Bus sudah melaju dengan kecepatan sangat tinggi karena memang saat itu jalanan pantura sangat lengang. Beberapa penumpang banyak yang terlelap tidak peduli dengan supir bus yang ugal-ugalan. Ah, kondisi tersebut membuatku tak bisa memejamkan mata. Seperti biasa, aku memilih menikmati pemandangan sepanjang jalan pantura. Sesekali menuliskan sesuatu pada jendela bus yang berembun akibat hembusan nafasku yang terlalu dekat dengan kaca.
Liburan telah berakhir. Saatnya menuju medan jihad, meneruskan perjuangan menuntut ilmu. Namun, beberapa kenangan saat liburan masih terus membayangiku. Apalagi hal-hal konyol yang terjadi selama liburan yang pasti akan aku rindukan selama berada di kota orang. Selain orang tua dan kedua adikku, ada seseorang yang juga akan memaksaku untuk selalu rindu pulang kampung. Ah, andai liburannya bisa di perpanjang tentu akan lebih baik.
Aku masih menikmati pemandangan sepanjang perjalanan meski sesekali harus terpelanting ke depan akibat supir bus yang rem mendadak. Memasuki daerah Karawang jalanan sudah mulai terjadi kemacetan. Beberapa pedagang buku Teka Teki Silang juga sudah ada yang berjualan di bus. Hanya satu dua orang saja yang membeli buku Teka-Teki Silang tersebut. Setelah itu disusul lagi dengan artis jalanan yang menjajakan suara emas mereka. Vokalis nya masih anak-anak namun suaranya cukup merdu. Alhasil, hampir semua penumpang bus pun mengulurkan tangannya berbagi rupiah pada kelompok penyanyi jalanan tersebut.
Tak terasa, bus sudah mendarat mulus di terminal kampung Rambutan. Bus yang memang tidak terlalu sesak dengan penumpang membuatku leluasa untuk keluar dari bus yang terasa panas. Aku sudah tidak harus bertanya lagi angkutan yang akan membawaku ke kost-kostan karena memang sudah hafal.
***
Irman rupanya telah lebih dulu berada di kostan. Dia memang teman kostku yang rajin. Aku beruntung bisa satu kostan dengan dia, setidaknya kami sama-sama memiliki kepedulian terhadap tempat kami tinggal.
"Sudah lama tiba disini?" Aku menyimpan satu buah kardus di pojok kamar. Irman yang sedang membaca buku menoleh padaku.
"Saya sudah berada disini sejak kemarin. Banyak tugas yang harus diselesaikan." Terangnya.
"Oh..." Aku hanya ber-oh saja.
Begitulah kami, meski kami satu kamar namun sikap kami datar-datar saja. Pembicaraan kami sepertinya selalu serius sesekali bercandapun terasa hambar. Mungkin karena kami masih sama-sama kaku. Padahal Irman biasanya periang dan suka bercanda jika dengan teman-temannya. Aku pun demikian. Tapi, di kamar ini seolah candaan yang biasa kami lemparkan terasa hambar. Tapi aku selalu berusaha tetap nyaman tinggal disini dan Irman pun sepertinya demikian.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar