Aku lebih memilih menghabiskan waktu luang di kampus atau di kost-kostan. Sudah hampir satu tahun aku berada disini dan hari-hariku berjalan stagnan. Kampus-Kostan menjadi tempat yang menghabiskan hari-hariku. Bahkan aku belum pernah sekalipun sekedar berjalan-jalan menikmati suasana kota.
Seperti sore ini aku lebih memilih menghabiskan hari dengan berduduk santai memandangi air danau yang berada di tengah-tengah kampus. Ini salah satu tempat favoritku setiap saat. Aku tidak pernah bosan berada disini.
"Heyy,,,." Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku dengan sedikit keras dari belakang yang sontak membuatku terperanjat.
"Euh,,," Aku sudah menduga siapa yang datang. Aku melihat mereka sejenak lalu mengalihkan pandanganku ke danau lagi. Tidak semangat melihat mereka.
Mereka adalah Beni dan Gista. Kedua sahabatku yang sebenarnya sangat baik padaku namun kadang sering membuat jengkel karena kebiasaannya memukul pundakku dari belakang seperti beberapa saat yang lalu.
"Lagi nunggu cewe ya?" Tanya Beni sambil senyum-senyum tidak jelas maksud.
"Alaaah,,, mulai kapan si Ilham tertarik sama cewe. Paling juga dia lagi mikirin tugas." Sebelum aku menjawab, Gista sudah menimpali pertanyaan Beni.
Sontak saja perkataan Gista membuat Beni tertawa. "Oh iya, lupa. Si Ilham kan gak suka sama cewe."
Ya begitulah jika sahabat-sahabatku sudah berkumpul. Jika aku sedang bergairah biasanya aku akan membalas mengolok-olok mereka.
Kedua temanku ini adalah sosok generasi muda yang tumbuh besar ditanah metropolitan. Pergaulan mereka sangat luas. Tapi, aku merasakan kenyamanan bersama mereka.
Hari ini, entah kenapa suasana hatiku tidak karuan. Sampai-sampai aku sendiri lupa sudah berapa lama duduk di tepi danau.
Rasanya, setahun berada di kota ini membuatku sedikit rindu akan kampung halaman.
***
"Eh, malam minggu jalan yu bro!" Seperti biasa, Beni selalu saja pandai membuka percakapan diantara kami.
"Kemana?" Tanya Gista.
Aku hanya memalingkan wajah pada Beni tanda setuju dengan pertanyaan Gista.
"Ya kemana aja. Sekalian refresh otak abis ujian."
"Ngajak maen tapi ga jelas tujuan." Keluh Gista.
"Udah tenang aja masalah tujuan jangan bingung. Yang penting kalian mau gak?"
"Ok." Singkat saja Gista menjawab.
"Lu gimana bro?" Sudah pasti pertanyaan itu ditujukan padaku.
Aku hanya diam.
"Ayo lah bro, sesekali jalan bareng. Sudah setahun lu disini tapi belum pernah jalan bareng kita."
"Baiklah sekalian refresh otak." Jawabku.
"Nah gitu dong. Nanti gue ajak lu melihat wajah Jakarta dimalam hari."
Entahlah apa maksudnya. Bagiku itu tidak terlalu penting toh sepertinya seru melihat kehidupan malam di Jakarta.
Kami bertiga melanjutkan obrolan-obrolan ringan tentang apa saja.
Kami lebih banyak membicarakan pasangan muda-mudi yang sedang duduk berdua tidak jauh dari tempat kami duduk. Sampai-sampai pasangan itu pergi karena risih mendengar tawa kami yang terbahak-bahak.
Sekali lagi, Beni dan Gista adalah teman yang cukup membuat nyaman. Meskipun sebenarnya aku aktif dalam organisasi kampus yang sudah tentu memiliki banyak sahabat yang satu pemikiran namun aku lebih nyaman menghabiskan hari bersama Beni dan Gista. Dari merekalah aku mengetahui dunia yang sebelumnya tidak aku ketahui. Dengan kata lain keduanya memberikan variasi dalam hidupku. Tidak hanya tentang tugas-tugas kampus atau diskusi-diskusi sosial di organisasi yang tak pernah terealisasikan.
Mungkin, aku mulai jenuh dengan rutinitasku yang berjalan stagnan.
Obrolan kami baru berakhir saat adzan magrib berkumandang. Setelah ini kami akan disibukan dengan ujian-ujian yang menguras otak.
***
Kehidupan adalah arena.
Musuh akan selalu siaga mengintai.
Lengah, berarti kalah.
Menyerah bukan solusi.
Dan Cinta menyadarkan bahwa hidup harus menang.
Jangan lengah,
Usah kalah,
Apalagi menyerah.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar