Minggu, 08 November 2015

#1

Musim kemarau saat ini telah berada di puncaknya. Terbukti, siang ini pun matahari dengan perkasanya bertengger di singgasananya. Bahkan, mega-mega pun tak ada yang berani mendekat. Langit benar-benar bersih menghamparkan kanvas biru yang seolah tanpa cela. Namun bukan saat yang tepat untuk menatap langit di siang bolong. Sebab sinar matahari yang memancar cukup menyilaukan mata. Debu-debu di jalanan cukup menyesakkan pengguna jalan, ditambah pula dengan kepulan asap knalpot kian memperparah kualitas udara sekitar. Rasanya, sangat sulit untuk mendapatkan udara segar yang baik untuk kesehatan. Selain karena banyaknya debu dan asap knalpot kendaraan, ditambah pula dengan minimnya pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Hanya ada beberapa pohon akasia yang ditanam di pinggir jalan raya. Itu pun tidak banyak membantu karena perbandingannya sangat jauh jika dibandingkan dengan banyaknya jumlah kendaraan yang menghasilkan emisi gas buang. Alhasil, pohon yang ditanam di pinggir jalan pun perlahan daun-daunnya mulai menguning dan bahkan sebagian lagi sudah banyak daun-daunnya yang gugur. Hidup segan mati pun tak mau. Sekalipun ada yang masih berdaun, daun itu nampak sekali berwarna hitam karena terus terpapar asap dari kendaraan yang lalu lalang sepanjang jalan tersebut.

Di puncak musim kemarau seperti ini, Jakarta seolah di ciptakan di depan pintu neraka. Panasnya sudah di atas normal. Belum lagi debu dan asap knalpot menambah ketidaknyamanan lama-lama berada di jalan-jalan Jakarta yang selalu saja di hiasi dengan kemacetan yang semakin parah. Bagi sebagian penghuni kota metropolitan ini, masker sudah menjadi kebutuhan utama saat berada di jalan terutama bagi pengendara roda dua maupun pejalan kaki. Jalanan ibu kota ini selalu menjadi tempatnya keluh kesah tertumpah, sumpah serapah berserakan baik sumpah serapah kepada pemerintah yang masih belum mampu memberikan solusi bagi masalah kemacetan jalan dan sumpah serapah kepada sesama pengguna jalan yang tidak sabaran. Hal tersebut memang sudah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian masyarakat ibu kota. Itu hanyalah sebagian masalah dari banyaknya masalah yang menghias ibu kota negara tercinta ini. Masalah yang seperti benang kusut sulit terurai meski telah berganti-ganti pemimpin dan sudah banyak teori yang diterapkan guna menyelesaikan masalah tersebut namun tetap saja sampai sekarang pun keadaannya tak ada perubahan.

Sementara, di sudut lain kota Jakarta tepatnya di sudut timur Jakarta dan lebih tepatnya lagi dibawah lampu merah. Seorang anak kecil bertubuh kurus tak terurus dengan tanpa alas kaki sedang memperhatikan tiga lampu rambu-rambu yang berada di atasnya. Bukan, bukan sedang menunggu lampu menyala berwarna hijau. Justru dia sedang menunggu lampu tersebut berwarna merah.

1,2,3..Dia berhitung dalam hati. Tepat di hitungan ketiga lampu pun berwarna merah.

Dia segera turun dari trotoar menghampiri satu per satu mobil yang berhenti di bawah lampu merah. Tanpa basa-basi anak kecil itu membersihkan mobil-mobil yang berhenti dengan kemoceng yang selalu ia bawa kemanapun. Kemoceng itu adalah senjatanya. kalau petani mungkin itu adalah cangkulnya yang biasa dia gunakan untuk menggali rupiah. Meskipun mobil-mobil tersebut masih mengkilap namun tetap saja anak kecil itu terus membersihkannya. Dia baru berhenti jika  kaca mobil terbuka dan tangan dari dalam mobil menjulur memberikan uang koin kepadanya. Walaupun kadang tak sedikit pemilik kendaraan yang terus menutup kaca mobilnya sampai lampu kembali menyala hijau. Begitulah yang biasa ia kerjakan setiap hari di tempat yang sama. Mengais rezeki dengan membersihkan kendaraan menggunakan kemoceng. Hanya itu pekerjaan yang bisa dia lakukan sesuai dengan usianya. Setidaknya itu masih lebih baik daripada menengadahkan tangan tanpa berbuat sesuatu. Membersihkan mobil yang berhenti di lampu merah masih bisa disebut perbuatan yang layak mendapatkan imbalan. Meskipun sebenarnya tidak benar-benar membuat mobil bersih karena akan terpapar lagi oleh debu jalanan.

Tak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan. Di usianya yang masih sangat muda atau bahkan bisa disebut anak-anak dia harus berjibaku setiap hari dibawah terik matahari dan menghirup debu serta asap knalpot untuk melakukan pekerjaannya itu. Walau tak selalu dia mendapatkan rupiah dari setiap mobil yang dia bersihkan namun itu tak membuatnya putus asa. Selalu ada harapan dan doa yang dia panjatkan setiap lampu rambu-rambu itu berwarna merah berharap ada rupiah yang dia dapatkan dari pekerjaannya. Tapi tidak jarang juga dia hanya mendapatkan wajah nyinyir dari pemilik kendaraan yang dia bersihkan. Semangatnya telah teruji waktu. Kesabarannya seakan telah teruji masa. Lebih tepatnya semuanya karena terpaksa.

Sebenarnya, bukan hanya dia saja yang melakukan pekerjaan tersebut. Setidaknya di bawah lampu merah itu masih ada dua orang temannya lagi. Hanya saja untuk saat ini keduanya sedang menepi karena tak kuat dengan panas matahari yang memanggang bumi siang ini.

"Terimakasih." Anak itu menganggukan kepalanya mengucapkan terimakasih pada pemilik kendaraan yang memberikannya koin logam lima ratusan.

Lampu telah kembali berwarna hijau. Dia segera menepi ke atas trotoar. Peluh yang membanjiri keningnya tak pernah menyulutkan semangatnya untuk mencari kepingan-kepingan rupiah.

Begitulah pekerjaannya dari pagi sampai petang menjelang. Jika sedang beruntung, dia bisa mendapatkan rupiah yang cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan perut ibu dan kedua adiknya yang masih kecil. Ya, mereka tak memikirkan kebutuhan yang lain. Untuk urusan perut pun mereka masih kerepotan. Karena terkadang, uang hasil pekerjaannya seharian membersihkan kendaraan yang tak seberapa itu harus rela dibagi dengan beberapa preman jalanan. Ah, lebih tepatnya dipaksa berbagi.

Hari ini, tak terasa dia sudah seharian dia berada dibawah lampu merah itu. Senja beberapa saat lagi menyapa. Dia segera menepi ke pinggir jalan yang cukup sepi. Dia merogoh saku celana merah ati nya yang sudah kumal. Itu adalah celana kebanggannya. Setidaknya itu menjadi identitasnya bahwa dia pernah mengenyam bangku pendidikan meski hanya sampai sekolah dasar. Dia mengeluarkan semua uang logam yang ada disakunya lalu menghitungnya dengan sangat hati-hati agar hitungannya tepat lalu memasukan uang yang sudah di hitung ke dalam plastik yang tak kalah kumal dengan pakaian yang dia kenakan.

"Dua puluh empat ribu enam ratus." Dia merapalkan hasil hitungannya dengan yakin. Lalu memasukan kembali plastik berisi uang receh itu ke dalam sakunya.

Sebelum melangkah pulang, dia melihat ke kiri dan kanannya memastikan tidak ada preman jalanan yang akan mengikutinya. Setelah yakin tidak ada preman yang mendekat dia segera melangkahkan kakinya menuju ke rumah. Langkah kakinya terburu seolah sedang di kejar anjing. Itu tidak lain karena dia takut keburu malam. Sebab, jika langit sudah nampak gelap maka itu pertanda akan makin banyak preman yang bermunculan dan itu akan menambah runyam urusan.

Begitulah pekerjaannya setiap hari. Dari pagi hingga petang. Hanya agar bisa menyambung hidup.

***

Dialah Arif. Seorang anak kecil yang sudah dipaksa oleh keadaan untuk membanting tulang disaat usianya baru menginjak tiga belas tahun. Harusnya, anak seusia dia saat ini sedang berada di bangku sekolah. Belajar, bermain, tertawa bersama sahabat-sahabatnya. Tapi, lagi-lagi keadaan telah memaksanya tercerabut dari dunia yang menyenangkan itu. Sekolah kini tinggalah kenangan dan impian yang telah dia kubur dalam-dalam dari pikirannya. Dunia bermain telah dia tinggalkan lebih cepat dari yang seharusnya. Kini, dia telah menjajaki dunia orang-orang dewasa yang harus banting tulang mencari rupiah guna menyambung hidup. Walaupun dalam hatinya masih merasakan kesedihan saat melihat teman-temannya menggendong tas sekolah mengenakan pakaian seragam putih biru, tertawa dan bercanda sepanjang perjalanan. Kesedihan itu segera saja dia hapus dari hatinya dan digantikan dengan semangat yang membara untuk bekerja membantu ibunya. Baginya, telah mengenyam pendidikan sampai selesai Sekolah Dasar pun telah cukup. Itu masih bisa dia syukuri bila dibandingkan dengan salah seorang kawannya seprofesi yang bahkan tidak menamatkan sekolah dasar. Tabiatnya sebagai seorang anak-anak belum sepenuhnya hilang. Setidaknya senyum yang selalu menghias bibir keringnya itu masih menandakan bahwa dia memiliki ciri khas dunia anak-anak yang selalu tersenyum apapun masalahnya.

Meskipun pekerjaan yang dia lakukan cukup menguras tenaganya, dia tak pernah berkeluh kesah. Lelah sepenjang hari berada di jalanan akan terbayar dengan melihat senyum ibu dan adik-adiknya.

Arif kini tinggal di gubuk kecil, kumuh dibantaran kali bersama ibu dan kedua adiknya yang masih kecil. Adiknya yang pertama perempuan yang bernama Siti sudah berumur delapan tahun dan saat ini sedang menempuh pendidikan kelas dua sekolah dasar. Sedangkan adiknya yang paling kecil laki-laki  bernama Ipan baru berumur satu tahun setengah. Hanya saja, adik yang paling kecil itu tidak tumbuh normal sebagaimana anak kecil seusianya yang biasanya sudah bisa berjalan. Adiknya itu hanya bisa terkulai di pangkuan ibunya dengan tubuh yang sangat kurus. Matanya seperti ingin terlompat dari kelopaknya dan perutnya sedikit membuncit. Permasalahan klasik anak orang-orang miskin. Apalagi kalau bukan gizi buruk?

Itulah sebabnya Arif harus bekerja sendiri karena ibunya tidak bisa meninggalkan adiknya yang paling kecil. Sudah hampir satu tahun Arif menjadi yatim. Ayahnya meninggal karena kecelakaan kerja di pabrik. Ibunya hanya mendapat santunan beberapa rupiah yang kini telah habis untuk menyelesaikan sekolah Arif.cItulah yang memaksa bu Maryanah--ibunya Arif-- mengajak anak-anaknya meninggalkan rumah kontrakan yang biasa mereka huni saat ayahnya Arif masih hidup dan memilih tinggal di bantaran kali dengan membuat rumah dari bahan triplek seadanya dengan atap asbes bekas.

Riyan harus merelakan bahwa sekolahnya tidak bisa dilanjutkan. Tapi, dia tidak ingin adiknya juga putus sekolah setidaknya sampai lulus sekolah dasar.

Bu Maryanah sebenarnya bukan warga Jakarta asli. Seperti kebanyakan penghuni Jakarta lainnya, dia adalah perantau dari salah satu kota di Jawa Barat. Dia telah merantau di Jakarta hampir dua puluh tahun. Di kampung sudah tidak ada lagi yang bisa di harapkan. Tanah warisan orang tuanya telah dia jual dulu saat suaminya menganggur. Maka, dengan terpaksa kini mereka bertahan hidup di Jakarta meramaikan persaingan perut di tanah metropolitan.

Sebenarnya, bu Maryanah pun tak tega jika melihat anak sulungnya bekerja sendirian di usianya yang masih belia. Namun, apa daya si bungsu pun tak tega dia tinggalkan dengan kondisinya saat ini. Akhirnya, dia hanya bisa meneteskan air mata dan memanjatkan doa agar anak sulungnya selalu diberikan kesehatan dan rizki oleh yang maha kuasa setiap melepas anak sulungnya berangkat bekerja setiap pagi. Dibalik senyum anak sulungnya yang selalu bersemangat selalu ada kesedihan yang mengganjal di hatinya. Kepergian suami yang begitu cepat telah membuat hidunya lebih susah--walaupun keadaan tak jauh berbeda saat suaminya masih hidup. Tapi setidaknya, jika suaminya masih hidup si sulung masih bisa melanjutkan sekolahnya. Merasakan dunianya bukan berada di atas jalan raya mengais rupiah dibawah terik matahari dan bergumul dengan debu jalanan yang menyesakkan dada persis seperti nasib hidupnya yang harus sering mengelus dada agar lebih sabar lagi menghadapi kerasnya kehidupan di ibu kota negara.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar