Sabtu, 25 Agustus 2012

Satu

Kesombongan mutlak hanya milik Tuhan, sehebat apapun manusia tak pernah memiliki hak untuk menyombongkan diri apapun alasannya. Namun, manusia tetaplah manusia yang kadang masih banyak yang tak mampu menguasai nafsu yang ada pada dirinya sendiri.
Padahal, nabi dan rasul pun tak pernah menyombongkan dirinya meski dianugerahi gelar nabi dan rasul juga dengan segala keistimewaan yang melekat pada dirinya. Mereka justru tetap rendah hati dihadapan manusia dan rendah diri di hadapan TuhanNya. Keteladanannya tertulis dalam setiap litelatur.
Namun disisi yang lain ada juga manusia dengan kisah kesombongan yang berakhir dengan tragis tertulis juga dalam literatur. Tak pernah ada sejarahnya orang yang sombong mendapat kebahagiaan di akhir hidupnya. Kecuali jika dia bertaubat ditengah jalan.
Namaku adalah Ilham, seorang pemuda yang di lahirkan di tanah subur di ujung selatan provinsi Jawa Barat. Ilham Ramadhan lengkapnya. Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang istimewa-- setidaknya bagiku. Kedua orang tuaku bekerja sebagai guru honorer yang merangkap sebagai petani sebagaimana kebanyakan mayoritas penduduk desaku.
Sebagaimana kita sama-sama ketahui bagaimana nasib honorer di negeri ini. Kalau hanya mengandalkan honor saja rasanya akan sulit untuk bertahan hidup. Beruntung orang tuaku masih memiliki lahan pertanian yang bisa di olah. Setidaknya begitulah kata orang tuaku.
Seperti, kebanyakan pemuda seumuranku. Usia remaja adalah usia dimana kita sedang bersemangat dalam menuntut ilmu. Rasa penasaran di usia muda memang masih sangat tinggi. Saat ini aku masih duduk dibangku sekolah menengah atas smester terakhir.

Aku, ah rasanya aku enggan mengatakan ini adalah kesombongan. Namun, tetap saja kesombongan tetaplah kesombongan.
Meski aku terlahir sebagai anak keluarga petani di pelosok desa namun aku terlahir istimewa. Setidaknya itu yang dikatakan teman-temanku walau aku sendiri meragukan itu semua. Walau memang untuk sebagian hal aku mengangguk penuh kebanggaan. Aku termasuk anak yang pintar. Itu terbukti dari rangkingku yang selalu menempati rangking terbaik disekolah dari sejak Sekolah Dasar sampai sekarang aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas terbaik di kotaku. Piala dan piagam penghargaan telah banyak aku raih baik dari tingkat kota, provinsi bahkan nasional. Semua orang desaku atau bahkan mungkin sebagian masyarakat di kotaku tahu namaku. Siswa berbakat dari pelosok desa. Itulah yang dikatakan pak bupati saat aku mendapat undangan untuk menghadiri pidato hari pendidikan di lapangan pandapa. Hari itu aku menjadi tamu undangan khusus bupati-- sebagai inspirasi bagi pemuda yang lain di kotaku. Sampai usiaku saat ini aku telah mengharumkan nama orang tuaku, desaku dan semua yang mengenalku dengan prestasi. Saat aku melewati ibu-ibu yang berada di jalan desa selalu saja mendengar bisik-bisik pujian tentang diriku. Bahkan, aku sendiri merasakan kehilangan jika sehari saja tidak mendapatkan pujian. Apakah itu kesombongan?
Aku bukanlah anak tunggal. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang pertama sedang menempuh pendidikan di madrasah tsanawiyah sedangkan sibungsu sedang menempuh pendidikan di sekolah dasar. Kedua adikku juga pintar walau tidak sepintar diriku.
Meskipun, kami hanyalah keluarga petani biasa namun orang tuaku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Walau hasil dari pertanian tak pernah menentu tapi aku tidak pernah merasa kekurangan uang saku sekolah. Kebetulan saat aku sekolah di menengah atas, aku mulai tinggal di kost-kostan karena memang jarak sekolah ke desaku cukup jauh. Sekolahku bisa ditempuh dengan waktu satu jam setengah dari desa, hanya saja angkutan dari kota ke desa atau sebaliknya sangat jarang. Itulah sebabnya semua anak-anak dari desaku terpaksa memilih ngkost jika ingin melanjutkan sekolah ke menengah atas.
Seperti yang aku katakan bahwa aku adalah siswa dari Sekolah Menengah favorit di kotaku. Sekolah favorit selalu berbanding lurus dengan biayanya. Dan itu tidak salah.
Aku bukanlah anak orang kaya. Hanya saja aku orang yang beruntung karena mendapat suntikan beasiswa untuk sekolah di sekolah tersebut.
Orang tuaku hanya memikirkan biaya hidupku saja, semua biaya pendidikan telah disuntik dana beasiswa.

***

Setiap nafas yang berhembus adalah satu harapan
Setiap detak jantung yang berirama dengan denyut nadi selalu membawa mimpi
Cinta ada diantara keduanya
Cinta selalu memberi harapan pada setiap hembusan nafas
Cinta selalu memberikan mimpi indah pada setiap denyut nadi

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar