Minggu, 16 Agustus 2015

Dua

Setiap detik yang berlalu. Setiap jam yang beranjak, pun setiap nafas yang terhembus. Semua adalah karuniaNya. Bersyukur atas semua kesempatan yan Tuhan berikan sudah menjadi kewajiban kita. Meski kadang ada saja penyesalan mengiringi setiap langkah waktu yang berlalu namun kita harus selalu percaya bahwa semuanya berada dalam pengaturanNya. Tak ada yang luput dari genggaman dan penglihatanNya.
Waktu.
Dari sejak adanya waktu atau sejak kita mengenal waktu, kita masih belum memahami seutuhnya tentang waktu. Selalu saja misterius. Setiap detik yang pergi selalu saja menyisakan misteri. Pun dengan masa yang akan kita songsong selalu saja rahasia.
Betapa kuasanya sang pengatur waktu. Waktu, kadang menjadi sesuatu yang kita rindukan namun bisa menjadi sesuatu yang kita benci. Kita tak pernah tahu apakah kebahagiaan atau kesedihan yang sedang menunggu kita di depan sana bersama waktu. Hanya saja pengalaman selalu mengajari kita agar tetap menghargai waktu.
Ini adalah detik-detik terakhirku berada di sekolah menengah atas. Masa remajaku akan segera berlalu menyisakan berjuta kenangan. Seperti kebanyakan remaja tanggung yang duduk di bangku sekolah menengah atas selalu saja ada cerita indah dalam masa ini.
Persahabatan, kebersamaan, solidaritas, ego, ambisi, pun cinta. Semuanya seolah menjadi warna tersendiri. Namun, itulah yang akan kita tindukan dari masa ini. Kenakalan, kedewasaan yang dipaksakan akan menjadi bumbu dari perjalanan masa ini. Semuanya akan segera berkahir.
Tangis pilu mengiringi lagu perpisahan.
Mimpi-mimpi menjadi penguat dibalik rapuhnya perpisahan.
Semua ada masanya. Perpisahan adalah sesuatu yang tak bisa kita hindari.
Biarkan semua yang telah kita jalani menjadi kenangan. Hidup harus terus berjalan. Semua akan silih berganti.

***
Aku memeluk sahabat-sahabatku. Saling menguatkan.
Ah, selalu saja perpisahan menjadi sesuatu yang menyedihkan.
Meski masih satu kota namun bukan berarti bisa berpisah tanpa kesedihan. Kami berasal daerah yang terpencar diseluruh kota.
Aku menatap lamat-lamat wajah sahabat-sahabatku yang pagi ini mengenakan stelan jas dipadukan dengan kemeja putihbdan dasi hitam. Wajah-wajah mereka tak bisa dilukiskan lagi. Sedih, senang, bahagia, pilu. Ah, semua rasa bercampur dalam satu. Namun yang pasti, aku melihat wajah-wajah optimis pada setiap senyum berusaha mereka sajikan. Seperti itu jugalah yang kurasakan. Semangat menggelora kian memuncak.
"Selamat kawan!!! Selamat menempuh perjuangan yang baru!" Komar sahabat setiaku memeluk dengan eratnya.
Meski banyak sahabat yang aku miliki di sekolah ini, namun bagiku Komar adalah sahabat istimewa. Kami sudah seperti amplop dan prangko, seperti sepasang sepatu atau seperti bola basket dan ring. Kami selalu saling menguatkan, saling mendukung rasanya ada yang kurang jika hari-hariku tanpa komar. Kami baru saja berkenalan saat memasuki sekolah ini. Walau kami satu kota namun kami beda kecamatan. Jarak kecamatan kami pun terpisahkan jarak yang sangat jauh. Aku berada di pelosok ujung selatan kota dan dia di ujung utara kota.
"Selamat juga! Jangan pernah melupakanku! Kita harus saling memberi kabar setelah perpisahan ini!" Aku menepuk-nepuk punggung sahabatku itu dengan penuh keharuan.
"Kamu yang jangan pernah melupakanku! Kamu akan memasuki dunia kampus yang pasti akan memiliki lebih banyak teman baru disana." Komar menatapku serius.
"Aku tidak akan melupakanmu seberapapun banyaknya teman baruku nanti. Kamu bukan sekedar teman tapi sahabat dan saudara bagiku." Aku berusaha tersenyum meyakinkan.
Memang, setelah perpisahan ini aku akan melanjutkan pendidikanku di tanah rantau. Di Depok tepatnya. Aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan di kampus nomor Wahid di negeri ini. Sedangkan Komar, dia memutuskan untuk bekerja dan mencari pengalaman terlebih dahulu baru. Sebenarnya, dia juga berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Hanya saja kenyataannya masih belum memungkinkan. Beberapa bulan yang lalu ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ayahnya adalah satu-satunya sumber penghasilan keluarga. Setelah ayahnya meninggal secara otomatis kran pendapatan keluarganya hilang. Untuk menyelesaikan sekolah menengah atas pun Komat menggunakan sisa-sisa warisan yang ditinggalkan ayahnya. Sementara Komar juga memiliki dua orang adik sepertiku. Mau tidak mau sebagai anak sulung dia harus  menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga. Sebenarnya aku merasa kasihan dengan Komar, dia memiliki semangat belajar yang tinggi juga memilki bakat yang cukup hebat dibidang seni. Hanya saja aku pun tak bisa apa-apa selain mendoakan yang terbaik.
Hari ini aku menatap wajah sahabatku itu sekali lagi. Tidak ada yang berubah dengannya. Dia selalu saja berusaha terlihat ceria di hadapan orang lain. Dialah sahabat terbaikku.
"Ngomong-ngomong, mana gadis incaranmu?" Komar tiba-tiba tersenyum menggoda padaku. Bulu alisnya yang panjang sebelah itu naik turun. Dia cengar-cengir ngga jelas.
Aku menepuk dahiku. Untuk beberapa alasan. Yang pertama sudah pasti karena tingkah konyol sahabatku itu. Bayangkan saja saat aku benar-benar menikmati keharuan tiba-tiba saja dia menanyakan hal tersebut khas dengan tatapan menggoda 'liar'nya. Alasan yang kedua tentu lebih serius, aku lupa bahwa aku sudah berjanji akan foto bersama saat perpisahan dengan seorang perempuan. Dia adik kelasku. Sebenarnya kami masih satu kecamatan hanya saja beda desa. Sebagai sahabat dekatku, tentu tidak ada lagi yang kurahasikan lagi dari Komar, termasuk masalah perempuan. Sekali lagi, dia adalah sahabatku. Dia selalu bisa menjaga semua rahasiaku dan aku pun berusaha menjaga semua rahasianya. Dia selalu mendukungku dalam segala hal termasuk masalah perempuan.
"Kamu itu pinter, aktif di sekolah, baik dan tampan walau pun sedikit. Jadi sudah pasti dia akan dengan mudah menerima cintamu." Itulah dorongannya saat aku mengatakan bahwa aku malu mengatakan perasaanku pada gadis incaranku itu. Namun tetap saja aku belum berani mengutarakan perasaanku bahkan sampai sekarang aku sudah harus lulus dari sekolah ini.
Dan hari ini, ah gadis itu memintaku untuk berfoto bersamanya sebagai kenang-kenangan, katanya. Aku segera keluar ruangan aula yang jadi tempat perpisahan dan mencari gadis itu.
Aku menyapukan pandanganku ke setiap jengkal halaman sekolah. Pencarianku berhenti kala mendapati seorang gadis berkerudung sedikit lebar yang sedang duduk di atas bangku taman tepat di bawah pohon akasia. Aku yakin gadis yang sedang duduk membelakangiku itu adalah gadis yang yang kucari. Aku telah mengenalnya sejak lama jadi dugaanku tidak mungkin salah. Aku segera bergegas ke taman sekolah dan meninggalkan aula tempat perpisahan yang sudah sedikit gaduh karena sudah mulai acara hiburan.
"Sudah lama?" Ternyata sapaanku sedikit mengagetkannya.
"Eh ka, nggak. Lagipula sedang menunggu teman." Kilahnya. Padahal aku tahu dia sudah berada di sana sejak lama untuk menungguku sesuai janjiku kemarin. Itu terlihat dari raut wajahnya yang baru saja siuman dari prustasi menunggu.
"Kirain lagi nunggu kaka." Aku sedikit menggodanya.
Dia hanya diam.
"Bagaimana, jadi gak foto barengnya?"
"Terserah kaka saja."
Dia adalah adik kelas satu tingkat dariku itulah sebabnya dia memilih memanggilku kakak. Lagi pula sapaan itu sudah lumrah dikalangan aktivis. Namun, entah kenapa jika dia yang memanggil sapaan itu rasanya lain. Entahlah.
Kami segera bergegas menuju fotografer yang memang menawarkan jasanya untuk melakukan pemotoan pada semua siswa yang ingin mengabadikan moment tertentu. Setelah beberapa kali kami melakukan pemotoan, kami sudah bisa langsung mendapatkan hasilnya. Aku memberikan satu lembar foto pada gadis adik kelasku itu.

***

Bunga-bunga yang indah ditaman yang hijau
Selalu saja membuat mata tergoda
Namun, sabarlah!
Biarkan bunga itu mekar dengan sempurna.
Biarkan dia membagi semerbak harumnya.
Kelak, jika sudah masanya.
Bunga itu dapat kau petik dengan mudahnya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar