Malam minggu...
Ini adalah malam minggu yang dijanjikan untuk kami pergi. Sebelumnya, Beni telah berpesan agar aku berpakaian selayaknya anak muda.
"Jangan norak!" Begitulah pesannya tadi siang setelah Beni mengantarkanku ke kontrakan dengan motor.
Aku hanya mengiyakan dengan tenang.
Enak saja dia mengatakan jangan norak seolah aku tidak tahu cara berpakaian yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Meskipun aku berasal dari kampung namun bukan berarti aku tidak tahu mode berpakaian. Sejauh ini aku tidak pernah merasa salah kostum.
Sambil menunggu Beni dan Gista menjemput aku masih asyik dengan majalah usang yang telah menjadi inventaris kost-kostan. Entah majalah Misteri ini telah melewati berapa generasi yang jelas kondisinya sudah lusuh.
"Mau kemana Ham?" Tanya Irman yang juga sedang asyik membaca majalah Misteri.
"Saya juga tidak tau."
"Loh, masa pergi tidak tahu tujuannya?"
"Saya hanya ikut bersama teman saja dan tidak tanya mau kemana. Katanya sih menikmati wajah malam Jakarta."
"Oh begitu. Hati-hati saja jangan sampai terbawa arus yang tidak baik."
"Pasti lah. Lagi pula aku tahu mana yang baik dan tidak baik." Sebelum kami berbicara lebih lebar lagi keburu terdengar suara klakson dari luar kostan. Aku sudah menduganya bahwa itu adalah suara mobilnya Beni.
Benar saja dugaanku.
"Cepat bro naik!"
Aku segera saja membuka pintu mobil berwarna putih yang di kemudikan Beni. Beni adalah salah satu gambaran kaum elite ibu kota. Dia sudah terbiasa membawa mobil meskipun usianya baru sekitar 20 tahun. Bagi keluarganya mobil seperti barang yang dianggap biasa--bukan istimewa. Orang tua Beni adalah golongan orang-orang yang sibuk sehingga jarang ada di rumah. Alhasil Beni memiliki keleluasaan dan kebebasan melakukan apapun dengan fasilitas yang lengkap.
Mobil yang dikemudikan Beni segera saja meluncur meninggalkan kota depok. Entah kemana tujuan kami, karena memang aku sendiri tidak mengetahuinya.
Yang aku tahu, mobil yang kami tumpangi terus saja berjalan menyusuri jalanan dan sudah memasuki Jakarta Timur. Mobil yang kami tumpangi mengambil jalan ke kanan saat kami menemukan satu-satunya jalan bercabang yang berada dekat pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Timur.
Setelah melakukan perjalanan hampir satu jam setengah karena kami terjebak macet beberapa kali akhirnya kami sampai di suatu tempat yang aku sendiri tidak mengetahuinya dimana.
Yang aku sadari bahwa saat ini aku berada disalah satu pusat hiburan di ujung Jakarta Timur atau mungkin juga sudah masuk Jakarta Barat atau pusat. Aku tidak peduli lagi dengan itu. Aku justru tertarik untuk mengamati sekelilingku. Yang aku lihat adalah gadis-gadis muda dengan pakaian yang minim. Pun beberapa mobil mewah dan beberapa motor yang terparkir rapih di sudut pusat hiburan ini.
"Kita sedang berada dimana?" Aku berbisik sambil menepuk pelan pundak Beni yang sudah bergegas untuk masuk.
"Ini tempat kita bersenang-senang. Disinilah tempat kita menghilangkan sejenak permasalahan yang kita hadapi." Terangnya.
Aku tidak banyak bertanya lagi walaupun aku masih belum.mengerti maksud dan tujuan kami datang kesini. Gista hanya diam sambil melangkah pasti. Sepertinya dia sudah terbiasa datang ke tempat ini. Aku melihat beberapa orang yang lebih dewasa dari kami. Pakaiannya rapi dengan dasi yang menggantung di leher membuatnya tampak berwibawa. Sementara tangan kirinya menemteng jaket dan tangan kanannya menggandeng perempuan yang cantik dengan pakaian yang sangat seksi. Apakah mereka adalah orang-orang yang memiliki banyak permasalahan sehingga harus datang ke tempat seperti ini seperti apa yang dikatakan Beni bahwa ini adalah tempat yang cocok untuk sejenak melupakan masalah. Seberat apapun masalah pasti akan terlupakan jika datang ketempat ini. Padahal dari penampilan orang-orang yang datang kesini sepertinya bukan orang sembarangan karena memang mereka kesini menggunakan mobil pribadi. Mungkin memang benar bahwa masalah bisa menghampiri siapa saja bahkan terhadap orang yang kita kira hidupnya selalu bahagia. Tapi apakah benar tempat seperti ini mampu membuat masalah terlupakan? Yang aku tahu, masalah hanya akan selesai dengan di hadapi dan menghadap pada sang pencipta dalam bentuk ritual ibadah.
Aku tidak terlalu bodoh untuk tidak segera mengetahui tempat yang akan segera kami masuki. Dari lingkungan yang aku lihat maka aku menyimpulkan bahwa ini diskotik. Tapi, Beni dan Gista lebih suka menyebutnya Kafe. Lampu kerlap-kerlip berwarna-warni seolah menjadi magnet tersendiri untuk menarik orang-orang.
Lalu aku? Apakah aku juga harus tertarik masuk ke tempat seperti ini? Ini adalah dunia yang tak pernah ada dalam pikiranku untuk ku kunjungi. Bahkan membayangkannya saja aku tidak pernah. Semoga saja Beni dan Gista tidak berniat buruk. Aku percaya mereka tidak akan menjerumuskanku. Mereka adalah sahabat dekatku. Atas nama solidaritas maka aku memutuskan untuk masuk.
"Hai, bawa teman baru nih?" Sapa salah seorang gadis cantik dengan gincu yang sangat merah.
Rupanya memang benar Beni dan Gista sudah sering kesini hingga para penghuni tempat ini sudah sangat hafal dengan mereka. Aku membatin.
"Iya nih gue bawa temen gue. Kenalin namanya Ilham." Beni mengenalkanku pada gadis itu.
Aku menjulurkan tangan.
"Ilham." Kembali ku ulangi perkenalanku.
"Santi." Dia membalas uluran tanganku sambil menyebutkan namanya.
"Sepertinya dia masih sedikit malu-malu kucing." Santi menoleh kepada Gista dengan tujuan meminta kesetujuan Gista atas pernyataannya.
"Maklumlah, dia baru sekali ke tempat seperti ini. Nanti juga terbiasa." Jawab Gista.
Sedangkan Santi hanya tersenyum yang sedikit dipaksakan.
***
"Mau coba gak?" Beni menyodorkan segelas kecil minuman.
Aku sudah menduga bahwa itu adalah alkohol.
Aku menggeleng. Beni dan Gista tidak menawari lagi. Mereka lalu asyik dengan minuman dan beberapa gadia cantik yang ada disampingnya.
Sementara aku, aku seperti orang paling bodoh yang sudah kehabisan akal. Aku hanya duduk di sofa empuk yang menjadi tempatku menata pikiran. Aku menyaksikan beberapa orang yang sedang menikmati minumannya dan musik yang semakin ngebit dan dengan volume yang keras. Awalnya, aku merasa bising dengan suara musik itu namun sekarang aku seolah sudah menikmati alunan musik tersebut. Aku mengangguk-anggukan kepala mengikuti irama musik agar tidak terlihat kaku.
Tapi di bagian yang lain dalam tubuhku yakni hati dan akalku sedang berontak. Bagaimana mungkin aku bisa berada di tempat seperti ini. Ini adalah bukan duniaku, walaupun memang bagi anak metropolitan seperti Beni dan Gista tempat seperti ini adalah tempat biasa. Namun tidak bagiku.
Hatiku semakin berontak mengingatkan tujuanku ke kota. Mewujudkan cita-citaku menpuh pendidikan tinggi dengan hasil terbaik. Namun akalku mengatakan hal yang lain. Sesekali tidak apalah mampir ke tempat seperti ini. Untuk menambah wawasan dan pengalaman. Lagipula aku bukan orang bodoh yang tidak tahu baik dan buruk. Dan akubtahu bahwa alkohol bukan minuman yang baik. Ini terbukti bahwa aku tidak akan tergoda dengan apapun. Akal terus saja berkilah agar aku tetap berda di tempat seperti ini.
Bagaimana mungkin aku bisa mengenal dunia yang seperti ini?
Semoga ini adalah yang terakhir kalinya. Aku tidak ingin perjuanganku untuk meraih pendidikan terbaik menjadi terabaikan hanya karena terbawa arus pergaulan kota yang tidak bisa di tebak.
***
Seumpama air.
Dia akan terus saja mengalir.
Kita hanya bisa memilih apakah kita akan tetap mengikuti arus
Atau menemukan jalan kita sendiri.
***