Kamis, 20 Agustus 2015

Tiga

Aku terlahir disebuah desa yang asri. Hijau pohon-pohon selalu memanjakan mata kala pagi membuka tirai kamar. Rumahku persis berhadapan dengan bukit barisan yang membentengi desa. Sejuk udara pegunungan membawa ketenangan pada jiwa. Hamparan sawah-sawah yang membentang dari ujung desa hingga ke ujung desa yang lain nampak berkilauan saat pohon-pohon padi yang mulai menguning itu dihujani cahaya matahari pagi. Embun-embun yang bergelantungan pada ujung daun padi memantulkan kembali cahaya mentari pagi dengan bias keemasaan karena menyatu dengan warna daun padi yang mulai menguning. Hamparan permadani padi yang mulai menguning itu bak penghias desaku hingga terlihat kian cantik.Aku ingin kealamian ini tetap alami sebagaimana mestinya.
Bukankah sesuatu yang alami selalu nampak indah?
Tuhan telah menciptakan sesuatu yang indah untuk kita nikmati dan syukuri. Karena seyogyanya, Tuhan pun menyukai semua keindahan.
Dialah Siti Halimah. Dialah keindahan yang lain. Gadis yang telah menyihirku selama satu tahun terakhir. Gadis yang kesehariannya selalu mengenakan kerudung yang sedikit lebar itu telah mengalihkan semua duniaku. Aku yang awalnya antipati terhadap cinta masa remajapun mulai menyadari rasanya cinta. Aku bukanlah orang yang pandai menyukai lawan jenis. Namun, saat aku melihatnya suatu pagi di perpustakaan tiba-tiba saja aku merasakan rasa yang lain.
Aku tidak akan terburu-buru untuk mengatakan bahwa ini adalah cinta. Masa muda sepertiku masih memiliki emosi yang labil. Bisa saja hari ini kita mengatakan suka namun esok sudah berubah menjadi benci. Setidaknya itu yang kupelajari dari teman-teman sekolahku yang sudah mengenal kata pacaran. Aku belum tertarik dengan kata yang satu itu.
Namun, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa setelah aku melihat gadis itu di perpustakaan, aku merasakan sesuatu yang lain pada diriku. Aku menjadi aneh. Aku selalu saja merasa kehilangan jika sehari saja tidak melihat dia. Gadis itu ternyata adik kelasku dan berasal dari tetangga desaku. Ah, kemana saja aku selama ini jika ternyata di desa sebelah ada bidadari seperti dia. Wajah bulatnya yang dibalut kerudung lebar, matanya, hidungnya, bibirnya, ah aku jadi sering memperhatikan dia hingga aku hafal ada tahi lalat kecil di sebelah kanan hidungnya. Wajahnya yang mulus terlihat bercahaya, kulitnya kuning langsat seperti kebanyakan gadis sunda. Satu hal lagi yang paling kusuka darinya ialah dia selalu saja tersenyum ramah namun tetap menjaga tatapannya.
Sebenarnya, saat aku pertama kali melihatnya dan aku mengutarakan pada Komar bahwa aku menyukai gadis itu ingin rasanya aku menyatakan perasaanku seperti saran Komar. Namun, niat itu aku urungkan. Rasanya aku segan untuk mengatakan hal itu. Aku berprasangka bahwa dia akan menolakku meski Komar selalu mengomporiku dengan kelebihanku. Tapi, aku tidak berpikir bahwa dia menolakku karena alasan fisik namun lebih kepada dia sepertinya ingin serius dalam sekolahnya sepertiku. Aku sendiri telah berjanji pada orang tuaku untuk serius sekolah dan tidak pacaran dulu.
Tapi, bukan berarti aku menjauhi gadis itu. Aku justru dekat dengan gadis itu. Mungkin lebih dari sekedar teman biasa. Karena memang dia berbeda dengan teman-teman perempuanku yang lain.
Aku tetap bisa menikmati senyumnya meski hanya sebagai seorang sahabat. Dan aku memiliki kebiasaan lain setelah itu. Aku selalu merindukan senyumnya.
Sekali lagi, aku tidak ingin mengikat hubunga persahabatan kami dengan yang namanya pacaran sebagaimana yang dilakukan temanku yang lain.
Aku hanya memastikan bahwa tidak ada laki-laki yang lebih dekat dengannya kecuali aku. Kelak, aku akan mengatakan perasaanku dengan caraku sendiri. Bukankah bunga yang dipetik saat mekar sempurna akan lebih indah?
Siti Halimah adalah anak seorang kepala desa di desa sebelah. Sebenarnya, aku sudah mendengar desas-desus dari teman-temanku di desa bahwa kepala desa sebelah memiliki anak gadis yang cantik. Namun, aku tak pernah peduli denga yang dikatakannya sebelum aku benar-benar melihatnya di perpustakaan sekolah.
Dan kini aku menyaadari bahwa apa yang dikatakan teman-temanku kurang tepat. Gadis itu tidak cantik. Tapi, Cantik dan anggun sekali. Ah,

***
"Selamat ya ka." Siti membuka percakapan diantara kami yang sedikit kaku setelah melakukan foto bersama.
"Terimakasih. Kamu juga sebentar lagi lulus."
"Doakan saja ya ka semoga saya  juga bisa mendapatkan beasiswa setelah lulus nanti."
"Aamiin". Singkat saja aku menjawab.
"Aamiin. Kapan kaka akan berangkat ke Depok?"
"Mungkin seminggu lagi."
"Emph...." Hanya itu yang keluar dari bibir tipisnya.
Keheningan mulai menyergap kami.
"Setelah ini. Mungkin kita akan jarang bertemu lagi." Aku menangkap aroma kesedihan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Tenang saja! Kita masih bisa bertemu walapun mungkin tidak sesering kemarin-kemarin. Lagipula jarak rumah kita sebenarnya tidak terlalu jauh." Aku berusaha mengontrol lagi suasana.
"Semoga saja ka."
Entah kenapa pada pembicaraanku kali ini dengannya aku merasakan hal yang lain. Aku merasakan ada sesuatu yang lain pada setiap kata yang keluar dari bibir kami.
Aku tidak ingin terburu-buru untuk mengartikan yang lain.
Aku merasakan kesedihan yang aku sendiri bingung mencari penyebabnya. Kesedihan yang tak biasa.
Aku berjanji padanya jika nanti aku sudah berada di tanah rantau akan mengabarinya.
Janji-janji seperti itu rasanya sangat berlebihan jika diikrarkan oleh sepasang sahabat biasa. Apalagi jika dengan lawan jenis. Tapi, itulah kenyataannya. Aku belum mengatakan apapun tentang perasaanku. Tapi aku merasakan kesedihan saat jarak akan memisahkan kami.
Aku menutup perbincangan hari itu dengan berpesan kepadanya agar tidak memikirkan hal lain selain belajar.
Karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi untuk masa yang lebih lama. Begitulah pesan-pesanku pada gadis berkerudung dihadapanku itu.

***

Hidup adalah kita
Cinta pun juga kita.
Jarak ada diantara keduanya.
Jarak akan menguji kita.
Jika saja kita mampu menguasai jarak yang memisahkan.
Kelak kita akan mampu melihat cinta yang hidup diantara kita.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar