-kobar Jadi cahaya yang menyenangkan
Karena cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Karena cinta batu yang keras menjadi lembut bagaikan mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat
Karena cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Karena cinta sakit jadi sihat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-ramahan
(Jalalludin Rummi : Karena Cinta)
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar