Kamis, 20 Agustus 2015

Empat

Konon, Jakarta selalu menawarkan tantangan yang menarik bagi para petarung ulung. Namun, Jakarta juga menjadi momok yang menyeramkan bagi para pecundang. Dan aku? Entahlah akan menjadi petarung atau pecundang. Petarung tidak harus selalu jadi pemenang. Setidaknya, semua pemenang adalah para petarung begitulah rumus yang kupelajari pada sebuah pelajaran logika. Seorang petarung akan menjajal kemampuannya. Jika hanya diam dikandang, seekor singa akan kalah dengan seekor kambing yang berada di belantara. Itulah yang kuyakini.
Diantara desak-desakkan penumpang bus yang sedang berebut tempat duduk aku masih menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Aku tidak merasa terganggu dengan keributan-keributan kecil yang terjadi di bus.
"Saya yang lebih dulu masuk, jadi saya yang berhak duduk." Kata salah seorang penumpang.
"Justru saya sudah naik dari tadi kalau tidak percaya tanyakan saja pada pak supir!" Kata penumpang yang lainnya.
Setidaknya itulah kata-kata yang mampir di pendengaranku.
Aku menyibukan diriku dengan membaca sebuah buku Autobiografi salah seorang tokoh negeri ini. Keributan kecil itu sedikit membuat bising ditelingaku. Namun, aku yang baru dua kali menumpang di bus ekonomi menggap mungkin inilah yang biasa terjadi di dalam bus yang sudah sesak penumpang namun tetap dipaksakan menaikan penumpang di tengah jalan. Karena saat aku menumpang bus untuk yang pertama kalinya pun tak jauh berbeda.
"Gantian dong duduknya. Saya perjalanan masih jauh dari tadi berdiri." Sindir salah seorang penumpang kepada penumpang lain didepanku. Atau mungkin sebenarnya menyindirku. Namun, sekali lagi aku memilih diam.
Keributan-keributan kecil selalu saja menghiasi sepanjang perjalanan. Sesekali ada penyanyi jalanan yang menjajakan suara emas mereka dalam bus.
Aku memilih menenggelamkan diriku dalam buku yang ada di hadapanku.

***

Pada kaca jendela bus yang berembun karena embus nafasku aku mencoret-coretkan tanganku tidak jelas apa yang aku tulis. Aku bisa dengan jelas memperhatikan pohon-pohon gersang dipinggir jalan yang seolah mengikuti bus yang sedang ku tumpangi. Ah, semuanya hanya tentang pandangan saja. Semua yang dipandangan manusia tak selalu demikian. Kadang, semua yang kita lihat hanyalah sebuah tipuan belaka.
Tiba-tiba aku teringat akan nasihat-nasihat ibu dan bapakku sebelum aku benar-benar merantau menuntut ilmu ke tanah yang jauh dari tempat ari-ariku dikuburkan.
"Dimanapun kamu berada, tetaplah rendah hati. Ingatlah bahwa kita tidak hidup sendiri dimanapun kaki kita berpijak. Disekeliling kita akan banyak orang yang hadir mengisi kehidupan kita. Bisa saja mereka yang baik yang akan masuk ke dalam kehidupan kita. Namun, bukan tidak mungkin orang yang ingin mencelakakan kitalah yang masuk kekehidupan kita. Tetaplah rendah hati! Karena itulah tameng yang akan melindungi kita dari semua kemungkinan buruk. Ingat! Diatas langit masih ada langit, jangan pernah takabur!" Pesan bapakku saat aku mencium tangannya untuk berpamitan.
"Jaga diri baik-baik. Jaga sembahyang jangan sampai dikesampingkan. Belajar yang benar agar kelak bisa menjadi orang yang bermanfaat!". Begitu pesan ibukku saat aku mencium tangannya-- berpamitan.
Meskipun aku merantau untuk menuntut ilmu dan bukan untuk bekerja namun orang tuaku selalu saja mengkhawatirkanku. Mungkin, memang begitulah semua orang tua. Padahal, aku sendiri merasa telah dewasa. Untuk sekedar menjaga diriku.
Pikiranku tiba-tiba saja teringat pada gadis itu. Adik kelasku. Siti Halimah. Sebelum aku pergi, dia memberikanku kenang-kenangan sebuah foto kami berdua saat perpisahanku. Hanya saja foto itu telah dibingkai dengan indah.
Aku, aku belum sempat menyiapkan kenang-kenangan apapun. Entah apa maksud pemberian kenang-kenangan itu. Aku sendiri tidak sempat bertemu dengannya. Dia menitipkannya pada adikku yang kebetulan ketemu. Mungkin juga sengaja menemuinya. Entah.
Aku menatap foto kami berdua yang sudah dibingkai dengan cantiknya. Saat aku menatap foto tersebut rasanya aku telah menjadi seorang pria dewasa yang akan berpisah dari pujaan hatinya. Padahal kami, masih jauh dari kata dewasa. Aku saja batu akan memulai kuliahku. Sedangkan Siti masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas. Dan hal yang paling mengganjal lainnya ialah kami bukan siapa-siapa. Hanya sebagai teman.
Mungkin, pendapat yang menyatakan bahwa cinta akan membawa seseorang pada tahap dewasa dengan lebih cepat harus aku aminkan. Setidaknya itu jugalah yang aku amati pada teman-temanku dulu. Mereka yang sudah memiliki pacar seperti telah menjadi lebih dewasa dari umurnya. Mereka sering sekali berbagi kejutan yang romantis. Menikmati sunset ditaman bersama. Meski masih dengan uang orang tuanya sepertinya mereka tidak pernah peduli dengan itu. Mereka seolah menikmatinya. Benarkah demikian?
Aku segera memasukan buku dan foto tersebut kedalam tas saat kernet sudah berteriak-teriak membangunkan penumpang yang masih tertidur.
"Rambutan,,, Rambutan,,, Siap-siap!" Teriak si kernet dengan lantang sambil memukul-mukul daun pintu bus.
Bus akan segera memasuki terminal kampung Rambutan. Itu artinya aku akan segera sampai di tempat tujuan. Bus ini hanya mengantar sampai terminal kampung Rambutan.
Suasana terminal tengah dilanda kesibukan yang luar biasa saat aku keluar dari bus membawa tas besar dan menjinjing kardus yang berisi beberapa makanan.
Aku segera bertanya pada pedagang di terminal bagaimana agar aku bisa sampai di kampus nomor wahid di negeri ini yang menjadi impianku sejak dulu. Pedagang itu menunjuk beberapa angkot berwarna merah yang akan membawaku ke Depok walaupun memang tidak bisa langsung. Katanya nanti aku harus naik satu kali lagi. Aku mengikuti sarannya.
Setelah hampir satu jam perjalanan dari terminal kampung Rambutan akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Aku menatap penuh takjub kampus yang akan menjadi cerita hidupku beberapa waktu yang akan datang.
Selamat datang Ilham Ramadhan, perjuangan baru saja akan dimulai. Cerita yang sesungguhnya baru akan tertulis. Kamu akan mencari jalan hidupmu disini. Gumamku dalam hati.
Depok yang memang berbatasan langsung dengan Jakarta terasa sangat panas. Udaranya berbanding terbalik dengan kotaku yang memang masih asri. Aku akan segera menyesuaikan. Pun dengan segala risiko yang akan segera hadir dalam setiap perjalanan hidupku.

***

Pada setiap jejak yang kutinggalkan.
Yakinlah! Akan tertulis namamu disana.
Aku menyimpan namamu dalam setiap langkahku.
Agar kelak, cinta tahu kemana harus kembali.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar