Sabtu, 14 November 2015

#3

Malam telah sempurna menyelimuti langit Jakarta. Hanya saja, meskipun malam mulai merangkak naik tak ada perubahan pada tingkah laku dan aktivitas penghuninya. Jalan-jalan masih sama seperti saat siang. Penuh dengan keramaian kendaraan yang lalu lalang. Pasar-pasar masih sibuk dengan aktivitas para pedagang sayur dan buah. Deru mesin pabrik masih terdengar yang artinya produksi di dalam pabrik masih berlangsung. Begitulah wajah Jakarta. Kota yang seolah tak pernah tidur barang sekejap pun.

Sementara di sudut lain dari hiruk pikuk kesibukan penghuni ibu kota ini, Arif bersama ibu dan kedua adiknya sedang menikmati hidangan makan malam mereka. Makan malam menjadi istimewa bagi anak beranak ini. Bukan karena menunya yang lezat atau tempat makannya yang indah dengan pemandangan kota. Bukan. Bukan itu. Tak lain, karena bagi keluarga ini makan malam tak pernah ada dalam jadwal kegiatan mereka. Hanya jika ada sisa uang yang cukup saja mereka sesekali bisa menikmati makan tiga kali sehari-- termasuk makan malam. Biasanya, sudah makan dua kali sehari saja mereka sudah sangat bersyukur. Meski sekedar nasi putih dan sepotong tempe.

"Alhamdulillah." Ucap Arif saat dia menikmati suapan terakhirnya. Arif bahkan sempat menjilat bungkus makanan itu memastikan bahwa nasinya telah benar-benar habis--termasuk sarinya yang tersisa-- sebelum dia membuang kertas nasi itu.

Hari ini, dengan pendapatan Arif sebesar dua puluh empat ribu enam ratus itu cukup untuk membeli nasi guna makan malam.

"Setelah kau makan, tolong kau bantu adikmu! Tadi siang dia mengeluh kesulitan mengerjakan PR."

"Baik bu." Arif segera menghampiri adik perempuannya yang sedang terpekur menatap tugas sekolahnya.

Sejak sekolah, Arif termasuk anak yang cerdas. Namanya tak pernah alfa menjadi juara kelas. Maka, sekarangpun dengan senang hati dia membantu adiknya mengerjakan tugas.

Sambil mengingat pengalamannya saat berskolah dulu. Pikirnya.

Kakak beradik itu kini terlibat diskusi sederhana. Lebih tepatnya Arif sedang serius memberikan wejangan pada adiknya. Arif selalu bersemangat untuk mengajari adiknya itu meski sebenarnya tubuhnya terasa lelah setelah seharian dia berdiri di bawah lampu merah. Kulitnya terasa kering karena seharian terpapar debu jalanan dan terbakar terik matahari. Tulangnya terasa remuk redam, namun kecintaan pada adiknya membuat ia melupakan rasa lelah dan kantuk yang membayangi.

Sementara, Maryanah memilih untuk menidurkan si bungsu yang selalu rewel.

***

Malam kian merangkak naik. Suara kodok yang biasanya terdengar dari pinggir kali di belakang gubuk sudah tak terdengar lagi. Mungkin sudah terlelap atau mungkin sedang tersedak karena menghirup air sungai yang keruh oleh limbah.

Siti dan si bungsu telah terlelap di pembaringan. Kakak beradik itu telah menggelepar di atas kasur lantai lusuh seperti pindang yang di jajakan di pasar Kramat Jati.

Maryanah sedang melipat pakaian yang tadi saing di jemur dan memasukannya ke dalam keranjang plastik.

Sementara Arif, dia termenung menatap wajah adik-adiknya yang sudah terlelap. Dia menatap iba pada adiknya yang paling kecil.

Kasihan sekali dia. Batin Arif. Pandangannya tak lepas dari wajah adiknya. Mulutnya menganga sangat besar. Terlihat sekali dia sangat kesulitan untuk bernafas dalam tidurnya. Tarikan nafasnya terdengar berat. Perutnya yang buncit membuat pilu hati Arif. Dia tak tega melihat adiknya yang seperti tersiksa dengan keadaannya sendiri. Urat-urat sangat terlihat jelas dari hampir seluruh tubuhnya. Kulit yang seolah menempel dengan tulang semakin membuat hati Arif serasa tercacah. Nampak jelas adiknya sangat kurus seperti tak ada daging yang membungkus tulangnya.

Arif tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Tapi, segera dia menyeka air matanya agar tak terlihat bersedih oleh ibunya.

"Bu, apakah adik tidak bisa sembuh?" Arif bertanya pada ibunya yang sedang sibuk melipat baju. Begitulah Arif, dia tak pernah menyebut nama adiknya. Dia lebih senang menyapa adiknya dengan sebutan 'adik'.

Maryanah melihat sekilas pada wajah anaknya." Berdoa saja semoga adikmu bisa segera sehat dan hidup normal agar bisa bermain selayaknya anak-anak seusianya." Pelan saja kata-kata Maryanah meluncur dari bibirnya seolah kata tersebut benar-benar mewakili hatinya.

"Apakah tidak sebaiknya adik dibawa lagi ke dokter bu?"

"Untuk apa? Bukankah engaku sendiri sudah tahu dengan penyakit adikmu?"

Itu hanyalah pertanyaan retoris yang tak perlu di jawab oleh Arif. Karena memang dia sendiri sudah tahu dengan apa yang di derita adiknya. Hanya saja, bukan itu yang Arif harapkan keluar dari bibir ibunya.

"Adikmu bukan menderita sakit yang harus ke dokter. Dia hanya butuh asupan nutrisi yang lebih baik agar gizinya terpenuhi."

Mendengar kata-kata yang di ucapkan ibunya membuat hati malik seolah terbuka. Pikirannya terbuka. Bahwa sebenarnya, kesembuhan adiknya ada ditangannya sendiri. Dia bertekad untuk bekerja lebih keras lagi agar mampu membeli makanan yang memiliki gizi yang cukup bagi ibu dan adiknya. Karena adiknya masih menyusu pada ibunya berarti makanan yang dimakan ibunya pun sangat berpengaruh pad gizi adiknya. Begitulah kesimpulan hati malik.

"Lagi pula, bukankah kamu juga tahu apa yang di katakan dokter di klinik itu? Adikmu harus di rujuk ke rumah sakit kalau mau sembuh." Tambah ibunya dengan suara yang lemah.

Bagi orang-orang seperti mereka, mendengar kata Rumah Sakit sudah cukup membuat bulu kuduknya bergidig. Dia sudah sering mendengar bahwa biaya di Rumah Sakit tidaklah murah. Nyali mereka sudah menciut bahkan sebelum mereka mencoba. Meskipun dokter di klinik itu mengatakan bahwa pemerintah akan membantu biaya Rumah Sakit namun dengan beberapa syarat yang di kemukakan dokter di klinik membuat langkah Maryanah mundur setelah sebelumnya sinar harapan muncul di wajahnya.

Dari persyaratan yang di kemukakan dokter tersebut salah satunya memiliki kartu identitas alias KTP. Itu dianggap hanyalah syarat yang paling mudah dari syarat-syarat administrasi yang lain. Namun, bagi Maryanah syarat mudah itu pun menjadi sulit.

Setelah kepindahannya ke bantaran kali dia kehilangan beberapa surat berharga. Seperti KTP, Kartu Keluarga dan surat tak penting lainnya seperti Surat Garansi Dispenser yang selalu dia simpan. Surat-surat berharga itu hilang karena saat mereka pindah dari kontrakan sebelumnya tidak dengan baik-baik melainkan karena di usir sebab sudah tiga bulan kontrakannya belum dibayar.

Hidup di bantaran kali dilingkungan kumuh yang dihuni kaum papa lain seperti mereka yang tak sanggup menyewa kontarakan membuatnya bingung harus kemana dia mengurus pembuatan kartu identitas. Dia tak tahu tanah tempat gubuknya berdiri masuk RT dan kelurahan mana. Di gubuknya tak tertera RT maupun Rw sebagaimana layaknya rumah. Kiri kanannya gubuk pemulung yang biasa mencari sampah di kali belakang gubuk. Mereka tak pernah peduli alamat tempat tinggalnya karena mereka berpikir bahwa tak mungkin ada yang menanyakan alamat rumah mereka. Gubuk itu hanya sebagai tempat mereka berlindung saat malam atau hujan. Itu saja sudah cukup bagi mereka. Tak perlu memikirkan lagi alamat apalagi Kartu Tanda Penduduk dan surat-surat lainnya yang mesti di miliki oleh warga negara yang baik. Entahlah apakah orang-orang seperti mereka masih masuk warga negara Indonesia atau bukan. Sebab, mereka ridak memiliki satu pun identitas yang menunjukan bahwa mereka termasuk warga negara Indonesia. Selain karena mereka hidup di atas tanah Indonesia.

Hal seperti itulah yang menyebabkan program-program pemerintah yang di khususkan bagi warga tak mampu belum benar-benar mampu menjangkau dengan tepat kepada sasaran. Program-program pemerintah itu hanya sampai pada masyarakat tidak mampu yang terdata di pemerintahan. Bahkan sebagian bantuan dan kemudahan-kemudahan yang di khususkan bagi masyarakat miskin banyak di nikmati orang-orang mampu.

Masyarakat yang termarjinalkan seperti Maryanah dan beberapa masyarakat di bantaran kali dilingkungan itu tak pernah mendapatkan apa yang menjadi haknya. Karena mungkin, nama mereka sudah tak ada lagi di data negara. Nama-nama masyarakat marjinal seperti mereka telah di coret sebagi warga negara.

Akhirnya, anak bungsu Maryanah pun tak bisa mendapatkan penanganan yang selayaknya. Program yang di galakan pemerintah guna mengurangi gizi buruk pun tak pernah berpengaruh pada keadaan Ipan-- adik bungsu Arif. Alhasil, bukannya keadaan semakin membaik justru malah semakin memburuk karena mendapatkan penanganan yang salah.

Arif masih termenung menatap wajah adiknya. Dia merasa tak tega terhadap adiknya.

"Lebih baik kau pun segera tidur nak. Agar besok bisa bangun pagi dengan bersemangat. Adikmu pasti akan segera bisa hidup normal." Maryanah membuyarkan lamunan Arif.

"Iya bu."

Malam semakin pekat. Diantara bau sampah dan limbah sungai di belakang gubuk anak beranak itu telah terlelap menuju peraduannya. Wajah-wajah lelah menjalani hidup yang semakin memberatkan nampak pada mereka. Andai para pemangku kekuasaan melihat wajah mereka saat terlelap seperti itu tentu mereka akan merasa iba dan kasihan. Itu pun jika mereka masih memiliki hati nurani.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar