Jumat, 28 Agustus 2015

Tujuh

Malam minggu...

Ini adalah malam minggu yang dijanjikan untuk kami pergi. Sebelumnya, Beni telah berpesan agar aku berpakaian selayaknya anak muda.
"Jangan norak!" Begitulah pesannya tadi siang setelah Beni mengantarkanku ke kontrakan dengan motor.
Aku hanya mengiyakan dengan tenang.
Enak saja dia mengatakan jangan norak seolah aku tidak tahu cara berpakaian yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Meskipun aku berasal dari kampung namun bukan berarti aku tidak tahu mode berpakaian. Sejauh ini aku tidak pernah merasa salah kostum.
Sambil menunggu Beni dan Gista menjemput aku masih asyik dengan majalah usang yang telah menjadi inventaris kost-kostan. Entah majalah Misteri ini telah melewati berapa generasi yang jelas kondisinya sudah lusuh.
"Mau kemana Ham?" Tanya Irman yang juga sedang asyik membaca majalah Misteri.
"Saya juga tidak tau."
"Loh, masa pergi tidak tahu tujuannya?"
"Saya hanya ikut bersama teman saja dan tidak tanya mau kemana. Katanya sih menikmati wajah malam Jakarta."
"Oh begitu. Hati-hati saja jangan sampai terbawa arus yang tidak baik."
"Pasti lah. Lagi pula aku tahu mana yang baik dan tidak baik." Sebelum kami berbicara lebih lebar lagi keburu terdengar suara klakson dari luar kostan. Aku sudah menduganya bahwa itu adalah suara mobilnya Beni.
Benar saja dugaanku.
"Cepat bro naik!"
Aku segera saja membuka pintu mobil berwarna putih yang di kemudikan Beni. Beni adalah salah satu gambaran kaum elite ibu kota. Dia sudah terbiasa membawa mobil meskipun usianya baru sekitar 20 tahun. Bagi keluarganya mobil seperti barang yang dianggap biasa--bukan istimewa. Orang tua Beni adalah golongan orang-orang yang sibuk sehingga jarang ada di rumah. Alhasil Beni memiliki keleluasaan dan kebebasan melakukan apapun dengan fasilitas yang lengkap.
Mobil yang dikemudikan Beni segera saja meluncur meninggalkan kota depok. Entah kemana tujuan kami, karena memang aku sendiri tidak mengetahuinya.
Yang aku tahu, mobil yang kami tumpangi terus saja berjalan menyusuri jalanan dan sudah memasuki Jakarta Timur. Mobil yang kami tumpangi mengambil jalan ke kanan saat kami menemukan satu-satunya jalan bercabang yang berada dekat pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Timur.
Setelah melakukan perjalanan hampir satu jam setengah karena kami terjebak macet beberapa kali akhirnya kami sampai di suatu tempat yang aku sendiri tidak mengetahuinya dimana.
Yang aku sadari bahwa saat ini aku berada disalah satu pusat hiburan di ujung Jakarta Timur atau mungkin juga sudah masuk Jakarta Barat atau pusat. Aku tidak peduli lagi dengan itu. Aku justru tertarik untuk mengamati sekelilingku. Yang aku lihat adalah gadis-gadis muda dengan pakaian yang minim. Pun beberapa mobil mewah dan beberapa motor yang terparkir rapih di sudut pusat hiburan ini.
"Kita sedang berada dimana?" Aku berbisik sambil menepuk pelan pundak Beni yang sudah bergegas untuk masuk.
"Ini tempat kita bersenang-senang. Disinilah tempat kita menghilangkan sejenak permasalahan yang kita hadapi." Terangnya.
Aku tidak banyak bertanya lagi walaupun aku masih belum.mengerti maksud dan tujuan kami datang kesini. Gista hanya diam sambil melangkah pasti. Sepertinya dia sudah terbiasa datang ke tempat ini. Aku melihat beberapa orang yang lebih dewasa dari kami. Pakaiannya rapi dengan dasi yang menggantung di leher membuatnya tampak berwibawa. Sementara tangan kirinya menemteng jaket dan tangan kanannya menggandeng perempuan yang cantik dengan pakaian yang sangat seksi. Apakah mereka adalah orang-orang yang memiliki banyak permasalahan sehingga harus datang ke tempat seperti ini seperti apa yang dikatakan Beni bahwa ini adalah tempat yang cocok untuk sejenak melupakan masalah. Seberat apapun masalah pasti akan terlupakan jika datang ketempat ini. Padahal dari penampilan orang-orang yang datang kesini sepertinya bukan orang sembarangan karena memang mereka kesini menggunakan mobil pribadi. Mungkin memang benar bahwa masalah bisa menghampiri siapa saja bahkan terhadap orang yang kita kira hidupnya selalu bahagia. Tapi apakah benar tempat seperti ini mampu membuat masalah terlupakan? Yang aku tahu, masalah hanya akan selesai dengan di hadapi dan menghadap pada sang pencipta dalam bentuk ritual ibadah.
Aku tidak terlalu bodoh untuk tidak segera mengetahui tempat yang akan segera kami masuki. Dari lingkungan yang aku lihat maka aku menyimpulkan bahwa ini diskotik. Tapi, Beni dan Gista lebih suka menyebutnya Kafe. Lampu kerlap-kerlip berwarna-warni seolah menjadi magnet tersendiri untuk menarik orang-orang.
Lalu aku? Apakah aku juga harus tertarik masuk ke tempat seperti ini? Ini adalah dunia yang tak pernah ada dalam pikiranku untuk ku kunjungi. Bahkan membayangkannya saja aku tidak pernah. Semoga saja Beni dan Gista tidak berniat buruk. Aku percaya mereka tidak akan menjerumuskanku. Mereka adalah sahabat dekatku. Atas nama solidaritas maka aku memutuskan untuk masuk.
"Hai, bawa teman baru nih?" Sapa salah seorang gadis cantik dengan gincu yang sangat merah.
Rupanya memang benar Beni dan Gista sudah sering kesini hingga para penghuni tempat ini sudah sangat hafal dengan mereka. Aku membatin.
"Iya nih gue bawa temen gue. Kenalin namanya Ilham." Beni mengenalkanku pada gadis itu.
Aku menjulurkan tangan.
"Ilham." Kembali ku ulangi perkenalanku.
"Santi." Dia membalas uluran tanganku sambil menyebutkan namanya.
"Sepertinya dia masih sedikit malu-malu kucing." Santi menoleh kepada Gista dengan tujuan meminta kesetujuan Gista atas pernyataannya.
"Maklumlah, dia baru sekali ke tempat seperti ini. Nanti juga terbiasa." Jawab Gista.
Sedangkan Santi hanya tersenyum yang sedikit dipaksakan.

***
"Mau coba gak?" Beni menyodorkan segelas kecil minuman.
Aku sudah menduga bahwa itu adalah alkohol.
Aku menggeleng. Beni dan Gista tidak menawari lagi. Mereka lalu asyik dengan minuman dan beberapa gadia cantik yang ada disampingnya.
Sementara aku, aku seperti orang paling bodoh yang sudah kehabisan akal. Aku hanya duduk di sofa empuk yang menjadi tempatku menata pikiran. Aku menyaksikan beberapa orang yang sedang menikmati minumannya dan musik yang semakin ngebit dan dengan volume yang keras. Awalnya, aku merasa bising dengan suara musik itu namun sekarang aku seolah sudah menikmati alunan musik tersebut. Aku mengangguk-anggukan kepala mengikuti irama musik agar tidak terlihat kaku.
Tapi di bagian yang lain dalam tubuhku yakni hati dan akalku sedang berontak. Bagaimana mungkin aku bisa berada di tempat seperti ini. Ini adalah bukan duniaku, walaupun memang bagi anak metropolitan seperti Beni dan Gista tempat seperti ini adalah tempat biasa. Namun tidak bagiku.
Hatiku semakin berontak mengingatkan tujuanku ke kota. Mewujudkan cita-citaku menpuh pendidikan tinggi dengan hasil terbaik. Namun akalku mengatakan hal yang lain. Sesekali tidak apalah mampir ke tempat seperti ini. Untuk menambah wawasan dan pengalaman. Lagipula aku bukan orang bodoh yang tidak tahu baik dan buruk. Dan akubtahu bahwa alkohol bukan minuman yang baik. Ini terbukti bahwa aku tidak akan tergoda dengan apapun. Akal terus saja berkilah agar aku tetap berda di tempat seperti ini.
Bagaimana mungkin aku bisa mengenal dunia yang seperti ini?
Semoga ini adalah yang terakhir kalinya. Aku tidak ingin perjuanganku untuk meraih pendidikan terbaik menjadi terabaikan hanya karena terbawa arus pergaulan kota yang tidak bisa di tebak.

***

Seumpama air.
Dia akan terus saja mengalir.
Kita hanya bisa memilih apakah kita akan tetap mengikuti arus
Atau menemukan jalan kita sendiri.

***

Kamis, 27 Agustus 2015

Enam

Aku lebih memilih menghabiskan waktu luang di kampus atau di kost-kostan. Sudah hampir satu tahun aku berada disini dan hari-hariku berjalan stagnan. Kampus-Kostan menjadi tempat yang menghabiskan hari-hariku. Bahkan aku belum pernah sekalipun sekedar berjalan-jalan menikmati suasana kota.
Seperti sore ini aku lebih memilih menghabiskan hari dengan berduduk santai memandangi air danau yang berada di tengah-tengah kampus. Ini salah satu tempat favoritku setiap saat. Aku tidak pernah bosan berada disini.
"Heyy,,,." Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku dengan sedikit keras dari belakang yang sontak membuatku terperanjat.
"Euh,,," Aku sudah menduga siapa yang datang. Aku melihat mereka sejenak lalu mengalihkan pandanganku ke danau lagi. Tidak semangat melihat mereka.
Mereka adalah Beni dan Gista. Kedua sahabatku yang sebenarnya sangat baik padaku namun kadang sering membuat jengkel karena kebiasaannya memukul pundakku dari belakang seperti beberapa saat yang lalu.
"Lagi nunggu cewe ya?" Tanya Beni sambil senyum-senyum tidak jelas maksud.
"Alaaah,,, mulai kapan si Ilham tertarik sama cewe. Paling juga dia lagi mikirin tugas." Sebelum aku menjawab, Gista sudah menimpali pertanyaan Beni.
Sontak saja perkataan Gista membuat Beni tertawa. "Oh iya, lupa. Si Ilham kan gak suka sama cewe."
Ya begitulah jika sahabat-sahabatku sudah berkumpul. Jika aku sedang bergairah biasanya aku akan membalas mengolok-olok mereka.
Kedua temanku ini adalah sosok generasi muda yang tumbuh besar ditanah metropolitan. Pergaulan mereka sangat luas. Tapi, aku merasakan kenyamanan bersama mereka.
Hari ini, entah kenapa suasana hatiku tidak karuan. Sampai-sampai aku sendiri lupa sudah berapa lama duduk di tepi danau.
Rasanya, setahun berada di kota ini membuatku sedikit rindu akan kampung halaman.

***

"Eh, malam minggu jalan yu bro!" Seperti biasa, Beni selalu saja pandai membuka percakapan diantara kami.
"Kemana?" Tanya Gista.
Aku hanya memalingkan wajah pada Beni tanda setuju dengan pertanyaan Gista.
"Ya kemana aja. Sekalian refresh otak abis ujian."
"Ngajak maen tapi ga jelas tujuan." Keluh Gista.
"Udah tenang aja masalah tujuan jangan bingung. Yang penting kalian mau gak?"
"Ok." Singkat saja Gista menjawab.
"Lu gimana bro?" Sudah pasti pertanyaan itu ditujukan padaku.
Aku hanya diam.
"Ayo lah bro, sesekali jalan bareng. Sudah setahun lu disini tapi belum pernah jalan bareng kita."
"Baiklah sekalian refresh otak." Jawabku.
"Nah gitu dong. Nanti gue ajak lu  melihat wajah Jakarta dimalam hari."
Entahlah apa maksudnya. Bagiku itu tidak terlalu penting toh sepertinya seru melihat kehidupan malam di Jakarta.
Kami bertiga melanjutkan obrolan-obrolan ringan tentang apa saja.
Kami lebih banyak membicarakan pasangan muda-mudi yang sedang duduk berdua tidak jauh dari tempat kami duduk. Sampai-sampai pasangan itu pergi karena risih mendengar tawa kami yang terbahak-bahak.
Sekali lagi, Beni dan Gista adalah teman yang cukup membuat nyaman. Meskipun sebenarnya aku aktif dalam organisasi kampus yang sudah tentu memiliki banyak sahabat yang satu pemikiran namun aku lebih nyaman menghabiskan hari bersama Beni dan Gista. Dari merekalah aku mengetahui dunia yang sebelumnya tidak aku ketahui. Dengan kata lain keduanya memberikan variasi dalam hidupku. Tidak hanya tentang tugas-tugas kampus atau diskusi-diskusi sosial di organisasi yang tak pernah terealisasikan.
Mungkin, aku mulai jenuh dengan rutinitasku yang berjalan stagnan.
Obrolan kami baru berakhir saat adzan magrib berkumandang. Setelah ini kami akan disibukan dengan ujian-ujian yang menguras otak.

***

Kehidupan adalah arena.
Musuh akan selalu siaga mengintai.
Lengah, berarti kalah.
Menyerah bukan solusi.
Dan Cinta menyadarkan bahwa hidup harus menang.
Jangan lengah,
Usah kalah,
Apalagi menyerah.

***

Kamis, 20 Agustus 2015

Lima

Jakarta sepertinya tak seseram yang orang katakan tentangnya. Aku melihat beberapa hal yang menyenangkan dengan ibu kota ini. Walau memang lebih banyak yang tidak menyenangkannya. Sejak hidup di kota yang berbatasan langsung dengan Jakarta aku bisa merasakan aura kehidupan kota besar. Masalah-masalah kota ternyata lebih rumit daripada yang sering diperdebatkan di kampus-kampus yang semuanya lebih banyak wacana daripada tindakannya.
Setidaknya begitulah yang aku rasakan selama hidup di sini dan menuntut ilmu di universitas nomor wahid di negeri ini. Aku aktif di organisasi kampus. Aku merasa takjub dengan kawan-kawannku yang memiliki semangat yang tinggi terhadap perubahan lingkungannya. Diskusi-diskusi tentang permasalahan negeri ini pun sering aku ikuti. Namun dari setiap diskusi itu aku belum benar-benar menyaksikan dan melakukan tindakan yang nyata terhadap apa yang kami diskusikan. Ternyata diskusi-diskusi yang berjalan dengan penuh antusias itu hanya berakhir dengan wacana tanpa ada tindakan nyata. Itulah sekelumit perjalananku di kampus sampai sejauh ini. Siasanya, aku merasa bangga terhadap kampus ini. Dan aku lebih bangga lagi karena aku telah menjadi bagian dari kampus terbaik di negeri ini. Mungkin saja aku adalah orang pertama dari desa atau kecamatanku yang berkesempatan menuntut ilmu di kampus ini.
Perjalananku di kampus ini telah berjalan hampir dua smester. Sampai saat ini, aku merasa bisa menyesuaikan dengan kehidupan kampus dan lingkungan tempatku tinggal. IP-ku di kampus juga tidak terlalu buruk dan mampu mencapai angka yang aku targetkan. Sejauh ini, aku sudah akrab dengan banyak mahasiswa lainnya. Namun, seperti biasa aku selalu memiliki teman-teman yang spesial dalam setiap tingkatan pendidikan yang aku jajaki. Diantaranya, Irman yang berasal dari kota yang sama denganku yakni Kuningan. Dia juga satu kost-kostan denganku. Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dia yang tiba-tiba saja memanggil namaku saat aku sedang berjalan di jalan utama kampus. Dia mengenali namaku namun aku tidak sedikitpun mengenalinya.
"Ini Ilham kan?" Tanyanya ketika itu.
"Iya. Bagaimana kamu bisa tahu namaku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Aku merasa heran karena seingatku, aku baru saja melihatnya.
"Ah, siapa sih yang tidak mengenal nama Ilham Ramadhan salah satu siswa berprestasi yang dimiliki Kabupaten Kuningan."
"Ah, kamu bisa saja. Biasa saja, aku yakin kamu juga bukan siswa biasa hingga bisa masuk ke kampus ini." Aku berusaha merendah walau sebenarnya dalam hatiku melonjak-lonjak karena pujian itu.
"Oh iya. Apakah kamu juga berasal dari Kuningan?" Aku menduga-duga bahwa dia memang berasal dari kota yang sama denganku.
"Iya. Saya juga dari Kuningan."
Obrolan pun berlanjut dengan bahasa sunda agar lebih akrab lagi. Pembicaraan tentang bagaimana dia bisa masuk ke kampus ini, jurusan yang diambil, asal daerah, asal sekolah sampai akhirnya kami memutuskan untuk kost bersama.
Dia bisa menjadi teman yang baik bagiku. Mungkin karena memang kami berasal dari daerah yang sama.
Selain itu aku juga sangat dekat dengan beberapa orang lainnya seperti Bobi dan Adam. Mereka berdua asli orang Jakarta. Mereka tidak bisa dikatakan orang baik namun juga tidak bisa dikatakan orang yang tidak baik. Pergaulannya seperti kebanyakan orang-orang yang terbiasa hidup di kota. Namun, mereka adalah sahabat-sahabatku yang memiliki rasa solidaritas tinggi. Mereka tahu memaknai arti persahabatan. Keduanya berasal dari keluarga yang cukup berada. Aku pernah beberapa kali main ke rumah mereka di salah satu kawasan perumahan di Jakarta Timur. Dengan melihat keadaan rumahnya, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka berasal dari golongan orang yang berada. Sering aku di traktir oleh mereka dengan imbalan aku membantu mereka menyelesaikan tugas-tugas kampus. Bagiku itu cukup sebanding.

***

Meski sudah tengah malam namun kehidupan kota tak pernah berhenti barang sejenak pun. Aku masih mendengar kegaduhan-kegaduhan di luar kost-kostanku. Suara lengkingan klasksonpun masih sering terdengar dari jalan raya yang tak jauh dari tempat kostku. Padahal biasanya jika di kotaku jam tengah malam biasanya keadaan kota sudah senyap. Di jalan pun paling juga hanya ada satu atau dua kendaraan yang lalu lalang. Apalagi jika dibandingkan dengan desaku. Disana siang hari pun sudah sepi apalagi jika malam hari. Paling hanya terdengar gemerisik jangkrik dan nyanyian kodok di tengah sawah atau lolongan anjing liar.
Aku sudah tidak merasa asing lagi di sini.
Aku baru saja menyelesaikan tugas-tugas kampusku. Aku menyambar sebuah amplop yang belum sempat kubuka. Alamatnya pengirimnya sudah jelas dari orang tuaku. Orang tuaku sudah beberapa kali mengirimkan surat sejak aku tinggal disini dan semuanya aku balas.
Aku membuka amplop putih polos yang dimasukan dalam amplop coklat yang lebih besar itu. Surat sederhana namun selalu menyampaikan pesan yang tidak sesederhana amplop maupun tulisannya. Surat yang ditulis dengan bahasa sunda itu selalu saja membuatku terenyuh.

Kepada
Anakku
Ilham Ramadhan
Di tempat

Assalamualaikum.
Nak, bagaimana kabarmu disana. Ibu dan Bapak berharap kamu disana dalam keadaan sehat wal afiat karena kami disini juga dalam keadaan tak kurang apapun.
Oh iya bagaimana kabar kuliahmu? Ibu dan bapak selalu berdoa untuk kebaikanmu. Orang-orang di desa juga sering menanyakanmu. Semoga saja kamu bisa menyelesaikan kuliah dengan hasil yang memuaskan dan bisa kembali kesini agar bisa berkumpul lagi dengan ibu dan bapak.
Adik-adikmu juga sering menanyakanmu. Mungkin mereka sudah kangen dengan kakaknya. Biasanya mereka sering bercanda denganmu tapi sekarang kamu belum pulang sudah hampir satu tahun. Oh iya, kamu pulang kan setelah ujian nanti? Kalau memang tidak terlalu sibuk lebih baik pulang. Tapi kalau memang sibuk jangan terlalu memaksa.
Mungkin hanya itu isi surat kali ini. Balasan suratnya selalu kami tunggu.
Oh iya hampir lupa, kemarin ada gadis yang menanyakanmu. Katanya dia anaknya kepala desa sebelah.

Wassalamualaikum.

Aku tertegun setelah membaca surat dari orang tuaku kali ini. Alasannya karena isi suratnya tak biasa dan juga tulisannya sedikit berbeda. Pasti ini adalah tulisan adikku. Dia mungkin disuruh oleh orang tuaku menulis surat ini. Namun untuk paragraf terakhir dari surat ini aku meragukan itu berasal dari orang tuaku. Kalaupun itu juga disuruh oleh orang tuaku, aku yakin kedua orang tuaku terkekeh saat menuliskan paragraf terakhir surat tersebut.
Aku hafal dengan wajah orang tuaku. Keduanya memang senang bercanda dengan anak-anaknya. Itulah cara mereka untuk berinteraksi dengan anak-anaknya. Aku sudah hafal bagaimana wajah ibuku saat menggodaku. Ibu memang paling sering menggodaku.
"Eh, ibunya si anu nanyain kamu tuh. Anaknya cantik kalau menurut ibu. Baik lagi." Kata ibuku saat kami sedang bersantai dengan keluarga. Ibuku akan senyum-senyum mengajak bapakku untuk senyum berjamaah. Aku tahu maksud yang sebenarnya bukan memberitahu bahwa ibu si anu menanyakanku namun ibu ingin memberitahu kalau anaknya cantik. Jika ibuku sudah keluar kebiasaan menggodanya maka aku hanya bisa menepuk jidatku sambil tertawa.
Ah, tiba-tiba saja aku rindu dengan keluargaku. Aku juga tahu sebenarnya ibu tidak benar-benar ingin agar aku dekat dengan perempuan. Ibu justru ingin agar aku tetap fokus menuntut ilmu.
Ah, gadis itu. Aku hampir saja melupakan gadis itu. Aku lupa akan janjiku untuk mengabarinya jika aku sudah berada disini. Tiba-tiba saja hatiku bergemuruh untuk sebuah perasaan yang tak kumengerti. Aku sudah hafal dengan perasaan yang bergemuruh di hatiku ini. Perasaan yangbsering muncul ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah Atas.
Bagaimana kabar gadis itu?
Pasti dia baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolahnya atau mungkin sedang melaksanakan acara perpisahan sekolah yang menyedihkan.
Apakah benar dia menanyakanku. Ah, untuk apa?
Apakah dia juga akan melanjutkan pendidikannya disini sesuai harapannya?
Aku merindukannya. Senyumnya, matanya, ah aku masih ingat akan tahi lalat di sebelah kanan hidungnya.
"Weuyyy... Kenapa cengar-cengir sendiri?" Celetuk Irman mengagetkanku.
Aku baru menyadari ternyata dari tadi aku cengar-cengir sendiri.
"Eh nggak." Tukasku sambil melipat surat ditanganku namun tetap senyum mengembang dari bibirku.
"Pasti surat dari pacarmu ya? Saya kira orang pintar sepertimu tidak mengenal cinta. Yang ada hanya belajar dan belajar."
"Bukan. Ini dari orang tuaku." Aku memperlihatkan sekilas suratku padanya namun tidak sampai dibaca olehnya. " Lagipula saya juga manusia normal. Kalau memang ada cewek yang mau denganku pasti sudah aku pacari." Tawaku meledak seketika.
Irman juga begitu.
"Orang pintar, baik, aktivis sepertimu tidak sulit mencari pacar kalau kamu benar-benar niat." Tambahnya.
Aku tidak menanggapi lagi. Lagipula sebenarnya aku tidak tertarik dengan percakapan terkahir itu. Meski memang banyak perempuan yang dekat denganku namun tak ada yang menarik hatiku selain Adik kelasku di SMA dulu.
Irman juga tidak meneruskan obrolan itu.
Aku melemaskan badanku di kasur kost-kostanku. Belum memutuskan untuk membalas surat dari orang tuaku.

***

Angin malam yang berhembus pelan.
Merayapi seluruh kulitku.
Juga hatiku.
Membawa kabar dari para pujangga.
Tentang keindahan cinta.

Setiap pagi yang menyongsong.
Sinar mentari yang lembut membelai pipi.
Selalu membawa semangat.
Juga harapan.
Tentang bunga cinta yang akan segera mekar.

***

Empat

Konon, Jakarta selalu menawarkan tantangan yang menarik bagi para petarung ulung. Namun, Jakarta juga menjadi momok yang menyeramkan bagi para pecundang. Dan aku? Entahlah akan menjadi petarung atau pecundang. Petarung tidak harus selalu jadi pemenang. Setidaknya, semua pemenang adalah para petarung begitulah rumus yang kupelajari pada sebuah pelajaran logika. Seorang petarung akan menjajal kemampuannya. Jika hanya diam dikandang, seekor singa akan kalah dengan seekor kambing yang berada di belantara. Itulah yang kuyakini.
Diantara desak-desakkan penumpang bus yang sedang berebut tempat duduk aku masih menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Aku tidak merasa terganggu dengan keributan-keributan kecil yang terjadi di bus.
"Saya yang lebih dulu masuk, jadi saya yang berhak duduk." Kata salah seorang penumpang.
"Justru saya sudah naik dari tadi kalau tidak percaya tanyakan saja pada pak supir!" Kata penumpang yang lainnya.
Setidaknya itulah kata-kata yang mampir di pendengaranku.
Aku menyibukan diriku dengan membaca sebuah buku Autobiografi salah seorang tokoh negeri ini. Keributan kecil itu sedikit membuat bising ditelingaku. Namun, aku yang baru dua kali menumpang di bus ekonomi menggap mungkin inilah yang biasa terjadi di dalam bus yang sudah sesak penumpang namun tetap dipaksakan menaikan penumpang di tengah jalan. Karena saat aku menumpang bus untuk yang pertama kalinya pun tak jauh berbeda.
"Gantian dong duduknya. Saya perjalanan masih jauh dari tadi berdiri." Sindir salah seorang penumpang kepada penumpang lain didepanku. Atau mungkin sebenarnya menyindirku. Namun, sekali lagi aku memilih diam.
Keributan-keributan kecil selalu saja menghiasi sepanjang perjalanan. Sesekali ada penyanyi jalanan yang menjajakan suara emas mereka dalam bus.
Aku memilih menenggelamkan diriku dalam buku yang ada di hadapanku.

***

Pada kaca jendela bus yang berembun karena embus nafasku aku mencoret-coretkan tanganku tidak jelas apa yang aku tulis. Aku bisa dengan jelas memperhatikan pohon-pohon gersang dipinggir jalan yang seolah mengikuti bus yang sedang ku tumpangi. Ah, semuanya hanya tentang pandangan saja. Semua yang dipandangan manusia tak selalu demikian. Kadang, semua yang kita lihat hanyalah sebuah tipuan belaka.
Tiba-tiba aku teringat akan nasihat-nasihat ibu dan bapakku sebelum aku benar-benar merantau menuntut ilmu ke tanah yang jauh dari tempat ari-ariku dikuburkan.
"Dimanapun kamu berada, tetaplah rendah hati. Ingatlah bahwa kita tidak hidup sendiri dimanapun kaki kita berpijak. Disekeliling kita akan banyak orang yang hadir mengisi kehidupan kita. Bisa saja mereka yang baik yang akan masuk ke dalam kehidupan kita. Namun, bukan tidak mungkin orang yang ingin mencelakakan kitalah yang masuk kekehidupan kita. Tetaplah rendah hati! Karena itulah tameng yang akan melindungi kita dari semua kemungkinan buruk. Ingat! Diatas langit masih ada langit, jangan pernah takabur!" Pesan bapakku saat aku mencium tangannya untuk berpamitan.
"Jaga diri baik-baik. Jaga sembahyang jangan sampai dikesampingkan. Belajar yang benar agar kelak bisa menjadi orang yang bermanfaat!". Begitu pesan ibukku saat aku mencium tangannya-- berpamitan.
Meskipun aku merantau untuk menuntut ilmu dan bukan untuk bekerja namun orang tuaku selalu saja mengkhawatirkanku. Mungkin, memang begitulah semua orang tua. Padahal, aku sendiri merasa telah dewasa. Untuk sekedar menjaga diriku.
Pikiranku tiba-tiba saja teringat pada gadis itu. Adik kelasku. Siti Halimah. Sebelum aku pergi, dia memberikanku kenang-kenangan sebuah foto kami berdua saat perpisahanku. Hanya saja foto itu telah dibingkai dengan indah.
Aku, aku belum sempat menyiapkan kenang-kenangan apapun. Entah apa maksud pemberian kenang-kenangan itu. Aku sendiri tidak sempat bertemu dengannya. Dia menitipkannya pada adikku yang kebetulan ketemu. Mungkin juga sengaja menemuinya. Entah.
Aku menatap foto kami berdua yang sudah dibingkai dengan cantiknya. Saat aku menatap foto tersebut rasanya aku telah menjadi seorang pria dewasa yang akan berpisah dari pujaan hatinya. Padahal kami, masih jauh dari kata dewasa. Aku saja batu akan memulai kuliahku. Sedangkan Siti masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas. Dan hal yang paling mengganjal lainnya ialah kami bukan siapa-siapa. Hanya sebagai teman.
Mungkin, pendapat yang menyatakan bahwa cinta akan membawa seseorang pada tahap dewasa dengan lebih cepat harus aku aminkan. Setidaknya itu jugalah yang aku amati pada teman-temanku dulu. Mereka yang sudah memiliki pacar seperti telah menjadi lebih dewasa dari umurnya. Mereka sering sekali berbagi kejutan yang romantis. Menikmati sunset ditaman bersama. Meski masih dengan uang orang tuanya sepertinya mereka tidak pernah peduli dengan itu. Mereka seolah menikmatinya. Benarkah demikian?
Aku segera memasukan buku dan foto tersebut kedalam tas saat kernet sudah berteriak-teriak membangunkan penumpang yang masih tertidur.
"Rambutan,,, Rambutan,,, Siap-siap!" Teriak si kernet dengan lantang sambil memukul-mukul daun pintu bus.
Bus akan segera memasuki terminal kampung Rambutan. Itu artinya aku akan segera sampai di tempat tujuan. Bus ini hanya mengantar sampai terminal kampung Rambutan.
Suasana terminal tengah dilanda kesibukan yang luar biasa saat aku keluar dari bus membawa tas besar dan menjinjing kardus yang berisi beberapa makanan.
Aku segera bertanya pada pedagang di terminal bagaimana agar aku bisa sampai di kampus nomor wahid di negeri ini yang menjadi impianku sejak dulu. Pedagang itu menunjuk beberapa angkot berwarna merah yang akan membawaku ke Depok walaupun memang tidak bisa langsung. Katanya nanti aku harus naik satu kali lagi. Aku mengikuti sarannya.
Setelah hampir satu jam perjalanan dari terminal kampung Rambutan akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Aku menatap penuh takjub kampus yang akan menjadi cerita hidupku beberapa waktu yang akan datang.
Selamat datang Ilham Ramadhan, perjuangan baru saja akan dimulai. Cerita yang sesungguhnya baru akan tertulis. Kamu akan mencari jalan hidupmu disini. Gumamku dalam hati.
Depok yang memang berbatasan langsung dengan Jakarta terasa sangat panas. Udaranya berbanding terbalik dengan kotaku yang memang masih asri. Aku akan segera menyesuaikan. Pun dengan segala risiko yang akan segera hadir dalam setiap perjalanan hidupku.

***

Pada setiap jejak yang kutinggalkan.
Yakinlah! Akan tertulis namamu disana.
Aku menyimpan namamu dalam setiap langkahku.
Agar kelak, cinta tahu kemana harus kembali.

***

Tiga

Aku terlahir disebuah desa yang asri. Hijau pohon-pohon selalu memanjakan mata kala pagi membuka tirai kamar. Rumahku persis berhadapan dengan bukit barisan yang membentengi desa. Sejuk udara pegunungan membawa ketenangan pada jiwa. Hamparan sawah-sawah yang membentang dari ujung desa hingga ke ujung desa yang lain nampak berkilauan saat pohon-pohon padi yang mulai menguning itu dihujani cahaya matahari pagi. Embun-embun yang bergelantungan pada ujung daun padi memantulkan kembali cahaya mentari pagi dengan bias keemasaan karena menyatu dengan warna daun padi yang mulai menguning. Hamparan permadani padi yang mulai menguning itu bak penghias desaku hingga terlihat kian cantik.Aku ingin kealamian ini tetap alami sebagaimana mestinya.
Bukankah sesuatu yang alami selalu nampak indah?
Tuhan telah menciptakan sesuatu yang indah untuk kita nikmati dan syukuri. Karena seyogyanya, Tuhan pun menyukai semua keindahan.
Dialah Siti Halimah. Dialah keindahan yang lain. Gadis yang telah menyihirku selama satu tahun terakhir. Gadis yang kesehariannya selalu mengenakan kerudung yang sedikit lebar itu telah mengalihkan semua duniaku. Aku yang awalnya antipati terhadap cinta masa remajapun mulai menyadari rasanya cinta. Aku bukanlah orang yang pandai menyukai lawan jenis. Namun, saat aku melihatnya suatu pagi di perpustakaan tiba-tiba saja aku merasakan rasa yang lain.
Aku tidak akan terburu-buru untuk mengatakan bahwa ini adalah cinta. Masa muda sepertiku masih memiliki emosi yang labil. Bisa saja hari ini kita mengatakan suka namun esok sudah berubah menjadi benci. Setidaknya itu yang kupelajari dari teman-teman sekolahku yang sudah mengenal kata pacaran. Aku belum tertarik dengan kata yang satu itu.
Namun, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa setelah aku melihat gadis itu di perpustakaan, aku merasakan sesuatu yang lain pada diriku. Aku menjadi aneh. Aku selalu saja merasa kehilangan jika sehari saja tidak melihat dia. Gadis itu ternyata adik kelasku dan berasal dari tetangga desaku. Ah, kemana saja aku selama ini jika ternyata di desa sebelah ada bidadari seperti dia. Wajah bulatnya yang dibalut kerudung lebar, matanya, hidungnya, bibirnya, ah aku jadi sering memperhatikan dia hingga aku hafal ada tahi lalat kecil di sebelah kanan hidungnya. Wajahnya yang mulus terlihat bercahaya, kulitnya kuning langsat seperti kebanyakan gadis sunda. Satu hal lagi yang paling kusuka darinya ialah dia selalu saja tersenyum ramah namun tetap menjaga tatapannya.
Sebenarnya, saat aku pertama kali melihatnya dan aku mengutarakan pada Komar bahwa aku menyukai gadis itu ingin rasanya aku menyatakan perasaanku seperti saran Komar. Namun, niat itu aku urungkan. Rasanya aku segan untuk mengatakan hal itu. Aku berprasangka bahwa dia akan menolakku meski Komar selalu mengomporiku dengan kelebihanku. Tapi, aku tidak berpikir bahwa dia menolakku karena alasan fisik namun lebih kepada dia sepertinya ingin serius dalam sekolahnya sepertiku. Aku sendiri telah berjanji pada orang tuaku untuk serius sekolah dan tidak pacaran dulu.
Tapi, bukan berarti aku menjauhi gadis itu. Aku justru dekat dengan gadis itu. Mungkin lebih dari sekedar teman biasa. Karena memang dia berbeda dengan teman-teman perempuanku yang lain.
Aku tetap bisa menikmati senyumnya meski hanya sebagai seorang sahabat. Dan aku memiliki kebiasaan lain setelah itu. Aku selalu merindukan senyumnya.
Sekali lagi, aku tidak ingin mengikat hubunga persahabatan kami dengan yang namanya pacaran sebagaimana yang dilakukan temanku yang lain.
Aku hanya memastikan bahwa tidak ada laki-laki yang lebih dekat dengannya kecuali aku. Kelak, aku akan mengatakan perasaanku dengan caraku sendiri. Bukankah bunga yang dipetik saat mekar sempurna akan lebih indah?
Siti Halimah adalah anak seorang kepala desa di desa sebelah. Sebenarnya, aku sudah mendengar desas-desus dari teman-temanku di desa bahwa kepala desa sebelah memiliki anak gadis yang cantik. Namun, aku tak pernah peduli denga yang dikatakannya sebelum aku benar-benar melihatnya di perpustakaan sekolah.
Dan kini aku menyaadari bahwa apa yang dikatakan teman-temanku kurang tepat. Gadis itu tidak cantik. Tapi, Cantik dan anggun sekali. Ah,

***
"Selamat ya ka." Siti membuka percakapan diantara kami yang sedikit kaku setelah melakukan foto bersama.
"Terimakasih. Kamu juga sebentar lagi lulus."
"Doakan saja ya ka semoga saya  juga bisa mendapatkan beasiswa setelah lulus nanti."
"Aamiin". Singkat saja aku menjawab.
"Aamiin. Kapan kaka akan berangkat ke Depok?"
"Mungkin seminggu lagi."
"Emph...." Hanya itu yang keluar dari bibir tipisnya.
Keheningan mulai menyergap kami.
"Setelah ini. Mungkin kita akan jarang bertemu lagi." Aku menangkap aroma kesedihan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Tenang saja! Kita masih bisa bertemu walapun mungkin tidak sesering kemarin-kemarin. Lagipula jarak rumah kita sebenarnya tidak terlalu jauh." Aku berusaha mengontrol lagi suasana.
"Semoga saja ka."
Entah kenapa pada pembicaraanku kali ini dengannya aku merasakan hal yang lain. Aku merasakan ada sesuatu yang lain pada setiap kata yang keluar dari bibir kami.
Aku tidak ingin terburu-buru untuk mengartikan yang lain.
Aku merasakan kesedihan yang aku sendiri bingung mencari penyebabnya. Kesedihan yang tak biasa.
Aku berjanji padanya jika nanti aku sudah berada di tanah rantau akan mengabarinya.
Janji-janji seperti itu rasanya sangat berlebihan jika diikrarkan oleh sepasang sahabat biasa. Apalagi jika dengan lawan jenis. Tapi, itulah kenyataannya. Aku belum mengatakan apapun tentang perasaanku. Tapi aku merasakan kesedihan saat jarak akan memisahkan kami.
Aku menutup perbincangan hari itu dengan berpesan kepadanya agar tidak memikirkan hal lain selain belajar.
Karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi untuk masa yang lebih lama. Begitulah pesan-pesanku pada gadis berkerudung dihadapanku itu.

***

Hidup adalah kita
Cinta pun juga kita.
Jarak ada diantara keduanya.
Jarak akan menguji kita.
Jika saja kita mampu menguasai jarak yang memisahkan.
Kelak kita akan mampu melihat cinta yang hidup diantara kita.

***

Minggu, 16 Agustus 2015

Dua

Setiap detik yang berlalu. Setiap jam yang beranjak, pun setiap nafas yang terhembus. Semua adalah karuniaNya. Bersyukur atas semua kesempatan yan Tuhan berikan sudah menjadi kewajiban kita. Meski kadang ada saja penyesalan mengiringi setiap langkah waktu yang berlalu namun kita harus selalu percaya bahwa semuanya berada dalam pengaturanNya. Tak ada yang luput dari genggaman dan penglihatanNya.
Waktu.
Dari sejak adanya waktu atau sejak kita mengenal waktu, kita masih belum memahami seutuhnya tentang waktu. Selalu saja misterius. Setiap detik yang pergi selalu saja menyisakan misteri. Pun dengan masa yang akan kita songsong selalu saja rahasia.
Betapa kuasanya sang pengatur waktu. Waktu, kadang menjadi sesuatu yang kita rindukan namun bisa menjadi sesuatu yang kita benci. Kita tak pernah tahu apakah kebahagiaan atau kesedihan yang sedang menunggu kita di depan sana bersama waktu. Hanya saja pengalaman selalu mengajari kita agar tetap menghargai waktu.
Ini adalah detik-detik terakhirku berada di sekolah menengah atas. Masa remajaku akan segera berlalu menyisakan berjuta kenangan. Seperti kebanyakan remaja tanggung yang duduk di bangku sekolah menengah atas selalu saja ada cerita indah dalam masa ini.
Persahabatan, kebersamaan, solidaritas, ego, ambisi, pun cinta. Semuanya seolah menjadi warna tersendiri. Namun, itulah yang akan kita tindukan dari masa ini. Kenakalan, kedewasaan yang dipaksakan akan menjadi bumbu dari perjalanan masa ini. Semuanya akan segera berkahir.
Tangis pilu mengiringi lagu perpisahan.
Mimpi-mimpi menjadi penguat dibalik rapuhnya perpisahan.
Semua ada masanya. Perpisahan adalah sesuatu yang tak bisa kita hindari.
Biarkan semua yang telah kita jalani menjadi kenangan. Hidup harus terus berjalan. Semua akan silih berganti.

***
Aku memeluk sahabat-sahabatku. Saling menguatkan.
Ah, selalu saja perpisahan menjadi sesuatu yang menyedihkan.
Meski masih satu kota namun bukan berarti bisa berpisah tanpa kesedihan. Kami berasal daerah yang terpencar diseluruh kota.
Aku menatap lamat-lamat wajah sahabat-sahabatku yang pagi ini mengenakan stelan jas dipadukan dengan kemeja putihbdan dasi hitam. Wajah-wajah mereka tak bisa dilukiskan lagi. Sedih, senang, bahagia, pilu. Ah, semua rasa bercampur dalam satu. Namun yang pasti, aku melihat wajah-wajah optimis pada setiap senyum berusaha mereka sajikan. Seperti itu jugalah yang kurasakan. Semangat menggelora kian memuncak.
"Selamat kawan!!! Selamat menempuh perjuangan yang baru!" Komar sahabat setiaku memeluk dengan eratnya.
Meski banyak sahabat yang aku miliki di sekolah ini, namun bagiku Komar adalah sahabat istimewa. Kami sudah seperti amplop dan prangko, seperti sepasang sepatu atau seperti bola basket dan ring. Kami selalu saling menguatkan, saling mendukung rasanya ada yang kurang jika hari-hariku tanpa komar. Kami baru saja berkenalan saat memasuki sekolah ini. Walau kami satu kota namun kami beda kecamatan. Jarak kecamatan kami pun terpisahkan jarak yang sangat jauh. Aku berada di pelosok ujung selatan kota dan dia di ujung utara kota.
"Selamat juga! Jangan pernah melupakanku! Kita harus saling memberi kabar setelah perpisahan ini!" Aku menepuk-nepuk punggung sahabatku itu dengan penuh keharuan.
"Kamu yang jangan pernah melupakanku! Kamu akan memasuki dunia kampus yang pasti akan memiliki lebih banyak teman baru disana." Komar menatapku serius.
"Aku tidak akan melupakanmu seberapapun banyaknya teman baruku nanti. Kamu bukan sekedar teman tapi sahabat dan saudara bagiku." Aku berusaha tersenyum meyakinkan.
Memang, setelah perpisahan ini aku akan melanjutkan pendidikanku di tanah rantau. Di Depok tepatnya. Aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan di kampus nomor Wahid di negeri ini. Sedangkan Komar, dia memutuskan untuk bekerja dan mencari pengalaman terlebih dahulu baru. Sebenarnya, dia juga berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Hanya saja kenyataannya masih belum memungkinkan. Beberapa bulan yang lalu ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ayahnya adalah satu-satunya sumber penghasilan keluarga. Setelah ayahnya meninggal secara otomatis kran pendapatan keluarganya hilang. Untuk menyelesaikan sekolah menengah atas pun Komat menggunakan sisa-sisa warisan yang ditinggalkan ayahnya. Sementara Komar juga memiliki dua orang adik sepertiku. Mau tidak mau sebagai anak sulung dia harus  menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga. Sebenarnya aku merasa kasihan dengan Komar, dia memiliki semangat belajar yang tinggi juga memilki bakat yang cukup hebat dibidang seni. Hanya saja aku pun tak bisa apa-apa selain mendoakan yang terbaik.
Hari ini aku menatap wajah sahabatku itu sekali lagi. Tidak ada yang berubah dengannya. Dia selalu saja berusaha terlihat ceria di hadapan orang lain. Dialah sahabat terbaikku.
"Ngomong-ngomong, mana gadis incaranmu?" Komar tiba-tiba tersenyum menggoda padaku. Bulu alisnya yang panjang sebelah itu naik turun. Dia cengar-cengir ngga jelas.
Aku menepuk dahiku. Untuk beberapa alasan. Yang pertama sudah pasti karena tingkah konyol sahabatku itu. Bayangkan saja saat aku benar-benar menikmati keharuan tiba-tiba saja dia menanyakan hal tersebut khas dengan tatapan menggoda 'liar'nya. Alasan yang kedua tentu lebih serius, aku lupa bahwa aku sudah berjanji akan foto bersama saat perpisahan dengan seorang perempuan. Dia adik kelasku. Sebenarnya kami masih satu kecamatan hanya saja beda desa. Sebagai sahabat dekatku, tentu tidak ada lagi yang kurahasikan lagi dari Komar, termasuk masalah perempuan. Sekali lagi, dia adalah sahabatku. Dia selalu bisa menjaga semua rahasiaku dan aku pun berusaha menjaga semua rahasianya. Dia selalu mendukungku dalam segala hal termasuk masalah perempuan.
"Kamu itu pinter, aktif di sekolah, baik dan tampan walau pun sedikit. Jadi sudah pasti dia akan dengan mudah menerima cintamu." Itulah dorongannya saat aku mengatakan bahwa aku malu mengatakan perasaanku pada gadis incaranku itu. Namun tetap saja aku belum berani mengutarakan perasaanku bahkan sampai sekarang aku sudah harus lulus dari sekolah ini.
Dan hari ini, ah gadis itu memintaku untuk berfoto bersamanya sebagai kenang-kenangan, katanya. Aku segera keluar ruangan aula yang jadi tempat perpisahan dan mencari gadis itu.
Aku menyapukan pandanganku ke setiap jengkal halaman sekolah. Pencarianku berhenti kala mendapati seorang gadis berkerudung sedikit lebar yang sedang duduk di atas bangku taman tepat di bawah pohon akasia. Aku yakin gadis yang sedang duduk membelakangiku itu adalah gadis yang yang kucari. Aku telah mengenalnya sejak lama jadi dugaanku tidak mungkin salah. Aku segera bergegas ke taman sekolah dan meninggalkan aula tempat perpisahan yang sudah sedikit gaduh karena sudah mulai acara hiburan.
"Sudah lama?" Ternyata sapaanku sedikit mengagetkannya.
"Eh ka, nggak. Lagipula sedang menunggu teman." Kilahnya. Padahal aku tahu dia sudah berada di sana sejak lama untuk menungguku sesuai janjiku kemarin. Itu terlihat dari raut wajahnya yang baru saja siuman dari prustasi menunggu.
"Kirain lagi nunggu kaka." Aku sedikit menggodanya.
Dia hanya diam.
"Bagaimana, jadi gak foto barengnya?"
"Terserah kaka saja."
Dia adalah adik kelas satu tingkat dariku itulah sebabnya dia memilih memanggilku kakak. Lagi pula sapaan itu sudah lumrah dikalangan aktivis. Namun, entah kenapa jika dia yang memanggil sapaan itu rasanya lain. Entahlah.
Kami segera bergegas menuju fotografer yang memang menawarkan jasanya untuk melakukan pemotoan pada semua siswa yang ingin mengabadikan moment tertentu. Setelah beberapa kali kami melakukan pemotoan, kami sudah bisa langsung mendapatkan hasilnya. Aku memberikan satu lembar foto pada gadis adik kelasku itu.

***

Bunga-bunga yang indah ditaman yang hijau
Selalu saja membuat mata tergoda
Namun, sabarlah!
Biarkan bunga itu mekar dengan sempurna.
Biarkan dia membagi semerbak harumnya.
Kelak, jika sudah masanya.
Bunga itu dapat kau petik dengan mudahnya.

***