Minggu, 01 November 2015

Dua Belas

"Nanti malam aku dan Beni ke kosan mu. Tunggu sekitar setengah delapan!" Gista mengingatkanku saat kami baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhir.

Aku hanya mengangguk.

Sesuai janji, malam ini kami hendak pergi untuk sekedar menghilangkan penat karena rutinitas belajar yang membosankan. Seperti biasa, kami pergi ke tempat favorit.

Ah, entahlah aku sendiri menjadi bingung dengan semua kebiasaanku kini. Bermain ke tempat-tempat hiburan malam pun rasanya kini bukan lagi menjadi hal yang tabu. Untuk sekedar menghirup bau minuman memabukkan pun bukan lagi hal yang aneh. Padahal, dulu aku sangat membenci tempat-tempat yang biasa aku kunjungi itu. Mungkin benar pepatah yang mengatakan bahwa saat kita bergaul dengan penjual minyak wangi maka sedikit banyaknya kita akan kena cipratan minyak wangi tersebut. Pun saat kita bergaul dengan penjual minyak tanah maka kita akan kena bau nya. Aku menyadari kekeliruanku, namun rasanya sulit untuk menghindar dari kebiasaan burukku ini. Apalagi jika sudah mengatakan solidaritas, aku tidak bisa mengelak. Lebih tepatnya tidak mau mengelak.

Tepat Jam setengah delapan terdengar bunyi klakson mobil dari jalan depan kontrakanku. Dan sudah kuduga, itu adalah suara mobil Beni.

Aku bergegas menuju mobil Beni agar dia tidak membunyikan klakson terus karena aku tak kunjung menemuinya.

"Cepat naik!" Seru Gista masih dalam mobil.

"Loh, Tiara?" Aku sedikit kaget saat masuk ke dalam mobil karena melihat seorang gadis yang aku kenal.

"Hey...." Sapa Tiara ramah.

"Dia cewek gue bro. Malam ini, bakalan ada pesta kecil-kecilan. Jadi sengaja gue ajak Tiara." Beni mengerti kebingunganku.

Dialah Tiara, salah satu gadis penghuni kelasku. Sosoknya yang cantik namun ramah. Dia salah satu primadona kampus, khususnya di fakultas tempatku menimba ilmu.

Jika boleh menggambarkannya, Tiara itu gadis yang sempurna. Pintar, kaya, cantik, ramah. Apalagi yang kurang?

Hanya memang, meskipun dia adalah gadis yang ramah dan membuat laki-laki menaruh hati padanya tapi tak ada yang berani mengungkapkan perasaan mereka. Semuanya memilih untuk mengubur parasaannya. Salah satu alasannya karena minder.

Tiara adalah anak seorang pengusaha sukses dengan semua fasilitas yang diberikan orang tuanya tak membuat dia menjadi sombong. Dia dikenal sebagai gadis yang suka membantu sesama. Menolong yang lemah. Ah, gadis mana yang tak kan iri padanya?

Memang, sebelumnya desas desus kedekatan antara Beni dan Tiara sudah menyebar. Tapi, tidak mudah mempercayai kabar yang dibawa burung liar. Tak baik pula mempercayai kabar yang dibawa angin. Sebelum benar-benar kita mengetahui kebenarannya semua kabar itu masih dikategorikan gosip. Dan gosip adalah salah satu konsumsi masyarakat zaman sekarang termasuk mahasiswa.

"Mulai kapan jadian?" Tanyaku. Berusaha memecah keheningan saat mobil terjebak macet.

"Baru juga seminggu, bro." Beni yang menjawab pertanyaanku. Sementara Tiara hanya mengangguk menyetujui jawaban Beni.

"Oh gitu, ya udah selamat aja deh. Semoga hubungannya bertahan lama sampai kakek nenek."

Suasana dalam mobil kembali hening. Mobil mulai melaju diantara kemacetan kota di akhir pekan.

"Oh iya Gis, gimana hubunganmu sama si Dian?" Aku berusaha menghidupkan suasana.

Gista yang sedari tadi melihat jendela memperhatikan pengendara motor yang sedang adu mulut dengan pengendara mobil pun sedikit kikuk.

"Pertanyaan lu serius apa ngeledek?"

"Ya serius lah."

"Cintanya di kebiri sama si Dian. Makanya dari tadi hanya diam saja macam orang sakit gigi." Beni  yang menyahuti pertanyaanku.

Sontak saja membuat aku, Beni dan Tiara tertawa. Ditambah pula dengan ekspresi Gista yang memprihatinkan.

Obrolan pun terus mengalir tentang hal-hal kecil yang akan di lakukan di villa.

"Gue punya kejutan buat kalian semua. Kita akan pesta. Pesta yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup." Beni.

Aku tak menanggapi.

Mobil terus melaju membelah jalanan. Menyusuri remang-remang bayang lampu jalanan.

***

Malam masih tetap sama.
Setia pada gelap.
Takluk pada gigil dingin.

Sementara tawa selalu berubah.
Kadang tertawa bahagia.
Kadang mentertawakan kekonyolan hidup.

Biarlah malam, menyimpan rahasia tawa anak manusia.
Yang berjalan di atas angan-angan.
Sementara esok belumlah pasti kan tiba.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar