Jakarta sepertinya tak seseram yang orang katakan tentangnya. Aku melihat beberapa hal yang menyenangkan dengan ibu kota ini. Walau memang lebih banyak yang tidak menyenangkannya. Sejak hidup di kota yang berbatasan langsung dengan Jakarta aku bisa merasakan aura kehidupan kota besar. Masalah-masalah kota ternyata lebih rumit daripada yang sering diperdebatkan di kampus-kampus yang semuanya lebih banyak wacana daripada tindakannya.
Setidaknya begitulah yang aku rasakan selama hidup di sini dan menuntut ilmu di universitas nomor wahid di negeri ini. Aku aktif di organisasi kampus. Aku merasa takjub dengan kawan-kawannku yang memiliki semangat yang tinggi terhadap perubahan lingkungannya. Diskusi-diskusi tentang permasalahan negeri ini pun sering aku ikuti. Namun dari setiap diskusi itu aku belum benar-benar menyaksikan dan melakukan tindakan yang nyata terhadap apa yang kami diskusikan. Ternyata diskusi-diskusi yang berjalan dengan penuh antusias itu hanya berakhir dengan wacana tanpa ada tindakan nyata. Itulah sekelumit perjalananku di kampus sampai sejauh ini. Siasanya, aku merasa bangga terhadap kampus ini. Dan aku lebih bangga lagi karena aku telah menjadi bagian dari kampus terbaik di negeri ini. Mungkin saja aku adalah orang pertama dari desa atau kecamatanku yang berkesempatan menuntut ilmu di kampus ini.
Perjalananku di kampus ini telah berjalan hampir dua smester. Sampai saat ini, aku merasa bisa menyesuaikan dengan kehidupan kampus dan lingkungan tempatku tinggal. IP-ku di kampus juga tidak terlalu buruk dan mampu mencapai angka yang aku targetkan. Sejauh ini, aku sudah akrab dengan banyak mahasiswa lainnya. Namun, seperti biasa aku selalu memiliki teman-teman yang spesial dalam setiap tingkatan pendidikan yang aku jajaki. Diantaranya, Irman yang berasal dari kota yang sama denganku yakni Kuningan. Dia juga satu kost-kostan denganku. Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dia yang tiba-tiba saja memanggil namaku saat aku sedang berjalan di jalan utama kampus. Dia mengenali namaku namun aku tidak sedikitpun mengenalinya.
"Ini Ilham kan?" Tanyanya ketika itu.
"Iya. Bagaimana kamu bisa tahu namaku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Aku merasa heran karena seingatku, aku baru saja melihatnya.
"Ah, siapa sih yang tidak mengenal nama Ilham Ramadhan salah satu siswa berprestasi yang dimiliki Kabupaten Kuningan."
"Ah, kamu bisa saja. Biasa saja, aku yakin kamu juga bukan siswa biasa hingga bisa masuk ke kampus ini." Aku berusaha merendah walau sebenarnya dalam hatiku melonjak-lonjak karena pujian itu.
"Oh iya. Apakah kamu juga berasal dari Kuningan?" Aku menduga-duga bahwa dia memang berasal dari kota yang sama denganku.
"Iya. Saya juga dari Kuningan."
Obrolan pun berlanjut dengan bahasa sunda agar lebih akrab lagi. Pembicaraan tentang bagaimana dia bisa masuk ke kampus ini, jurusan yang diambil, asal daerah, asal sekolah sampai akhirnya kami memutuskan untuk kost bersama.
Dia bisa menjadi teman yang baik bagiku. Mungkin karena memang kami berasal dari daerah yang sama.
Selain itu aku juga sangat dekat dengan beberapa orang lainnya seperti Bobi dan Adam. Mereka berdua asli orang Jakarta. Mereka tidak bisa dikatakan orang baik namun juga tidak bisa dikatakan orang yang tidak baik. Pergaulannya seperti kebanyakan orang-orang yang terbiasa hidup di kota. Namun, mereka adalah sahabat-sahabatku yang memiliki rasa solidaritas tinggi. Mereka tahu memaknai arti persahabatan. Keduanya berasal dari keluarga yang cukup berada. Aku pernah beberapa kali main ke rumah mereka di salah satu kawasan perumahan di Jakarta Timur. Dengan melihat keadaan rumahnya, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka berasal dari golongan orang yang berada. Sering aku di traktir oleh mereka dengan imbalan aku membantu mereka menyelesaikan tugas-tugas kampus. Bagiku itu cukup sebanding.
***
Meski sudah tengah malam namun kehidupan kota tak pernah berhenti barang sejenak pun. Aku masih mendengar kegaduhan-kegaduhan di luar kost-kostanku. Suara lengkingan klasksonpun masih sering terdengar dari jalan raya yang tak jauh dari tempat kostku. Padahal biasanya jika di kotaku jam tengah malam biasanya keadaan kota sudah senyap. Di jalan pun paling juga hanya ada satu atau dua kendaraan yang lalu lalang. Apalagi jika dibandingkan dengan desaku. Disana siang hari pun sudah sepi apalagi jika malam hari. Paling hanya terdengar gemerisik jangkrik dan nyanyian kodok di tengah sawah atau lolongan anjing liar.
Aku sudah tidak merasa asing lagi di sini.
Aku baru saja menyelesaikan tugas-tugas kampusku. Aku menyambar sebuah amplop yang belum sempat kubuka. Alamatnya pengirimnya sudah jelas dari orang tuaku. Orang tuaku sudah beberapa kali mengirimkan surat sejak aku tinggal disini dan semuanya aku balas.
Aku membuka amplop putih polos yang dimasukan dalam amplop coklat yang lebih besar itu. Surat sederhana namun selalu menyampaikan pesan yang tidak sesederhana amplop maupun tulisannya. Surat yang ditulis dengan bahasa sunda itu selalu saja membuatku terenyuh.
Kepada
Anakku
Ilham Ramadhan
Di tempat
Assalamualaikum.
Nak, bagaimana kabarmu disana. Ibu dan Bapak berharap kamu disana dalam keadaan sehat wal afiat karena kami disini juga dalam keadaan tak kurang apapun.
Oh iya bagaimana kabar kuliahmu? Ibu dan bapak selalu berdoa untuk kebaikanmu. Orang-orang di desa juga sering menanyakanmu. Semoga saja kamu bisa menyelesaikan kuliah dengan hasil yang memuaskan dan bisa kembali kesini agar bisa berkumpul lagi dengan ibu dan bapak.
Adik-adikmu juga sering menanyakanmu. Mungkin mereka sudah kangen dengan kakaknya. Biasanya mereka sering bercanda denganmu tapi sekarang kamu belum pulang sudah hampir satu tahun. Oh iya, kamu pulang kan setelah ujian nanti? Kalau memang tidak terlalu sibuk lebih baik pulang. Tapi kalau memang sibuk jangan terlalu memaksa.
Mungkin hanya itu isi surat kali ini. Balasan suratnya selalu kami tunggu.
Oh iya hampir lupa, kemarin ada gadis yang menanyakanmu. Katanya dia anaknya kepala desa sebelah.
Wassalamualaikum.
Aku tertegun setelah membaca surat dari orang tuaku kali ini. Alasannya karena isi suratnya tak biasa dan juga tulisannya sedikit berbeda. Pasti ini adalah tulisan adikku. Dia mungkin disuruh oleh orang tuaku menulis surat ini. Namun untuk paragraf terakhir dari surat ini aku meragukan itu berasal dari orang tuaku. Kalaupun itu juga disuruh oleh orang tuaku, aku yakin kedua orang tuaku terkekeh saat menuliskan paragraf terakhir surat tersebut.
Aku hafal dengan wajah orang tuaku. Keduanya memang senang bercanda dengan anak-anaknya. Itulah cara mereka untuk berinteraksi dengan anak-anaknya. Aku sudah hafal bagaimana wajah ibuku saat menggodaku. Ibu memang paling sering menggodaku.
"Eh, ibunya si anu nanyain kamu tuh. Anaknya cantik kalau menurut ibu. Baik lagi." Kata ibuku saat kami sedang bersantai dengan keluarga. Ibuku akan senyum-senyum mengajak bapakku untuk senyum berjamaah. Aku tahu maksud yang sebenarnya bukan memberitahu bahwa ibu si anu menanyakanku namun ibu ingin memberitahu kalau anaknya cantik. Jika ibuku sudah keluar kebiasaan menggodanya maka aku hanya bisa menepuk jidatku sambil tertawa.
Ah, tiba-tiba saja aku rindu dengan keluargaku. Aku juga tahu sebenarnya ibu tidak benar-benar ingin agar aku dekat dengan perempuan. Ibu justru ingin agar aku tetap fokus menuntut ilmu.
Ah, gadis itu. Aku hampir saja melupakan gadis itu. Aku lupa akan janjiku untuk mengabarinya jika aku sudah berada disini. Tiba-tiba saja hatiku bergemuruh untuk sebuah perasaan yang tak kumengerti. Aku sudah hafal dengan perasaan yang bergemuruh di hatiku ini. Perasaan yangbsering muncul ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah Atas.
Bagaimana kabar gadis itu?
Pasti dia baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolahnya atau mungkin sedang melaksanakan acara perpisahan sekolah yang menyedihkan.
Apakah benar dia menanyakanku. Ah, untuk apa?
Apakah dia juga akan melanjutkan pendidikannya disini sesuai harapannya?
Aku merindukannya. Senyumnya, matanya, ah aku masih ingat akan tahi lalat di sebelah kanan hidungnya.
"Weuyyy... Kenapa cengar-cengir sendiri?" Celetuk Irman mengagetkanku.
Aku baru menyadari ternyata dari tadi aku cengar-cengir sendiri.
"Eh nggak." Tukasku sambil melipat surat ditanganku namun tetap senyum mengembang dari bibirku.
"Pasti surat dari pacarmu ya? Saya kira orang pintar sepertimu tidak mengenal cinta. Yang ada hanya belajar dan belajar."
"Bukan. Ini dari orang tuaku." Aku memperlihatkan sekilas suratku padanya namun tidak sampai dibaca olehnya. " Lagipula saya juga manusia normal. Kalau memang ada cewek yang mau denganku pasti sudah aku pacari." Tawaku meledak seketika.
Irman juga begitu.
"Orang pintar, baik, aktivis sepertimu tidak sulit mencari pacar kalau kamu benar-benar niat." Tambahnya.
Aku tidak menanggapi lagi. Lagipula sebenarnya aku tidak tertarik dengan percakapan terkahir itu. Meski memang banyak perempuan yang dekat denganku namun tak ada yang menarik hatiku selain Adik kelasku di SMA dulu.
Irman juga tidak meneruskan obrolan itu.
Aku melemaskan badanku di kasur kost-kostanku. Belum memutuskan untuk membalas surat dari orang tuaku.
***
Angin malam yang berhembus pelan.
Merayapi seluruh kulitku.
Juga hatiku.
Membawa kabar dari para pujangga.
Tentang keindahan cinta.
Setiap pagi yang menyongsong.
Sinar mentari yang lembut membelai pipi.
Selalu membawa semangat.
Juga harapan.
Tentang bunga cinta yang akan segera mekar.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar