Sabtu, 14 November 2015

#2

"Lebih baik aden makan dulu!" Bujuk bi Inah.

Sedang yang di bujuk pun hanya menggeleng.

"Tidak mau bi. Aku tidak lapar. Sudah berapa kali aku mengatakan itu. Apakah bibi juga tidak bisa mendengar?"

"Tapi aden belum makan dari pagi. Bibi takut nanti aden jatuh sakit. Bibi tidak mau di salahkan karena tidak bisa mengurus aden." Bi Inah masih berusaha merayu anak majikannya itu.

"Kalau aku bilang tidak lapar ya tidak lapar. Apa bibi tidak bisa mendengar?" Bentak anak itu. Seraya meninggalkan bi Inah.

Bi Inah sudah kehabisan cara. Dia hanya bisa mengelus dada karena tingkah anak majikannya itu.

Sudah setahun ini kerja bi Inah semakin menguras emosi. Anak majikannya kian susah di atur dan mudah sekali marah.

Bi inah yang sudah ikut bekerja di rumah besar itu lebih dari lima belas tahun sangat hafal dengan watak asli anak majikannya itu. Sedari kecil anak itu sebenarnya sangat baik. Dia anak yang rajin dan selalu riang. Itu karena bi Inah sudah mengasuh anak itu sejak kecil bahkan sejak masih dalam kandungan ibunya. Dia tahu tumbuh kembang anak itu setiap waktu. Mungkin, bi Inah lebih banyak mengetahui perkembangan anak itu dibandingkan kedua orang tuanya.

Anak itu bernama Beni. Beni Pamungkas nama lengkapnya. Umurnya baru saja menginjak angka empat belas tahun. Tapi, di usianya yang baru berumur delapan tahun dia harus kehilangan kasih sayang seorang ibu. Kedua orang tuanya bercerai saat usia Beni baru saja akan menginjak angka delapan tahun.

Di tengah-tengah gelimangan harta yang di miliki orang tuanya, dia justru kehilangan sumber kebahagiaan sejati. Yakni kasih sayang. Sejak kecil dia tak pernah kesulitan untuk memenuhi keinginannya. Apapun yang dia inginkan pasti bisa dia dapatkan. Ayahnya yang merupakan seorang pengusaha sukses dan seorang politisi membuatnya sangat sibuk. Bahkan, meskipun tinggal satu atap dengan Beni namun mereka tidak bisa saling bertemu karena kesibukan ayahnya. Harus menunggu akhir pekan agar mereka bisa bertemu.

Ayahnya sangat berambisi untuk mengejar kekuasaan. Namanya pun sangat populer baik di kalangan pengusaha maupun politisi. Hampir semua orang mengenal sosok yang bernama Hadi Kusuma.

Sayang sekali, popularitas dan ambisinya telah merenggut waktu berharga yang seharusnya dia sediakan untuk anak semata wayangnya. Itu jugalah yang menyebabkan perceraian dengan istrinya. Ambisi Hadi Kusuma untuk berkuasa terlalu berlebihan hingga kadang membuatnya tidak sering berada di rumah dan memilih berada di luar bertemu denga kolega-koleganya. Baik untuk urusan bisnis maupun untuk urusan politik. Nasihat yang diberikan istrinya agar dia memperhatikan keluarga selalu dia tolak mentah-mentah. Alhasil pertengkaran-pertengkaran pun tak bisa di elakkan lagi hingga berujung perceraian.

Setelah perceraian dengan istrinya tidak membuat Hadi Kusuma memikirkan Beni. Justru setelah bercerai dengan istinya mebuat dia semakin leluasa dan bebas untuk melakukan apapun. Seolah Beni tak pernah ada di rumahnya.

***

Sejak kecil, Beni tumbuh di bawah pengasuhan bi Inah yang selalu setia mengabdi kepada ayahnya. Sebagai anak, tentu dia pun ingin merasakan kasih sayang ayahnya seperti anak-anak yang lain. Tapi, setiap dia ingin bermanja-manja dengan ayahnya hanya bentakan saja yang dia dapatkan.

"Ayah sedang lelah hari ini. Apa kamu tidak mendengar?" Bentak ayahnya saat Beni masih saja merengek untuk mengajaknya bermain saat usia Beni baru menginjak angka 10 tahun.

"Lebih baik kamu bermain saja dengan bi Inah! Biasanya juga kita liburan setiap akhir pekan. Kamu jangan jadi anak yang manja!" Tambah ayahnya suatu hari saat dia mengajak ayahnya bermain.

Puncaknya, saat usia Beni berusia 11 tahun. Waktu itu, Beni ingin sekali tidur bersama ayahnya. Beni sengaja menunggu ayahnya sampai larut malam.

"Yah, malam ini aku ingin tidur bersama ayah." Pinta Beni.

"Ayah capek. Lebih baik kamu masuk ke kamarmu! Ayah ingin istirahat dengan tenang malam ini." Hari itu memang ada masalah yang di hadapi ayahnya. Anak buahnya melakukan kesalahan hingga berujung pada kerugian pada usahanya.

"Tapi yah, untuk malam ini saja. Mau kan yah?" Beni masih merajuk pada ayahnya. Wajahnya benar-benar memelas.

"Beni! Jangan buat ayah marah sama kamu!" Bentak ayahnya.

"Kenapa yah? Beni hanya menginginkan untuk tidur bersama ayah untuk malam ini saja." Beni masih belum menyerah memohon pada ayahnya.

"Lebih baik cepat kamu masuk kamar dan jangan membuat kepala ayah semakin pusing!" Dengan nada tinggi menunjuk ke arah kamar Beni.

"Tidak!!!" Suara Beni lebih keras dari suara ayahnya.

"Kamu sudah berani melawan ayah?" Emosi ayahnya benar-benar memuncak.

Plakkkk....Tamparan mendarat tepat di pipi Beni. Hadi Kusuma benar-benar kehilangan kendali untuk menguasai emosinya.

Beni segera berlari terhuyung sambil memegangi pipinya masuk ke kamar lalu mengunci pintunya. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Malam itu, dia sangat membenci ayahnya.

"Ayah jahat..." Teriak Beni dari dalam kamarnya.

Hadi Kusuma tak ambil pusing dengan anaknya. Masalah di perusahaan telah menguras tenaga dan pikirannya.

Dia segera bergegas untuk mandi dan berniat segera istirahat. Permasalahan hari ini benar-benar menguras tenaganya.

"Tuan,,," Sapaan bi Inah menghentikan langkahnya saat hendak memasuki kamar.

"Ada apa bi?"

"Anu tuan... apakah tidak sebaiknya tuan menemui den Beni dulu sebelum istirahat? Tangisnya masih belum berhenti. Bibi tidak bisa masuk karena kamarnya di kunci dari dalam."

"Biarkan saja bi. Kalau kemauannya selalu di ikuti nanti akan membuatnya semakin manja. Nanti juga dia keluar sendiri. Bibi lebih tahu cara mengurusnya."

"Tapi tuan,..." Bi Inah ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

"Kenapa bi? Apakah ada yang masih ingin di sampaikan? Sampaikan saja segera, aku ingin istirahat."

"Anu tuan,... Sebenarnya, ada alasan kenapa den Beni ingin tidur bersama tuan malam ini." Bi Inah ragu-ragu untuk mengatakannya. Suaranya sedikit parau dan kepalanya semakin menunduk tak berani menatap majikannya.

"Kalau alasannya hanya ingin bermanja-manjaan atau sekedar menceritakan kejadian di sekolah lebih baik besok-besok saja. Hari ini aku sangat lelah." Suara Hadi Kusuma sesijit meninggi.

Bi Inah semakin ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

"Bukan itu tuan."

"Lalu apa bi? Jangan bertele-tele. Aku mau istirahat. Lebih baik bibi kembali ke dapur untuk mengurus pekerjaan bibi daripada mengganggu waktuku." Hadi sedikit membentak pembantunya itu.

"Sebenarnya, den Bagus telah menyiapkan kejutan untuk tuan karena malam ini tuan ulang tahun." Bi Inah tergesa-gesa melanjutkan kata-katanya tak ingin majikannya lebih marah lagi karena dia mengulur waktu.

Sementara, kerongkongan Hadi tercekat mendengar ucapan bi Inah yang terakhir. Atap rumahnya serasa hendak roboh menimpa kepalanya. Meski langit luar masih tenang dan damai namun mendengar apa yang dikatakan bi Inah serasa meghadirkan petir yang hendak menghantam dadanya. Apa yang dikatakan bi Inah bagaikan ujung pisau yang hendak menikam ulu hatinya. Kakinya tak mampu lagi berpijak dengan sempurna. Bibir yang selalu mengeluarkan semua kata yang hendak di ucapkan pun mendadak kelu. Ini diluar dugaannya.

Dia tidak menyangka bahwa malam ini anaknya telah menyiapkan sesuatu yang istimewa untuknya. Bahkan, dia sendiri sudah lupa dengan ulang tahunnya. Walaupun tadi siang di kantor anak buahnya memberikan ucapan ulang tahun namun masalah yang membelenggu pikirannya tidak sampai memikirkan bahwa anaknya akan memberikan kejutan untuknya.

Malam ini, dia sangat merasa bersalah pada anaknya. Tamparan yang mendarat di pipi anaknya bukan hanya membuat sakit di pipi tapi di hatinya. Usaha untuk membahagiakan ayahnya hanya bersambut sebuah tamparan.

Rasa kantuk yang sedari tadi telah bergelayutan di kelopak matanya seolah hilang begitu saja. Dia melangkahkan kaki ke kamar anaknya. Ada perasaan gamang dan bersalah dalam dadanya. Bagaimanapun Beni telah berusaha untuk membahagiakannya.

Bi Inah hanya mengelus dada karena dia bisa menuntaskan semua perkataannya. Dia merasa iba menyaksikan majikannya yang diliputi rasa penyesalan.

Tokkk...tokk...tok... Hadi mengetuk pintu kamar anaknya.

"Nak," Hadi berusaha melembutkan suaranya.

Sementara dari dalam masih terdengar isakan Beni.

"Nak, buka pintunya ayah mau minta maaf."

Beni masih terisak di dalam kamarnya tak menyahuti panggilan ayahnya itu.

"Nak, maafkan ayah. Ayah khilaf, buka pintunya nak. Ayah ingin bicara."

"Ayah jahat." Hanya itu yang keluar dari bibir Beni.

"Iya nak, ayah memang jahat. Maafkan ayah, tolong buka pintunya. Kamu boleh tidur bersama ayah malam ini."

"Tidak... Aku tidak ingin lagi melihat ayah. Lebih baik ayah pergi dari pintu kamar. Karena aku tidak ingin membukakan pintu." Beni menyahut dari dalam. Sahutannya masih terdengar bersamaan dengan isakkan yang belum mereda.

"Apakah kamu tidak ingin mengucapkan ulang tahun sama ayah nak?" Hadi masih merayu anakanya dengan suara selembut mungkin. Hatinya masih terasa pilu karena kesalahannya.

Beni menghentikan isakkannya. Dia hendak membuka pintu kamarnya. Namun, dia segera mengurungkan kembali niatnya saat teringat tamparan keras yang mendarat di pipi kanannya. Kembali terisak.

"Nak, bukalah pintunya. Maafkan ayah." Suara Hadi terdengar lebih  berat. Dia benar-benar menyesali perbuatannya.

Bi Inah dan mang Narto yang menyaksikan tidak kuasa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Karena baru malam ini dia menyaksikan majikannya mengeluarkan air mata yang tak lain karena penyesalan.

Mang Narto adalah supir pribadi di rumah itu yang tak lain adalah suami dari bi Inah.

Akhirnya, pintu di buka. Beni keluar dengan wajah yang sembab.

Tanpa menunggu lama, saat melihat pintu kamar di buka Hadi langsung menubruk anaknya. Memeluknya dengan erat.

"Maafkan ayah nak." Hadi tak kuasa untuk tidak menangis.

Beni masih terdiam. Dia masih belum mengerti dengan ayahnya. Selama ini, ayahnya tidak pernah terlihat menangis bahkan lebih sering memarahinya.

"Maafkan ayah nak. Ayah khilaf telah memarahi dan menamparmu."

Beni pun kembali menangis di pelukan ayahnya. Selama sebelas tahun usianya. Dia baru merasakan pelukan ayahnya yang benar-benar tulus.

"Ayah tahu, kamu hendak memberikan kejutan pada ayah di hari ulang tahun ayah. Hanya saja ayah terlalu menuruti emosi dan membuatmu kecewa. Maafkan ayah nak."

Beni tak mengelurkan kata-kata. Dia hanya bisa menangis dan memeluk erat ayahnya. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa memeluk ayahnya itu.

Bi Inah dan Mang Narto pun berpelukan terharu menyaksikan pemandangan ayah dan anak yang sedang berpelukan berlinang air mata.

"Selamat ulang tahun ayah." Akhirnya keluar juga kata-kata dari bibir Beni di sela isakkannya.

"Terimakasih nak." Hadi semakin erat memeluk anaknya.

"Beni ingin bisa memiliki waktu lebih banyak bersama ayah. Ayah jangan terlalu sibuk mencari uang." Kata-kata itu meluncur dengan polosnya dari bibir Beni.

"Maafkan ayah nak. Ini semua demi kamu. Demi masa depan kamu. Kelak, jika sudah waktunya ayah juga akan memiliki lebih banyak waktu dengan Beni. Ayah harap kamu bisa mengerti keadaannya nak." Hadi melepaskan pelukannya dan menatap mata anaknya yang masih berlinang air mata sambil memegang erat bahu anak laki-lakinya itu.

"Tapi kapan yah? Beni ingin merasakan kebersamaan dengan ayah seperti anak-anak lain."

Hadi kembali memeluk anaknya. "Secepatnya nak."

Sejak saat itulah Hadi berusaha meluangkan waktunya untuk sekedar menyapa anak semata wayangnya. Sebelum waktunya kembali terenggut karena beberapa bulan setelah itu dia terpilih sebagai wakil rakyat di daerah Jakarta.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar