Rumah itu berderet rapi di salah satu kawasn perumahan elite di Jakarta. Tidak ada yang menyangsikan lagi kemewahan rumah itu. Rumah besar bertingkat dua dengan halaman yang luas serta garasi yang terpajang dua mobil mewah nampak indah dipandangan mata siapa saja. Meski beberapa pohon mangga tumbuh di taman itu namun tak terlihat satu daun kering pun yang ada di bawahnya. Taman itu sangat terlihat sekali sangat terurus. Dua buah mobil yang terpajang di garasi pun selalu mengkilap sebab setiap hari selalu di bersihkan.
Sebagian orang akan iri jika melihat keasrian dan kemewahan rumah tersebut. Rumah yang nampak nyaman untuk dihuni. Itu jika hanya memandang sekilas saja.
Rumah yang sebesar itu sangat terasa sepi dan hampa bagi penghuninya. Tak ada canda tawa anak-anak yang riang bermain. Tak ada percakapan hangat sebagaimana rumah yang seharusnya. Setiap kata yang terucap di dalam rumah tersebut hanya akan memantul ke dinding-dinding kokoh yang mengelilingi rumah. Hampir tak ada tegur sapa lagi di dalam rumah mewah tersebut. Jangankan adanya kebahagiaan, yang ada hanyalah kekecewaan dan kemarahan. Kehampaan.
Pagar yang dibangun dengan tinggi telah menjadi batas yang jelas bahwa tidak sembarangan orang bisa masuk kedalam rumah tersebut. Pagar juga telah membatasi interaksi dari penghuni rumah dengan dunia luar.
"Den,..." Inah mengetuk pintu kamar anak majikannya.
Tapi tak terdengar sahutan dari dalam kamar.
"Den, makan dulu sudah siang!" Kembali suara Inah terdengar memenuhi seluruh ruangan di rumah itu. Memantul-mantul sebelum kembali hening.
Tanpa terdengar jawaban tiba-tiba saja pintu sudah di buka. Dengan langkah gontai Beni melangkah menuju ruang makan. Melewati Inah yang masih terdiam bisu.
Tak ada satu suara pun yang keluar dari seluruh penghuni rumah. Hanya terdengar beberapa peralatan makan yang beradu memecah keheningan.
"Bibi tidak makan?" Beni membuyarkan lamunan Inah yang sedari tadi menatapnya.
"Tidak den, bibi nanti saja." Sahut Inah sedikit merendahkan suara dan membungkukan badannya.
Sebenarnya, itu adalah pertanyaan yang tak harus dijawab Inah. Sebab, anak majikannya itu sudah tahu kalau dia hanya makan setelah semua penghuni rumah makan. Hanya saja ia tak mungkin untuk tidak menjawab pertanyaan anak majikannya.
"Kalau begitu bibi makan sekarang saja sekalian menemaniku makan!" Pinta Beni.
"Tidak den, bibi nanti saja." Inah menjawab dengan segan.
"Kenapa? Aku sudah sering makan sendiri. Dan hari ini aku sangat merindukan suasana makan bersama. Bibi mau kan menemaniku makan dan ridak sekedar menontonku makan? Sekalian dengan mang Narto. Aku ingin merasakan kehangatan makan bersama."
"Baik den. Nanti bibi panggilkan mang Narto dulu." Bi Inah pergi ke belakang memanggil mang Narto yang sedang membersihkan halaman.
Ketiga orang tersebut sudah berada di meja makan. Meskipun canggung, bi Inah dan mang Narto berusaha menyesuaikan dengan anak majikannya. Dia tidak ingin mengecewakan anak majikannya itu. Dia tidak ingin selera makan anak majikannya itu hilang hanya karena keinginannya tidak di turuti.
"Meskipun bibi dan mamang bukan bagian dari keluargaku namun setidaknya aku bisa merasakan kehangatan makan bersama..." Suara Beni menggantung di langit-langit rumah.
Sementara bi Inah masih menguasai diri. Bukan karena tak biasa makan di meja makan dengan anak majikannya hanya saja ada yang ingin dia sampaikan namun takut mengganggu makan anak majikannya.
"Den, apa tidak sebaiknya aden kembali bersekolah?" Akhirnya, keluar juga pertanyaan itu. Hanya pertanyaan yang biasa memang. Namun itu adalah pertanyaan yang sangat sensitif bagi anak majikannya.
Beni mendongakkan kepala menatap wajah Inah yang berusaha mengendalikan ketakutannya. Takut, jika anak majikannya yang masih kecil itu kembali marah dan meninggalkan meja makan.
"Aku tidak ingin kembali ke sekolah." Tukas Beni dengan tegas.
"Kenapa? Bibi takut jika Tuan kembali ke rumah ini justru bibi yang akan kena marah."
"Harus berapa kali aku mengatakan kepada bibi? Aku malu bi. Aku malu bertemu dengan teman-teman, guru-guru dan semua orang ...."
"Tapi...." Bi Inah tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Takut menyinggung hati anak majikannya itu.
"Bi, semua orang sudah tahu dengan kasus yang menimpa ayah. Dan itu membuat semua orang bergunjing tentang ayah. Semua teman-temanku mengejekku karena perbuatan ayah. Guru-guru, walaupun tidak secara terang-terangan mereka juga membicarakan ayah. Aku tidak sanggup lagi melanjutkan sekolah. Aku ingin berhenti sekolah. Aku malu bi..." suara Sendok garpu yang tadi beradu di meja makanpun segera behenti di gantikan dengan isak Beni yang sudah tidak tertahankan lagi. Kekesalan yang biasanya dia pendampun kini sudah termuntahkan. Tekanan yang selalu dia dapatkan dari lingkungan tak bisa dia tanggung lagi dengan tubuh dan usianya yang masih kecil.
Bi Inah juga tak tega melihat anak majikannya yang mulai terisak.
"Aku ingin berhenti sekolah saja. Ini semua gara-gara ayah. Kenapa ayah harus menjadi seorang Koruptor?" Sebuah pertanyaan yang kembali menggantung. Memantul-mantul di rumah berukuran besar tersebut.
"Tapi, bukan berarti aden harus berhenti sekolah. Itu hanya akan menambah beban tuan saja." Bi Inah berusaha melembutkan suaranya agar tak menyinggung.
"Biar saja bi..." Tukas Beni dengan sedikit emosi sebab kebencian pada ayahnya.
"Bibi yakin, tuan memiliki alasan untuk melakukan itu..." Kata-kata bi Inah terasa mengambang. Seolah tak yakin kata-kata itu akan terucap juga dari bibirnya.
Sebab, dia pun tahu tak ada alasan yang membenarkan siapapun untuk melakukan tindakan kejahatan. Apalagi untuk kasus korupsi yang telah menggurita dan menjadi musuh masyarakat negeri ini. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana cara membesarkan hati anak majikannya itu.
Sementara mang Narto yang memang pendiam tak banyak bicara. Dia hanya memperhatikan istrinya yang berusaha melerai anak majikannya itu.
"Tapi kenapa harus menjadi seorang koruptor bi? Apakah dengan harta yang dimiliki masih belum cukup? Itu hanya menjadikanku hidup sengsara sebab tak ada yang mau berdekatan denganku. Aku tidak ingin kembali ke sekolah. Aku malu bi...." Kembali isak tangis yang lebih keras terdengar dari bibir kecilnya. Dia yang harus merasakan cemoohan akibat ulah ayahnya. Dia yang harus mendapatkan cibiran sebab keteledoran ayahnya. Sekecil itu harus sudah menanggung beban mental yang amat berat.
Bi Inah dan Mang Narto memilih diam membiarkan anak majikannya itu meluapkan emosi dan kesedihan yang membekam di hati.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar