Jumat, 18 September 2015

Serba Cepat

Baru saja satu jam Kosim memejamkan mata. Namun, dia harus segera terbangun. Rasa kagetnya belum sempat hilang. Terbangun dari tidur karena kaget sangat menyesakkan dada.

Pukulan tongkat petugas keamanan cukup mengagetkan Kosim yang baru terlelap. Ditambah pula rasa kesal karena petugas keamanan itu harus memukul tongkatnya untuk membangunkan tidur. Seraya mengumpulkan separuh nyawanya yang masih berkeliaran Kosim menyapukan pandangannya ke sekeliling. Dia baru menyadari bahwa para tunawisma dan anak-anak kecil yang tadi tidur tak jauh dari tempatnya telah tiada. Padahal waktu masih menunjuk ke angka empat bahkan masih kurang. Namun, para tunawisma itu telah terbangun. Atau mungkin dibangunkan dengan paksa lalu lari tunggang langgang.

Saat semua nyawanya sudah terkumpul, Kosim segera merapikan barang bawaannya menuju mushala untuk melaksanakan shalat subuh. Walau sebenarnya masih cukup lama menunggu. Jakarta memang selalu memulai paginya lebih cepat sedangkan menutup malamnya lebih lambat. Atau bahkan aktivitas sebagian warga Jakarta tidak pernah mati. Dua puluh empat jam yang ada selalu saja ada aktivitas. Mesin-mesin di pabrik pun tak pernah berhenti beroperasi. Begitupun dengan buruh-buruhnya. Target produksi yang tinggi membuat mesin-mesin di pabrik-pabrik itu dipaksa bekerja lebih keras. Para pekerja dituntut lebih keras lagi memeras keringat.

Semuanya harus serba cepat. Lengah sedikit maka kita tidak akan bisa makan. Begitulah hukum mencari penghidupan di Jakarta.

Setidaknya, itu jugalah yang terjadi di terminal. Padahal, pagi masih terlalu buta. Bahkan ayam-ayam kampungpun belum sempat membuka matanya. Pintu-pintu mushalapun belum ada yang di buka. Namun, terminal kampung Rambutan sudah mulai ramai. Orang-orang yang menenteng jinjingan kardus besar sudah banyak yang berlalu lalang. Bahkan sebenarnya sepanjang malam pun terminal ini tidak tidur. Selalu saja ada bus yang menaikan atau menurunkan penumpang hanya saja tidak terlalu ramai.

Kosim menghempaskan tubuhnya diteras mushala terminal. Pandangannya menyapu ke seluruh arah mata angin. Meski masih temaram namun masih bisa melihat kesibukan orang-orang. Satu dua angkot warna merah sudah hilir mudik keluar masuk terminal. Bus-bus juga melengkingkan klakson yang cukup memekakan telinga.

Hampir saja Kosim tertidur lagi di teras mesjid. Rasa lelah benar-benar menjalari sekujur tubuhnya. Tapi, suara orang mengaji mulai terdengar dari mushala. Rupanya pintu mushala sudah dibuka dari tadi.

Kosim melaksanakan kewajibannya sebagai umat beragama dengan khidmat.

***

Seiring dengan sinar mentari yang mulai menghangat nampak pula kesibukan di terminal yang semakin menjadi. Setelah mengisi perutnya yang leroncongan, Kosim segera melanjutkan pencarian alamat. Dia menanyakan ke beberapa orang yang sepertinya tahu alamat yang ditanyakan. Kebanyakan memang tidak tahu pasti alamat yang di tanyakan namun mereka memberitahu mobil mana saja yang mengarah kesana.

"Naik saja mobil itu!" Kata petugas keamanan menunjuk ke satu mobil yang sedang terparkir. "Nanti kasih tahu saja kernetnya. Setelah disana bisa menanyakan lagi kapada orang lain. Lagi pula alamat yang kamu bawa tidak lengkap. Akan sulit mencari alamat di Jakarta. Alamatnya lengkap saja masih sulit di cari di Jakarta apalagi jika kurang lengkap." Tambah petugas keamanan sambil berlalu.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan penjual gorengan semalam. Hanya saja Kosim masih optimis karena dia akan menghadapi siang hari. Setidaknya masih banyak orang yang bisa di tanyai di jalan.

Kosim segera menuju mobil yang akan membawanya ke alamat mang Sobari. Ternyata, berada di dalam angkutan umum di Jakarta tidak lebih nyaman dari bus yang ditumpanginya saat ke Jakarta.

***

Senin, 14 September 2015

3 Selamat Datang

Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dengan bus, akhirnya kosim telah sampai di salah satu terminal di bagian timur Jakarta. Dia terdampar di terminal kampung Rambutan.

Kosim baru tersadar bahwa perjalanan yang dia tempuh tidak sebentar. Delapan jam di perjalanan membuatnya sampai di terminal Kampung Rambutan saat langit telah gelap. Jam di mushala yang tak jauh dari tempat bus berhenti telah menunjuk angka delapan. Kesibukan memang masih melanda terminal namun itu tak cukup untuk menenangkan hatinya. Ini untuk kali pertama dia menginjak kaki di tanah Jakarta. Dia membaca secarik kertas yang berisi alamat mang Sobari. Disana tertulis sebuah alamat yang akan menjadi tujuannya. Namun, hati kecilnya pesimis bisa menemukan alamat tersebut. Apalagi keadaan akan semakin gelap dan terminal akan semakin sepi.

Segera saja dia menghampiri penjual gorengan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Wah, ini sih masih jauh dari sini. Kebayoran lama itu Jakarta Selatan sedangkan kamu berada di Jakarta Timur. Kamu baru ke Jakarta?" Terang penjual gorengan saat Kosim menanyakan alamat yang tertulis di sobekan kertas tersebut.

"Iya pak, saya baru datang dari kampung." Jawab Kosim jujur. Dia berusaha tetap bersikap sopan meakipun pada pedagang gorengan. Karena memang begitulah seharusnya.

"Apalagi jika kamu baru ke Jakrta. Akan sulit mencari alamat di malam hari. Siang hari saja belum tentu kita bisa dengan mudah menemukan alamat tersebut. Jakarta sangat rawan jika malam hari terutama bagi pendatang baru sepertimu. Lebih baik mencari alamatnya besok saja." Penjual gorengan tersebut memberi saran.

Ucapan penjual gorengan tersebut semakin membuat hati Kosim pesimis. Apalagi di alamat yang dia bawa tidak tertera Rt/Rwnya, hanya kelurahan saja.

Mungkin, benar kata penjual gorengan tersebut. Tidak mudak mudah mencari alamat di Jakarta pada malam hari. Kosim membatin.

Namun, keadaan tersebut semakin membuatnya bingung. Ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di Ibu Kota. Dia tidak memiliki kenalan siapapun yang bisa dimintainya tumpangan menginap untuk malam ini saja. Kegetiran dan kekhawatiran nampak jelas di wajah Kosim. Belum lagi badannya sudah terasa ngilu. Persendiannya seolah telah berpencar karena lelah. Dua buah kardus menambah beban tangannya. Keadaanya semakin menyedihkan karena perlahan malam kian larut dan terminal tak seramai tadi.

Disudut terminal yang lain nampak segerombolan pemuda dengan tampilan yang menyeramkan menenteng botol minuman keras. Disisi lain para tuanwisma sudah mulai menggelar kardus mereka untuk alas tidur. Sementara Kosim masih belum memutuskan akan menghabiskan malam dimana. Apakah dia juga akan berbaur dengan para tuanwisma yang sudah mulai terlelap diatas alas kardus?

Kosim menatap beberapa anak kecil yang juga tidur diatas kardus di pojok terminal. Kosim merinding melihat wajah anak-anak kecil dengan baju lusuh dan wajahnya yang lelah. Bayangan akan kehidupan manis Jakarta seolah pergi begitu saja menyaksikan pemandangan pertamanya saat menginjakkan kaki di Jakarta. Bukankah lapangan pekerjaan di Jakarta banyak?

Kosim lupa bahwa banyaknya lapangan pekerjaan di Jakarta tak sebanding dengan para pencari kerjanya.

Dia melangkahkan kakinya menuju sudut terminal tak jauh dari para tunawisma yang sudah terlelap. Kakinya sudah terlalu berat untuk diajak berjalan jauh. Dia sudah memutuskan untuk menghabiskan malam ini di sudut terminal. Sungguh sambutan yang tidak menyenangkan dari ibu kota atas kedatangannya.

***

Meski seluruh anggota tubuhnya telah meminta untuk diistirahatkan namun rupanya mata tak bisa di ajak kompromi. Ngantuk tak kunjung datang. Bau sampah dari sebuah selokan menyeruak ke rongga hidungnya. Semakin membuatnya tak nyaman. Hawa dingin yang mulai menggerayangi tubuhpun membuat mata tak mau terpejam. Dia bangkit dari pembaringannya lalu duduk termenung dalam remang-remang terminal.

Dia memandangi wajah dua orang anak kecil yang tertidur melingkar tak jauh dari tempat mengantri tiket. Mereka seolah bisa tidur terlelap tanpa merasakan terganggu dengan sekelilingnya. Penjaga keamanan masih lalu lalang disekitar terminal. Kosim mulai menyadari sepenuhnya dimana dia berada.

Aku sedang berada di kota yang paling kejam bahkan melebihi kejamnya ibu tiri. Aku sedang berada di tempat dimana orang-orang akan saling sikut dan melakukan apapun demi bertahan hidup. Aku sedang berada diantara orang-orang yang hampir menyerah pada kerasnya kehidupan metropolitan. Kosim membatin sedang matanya tak lepas memandang beberapa keluarga tunawisma yang harus tidur di pojokan terminal dengan karung yang berisi botol-botol plastik tak jauh dari mereka. Karung-karung itu menjadi alat mereka mencari kehidupan di Jakarta.

Sepanjang malam Kosim tak bisa memejamkan mata. Samar-samar dia mendengar suara orang-orang yang tertawa. Mungkin itu suara gerombolan yang tadi dilihat Kosim. Atau mungkin, itu suara lain yang sedang menertawakan Kosim.

Tiba-tiba saja bayangan kedua orang tua dan adiknya berkelebat dihadapannya. Juga gadis bermata bulat dengan rambut panjang tergurai menari-nari di pelupuk matanya. Soleha, ah kalau bukan karena ingin membuktikan keseriusan cinta pada gadis itu tentu Kosim malam ini sedang berada di rumah. Tidur di atas kasur dengan hangatnya lingkungan orang-orang terdekat.

Tapi, keputusan sudah di ambil. Risiko apapun akan dihadapinya.

Kosim baru bisa memejamkan matanya saat angka jam di tempat pembelian tiket menunjuk ke angka tiga.

Angin malam yang berhembus pelan seolah berbisik pada kosim.

Selamat datang...

***

Minggu, 13 September 2015

2. Tujuan

Matahari sudah mulai menampakkan diri. Bahkan cahayanya sudah sedikit menyengat saat Kosim tiba di terminal bus yang terletak di kota Kabupaten. Setelah melewati perjalanan yang melelahkan selama dua jam dari desa Mekar Sari, Kosim tiba di tempat dimana bus-bus berjajar rapi. Perjalanan dua jam dari desa Mekar Sari ke kota mungkin lebih melelahkan dibanding perjalanan dari kota Kabupaten ke Jakarta. Menaiki kendaraan bak terbuka dari desa Mekar Sari dapat membuat sendi-sendi terputus. Seperti kapal yang terombang-ambing ditengah lautan, begitulah sensasi menaiki mobil bak terbuka dari desa Mekar Sari. Jika tidak berpegangan maka bisa jadi akan terpelanting dari mobil karena memang kondisi jalan yang sangat hancur. Selain itu, penumpang mobil tersebut harus berdesak-desakkan dengan kambing-kambing yang hendak di jual ke pasar.

Kernet-kernet bus lalu lalang sambil berteriak menawarkan tumpangan.

"Ke Jakarta?" tanya sang kernet pada Kosim yang sedang celingak-celinguk mencari bus yang akan membawanya ke Jakarta.

Yang ditanya hanya mengangguk.

Dua buah kardus yang di jinjing Kosim pun langsung disambar kernet tersebut. Kosim mengikuti langkah kaki kernet yang terburu-buru. Setelah kernet memasukan barang bawaannya ke bagasi, Kosim segera naik ke dalam bus yang baru berisi beberapa penumpang saja. Dia menghempaskan tubuhnya di deretan kursi tengah. Sengaja dia memilih bangku tepat dipinggir dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.

Bus tak kunjung berangkat karena masih mencari penumpang lain.

Sementara pikiran Kosim masih berkecamuk tentang hal-hal yang tidak terlalu penting. Bayang-bayang keberhasilan dan kesuksesan merantau di Jakarta telah menari-nari dalam pikirannya. Dia tersenyum sendiri.

Kosim Kosiman, itulah nama lengkap yang diberikan kedua orang tuanya. Anak sepasang petani miskin dari udik yang telah memutuskan untuk mencari peruntungan di Jakarta. Prihal nama, bagi masyarakat desa seperti di Mekar Sari tidak terlalu menjadi masalah pelik. Kita bisa menebak kepanjangan dari nama seseorang. Nama belakang biasanya masih sama dengan nama depan. Seperti Kosim Kosiman, Yana Suryana, Dian Sudiana. Sederhana saja dalam pemberian nama.

Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya bus mulai merangkak perlahan menuju tempat tujuan. Bus ekonomi yang ditumpangi Kosim berjalan sangat perlahan. Sesekali berhenti untuk menaikan penumpang atau pedagang asongan. Bus yang sudah berumur tua itu mulai memancarkan hawa panas karena memang tidak ada pendingin udara yang dipasang di bus. Aroma pembakaran dibagian mesin mulai menyeruak menimbulkan bau yang tidak sedap dan menyebabkan perut mual.

Perlahan, bus mulai dipacu dengan kecepatan tinggi. Menyalip satu dua kendaraan yang ada dihadapannya. Dilihatnya pemandangan diluar jendela bus. Pohon-pohon, bangunan-bangunan, seolah sedang berlomba untuk mengejar bus yang ditumpangi kosim. Semuanya seolah bergerak mengikuti laju bus yang kian cepat.

Kosim menyaksikan pemandangan disetiap jalan yang dilewati bus. Namun, pikirannya tidak sedang berada di kursi bus tersebut. Pikirannya sedang berada di alam yang lain. Pikirannya sudah menerawang jauh membayangkan kehidupan di kota Jakarta. Namun, sesekali bayangannya terlontar kebelakang yang telah meneguhkan keinginannya untuk pergi merantau.

***

Malam minggu, seperti biasa selalu menjadi malam yang istimewa bagi kaula muda. Untuk sekedar nongkrong dipinggir jalan bersama kawan-kawan atau menyepi ditempat-tempat yang jauh dari keramaian bersama kekasih. Ritual malam minggu juga berlangsung di desa yang amat jauh dari hiruk pikuk kota, desa Mekar Sari. Setiap malam minggu, rumah-rumah gadis desa selalu ramai oleh pemuda yang berkunjung. Tentu, tujuannya untuk menarik simpati gadis pujaannya. Pemuda kampung bergerombol dengan kelompoknya masing-masing. Biasanya, satu kelompok pemuda terdiri dari tiga atau empat orang. Mereka akan bermain ke rumah gadis desa incarannya. Ini biasa dilakukan oleh pemuda desa yang memilih untuk hidup di kampung dengan segala keterbatasan pekerjaan dan kesempatan.

Kosim tidak pernah ketinggalan untuk ikut menyemarakan ritual malam minggu. Sejak dia duduk dibangku STM dia telah tertarik dengan salah seorang gadis yang menjadi incaran pemuda tanggung sepertinya. Gadis itu bernama Soleha. Gadis dengan kulit putih mulus, mata bola pingpong dan rambut panjang tergurai. Dia anak dari salah satu pejabat desa. Kosim dan Soleha telah menjalin hubungan sejak tiga bulan terakhir.

Hampir setiap malam minggu, Kosim selalu berada di rumah Soleha. Inilah kelebihan budaya desa yang sangat luhur. Meskipun pemuda pemudi telah saling mencintai namun mereka tidak pernah sengaja pacaran ditempat-tempat sepi seperti generasi muda di kota.  Apalagi di tempat-tempat hiburan, tidak pernah mereka jalan-jalan malam minggu di tempat hiburan. Selain karena mereka mengenal sopan santun dan adab sebagai sepasang kekasih yang belum sah dalam ikatan suci, alasan lainnya karena memang tidak ada tempat-tempat hiburan di desa terpencil seperti Mekar Sari. Jika seorang pemuda telah menjalin hubungan dengan seorang gadis, maka kabar itu akan segera menjadi buah bibir masyarakat desa. Itu mungkin kebiasaan buruk masyarakat desa yang lebih suka membicarakan hidup orang lain. Bahkan urusan sepele pun taknluput dari pembicaraan masyarakat desa. Baik itu di warunh- warung saat berbelanja, di sawah, di ladang atau di pos ronda. Kebiasaan masyarakat desa adalah mengomentari kehidupan orang lain. Sebenarnya bukan masyarakat desa saja yang seperti itu karena ternyata masyarakat perkotaan pun lebih parah lagi.

Soleha adalah gadis desa tulen yang tidak pernah dan bahkan tidak pernah tertarik untuk merantau ke kota sebagaimana yang di lakukan gadis seumurannya. Banyak kawan-kawannya yang merantau. Ada yang menjadi pengasuh bayi china, menjadi pembantu rumah tangga, penjaga toko atau yang memiliki ijazah SLTA bisa menjadi buruh di pabrik tekstil.

Malam itu, seperti biasanya Kosim berkunjung ke rumah Soleha untuk sekedar melepas rindu. Tentu pertemuan tersebut tidak hanya mereka berdua karena ayah Soleha selalu siaga dan ikut nimbrung dalam obrolan sepasang kekasih tersebut. Hal yang biasa dilakukan oleh seorang ayah yang memiliki anak gadis.

"Bagaimana dengan ternak-ternakmu Sim?" Tanya ayahnya Soleha untuk sekedar basa-basi kepada Kosim yang terlihat canggung karena telah kehabisan kata-kata dengan Soleha.

"Masih seperti dulu pak." Jawab Kosim sekenanya.

"Apa tidak pernah terpikir untuk merantau ke Jakarta seperti yang lain?" Tanya ayah Soleha lagi.

"Untuk saat ini belum ada niatan pak. Sementara ingin fokus dulu merawat kambing-kambing saya. Apalagi satu kambing sedang hamil."

Ayahnya Soleha hanya mengangguk-angguk. Sebenarnya Kosim sedikit risi jika setiap kunjungannya kerumah Soleha selalu ada ayahnya. Namun, Kosim faham bagaimana ayahnya Soleha. Bagaimanapun dia adala pejabat desa yang tidak ingin membiarkan anak gadisnya melakukan hal yang lebih jauh bersama Kosim. Karena jika hal tersebut terjadi maka nama baik ayahnya Soleha akan tercemar sebagai pejabat desa. Nama baik selalu menjadi prioritas utama bagi para pejabat negeri ini.

Malam mulai larut. Kosim segera undur diri dari rumah Soleha. Dia bersalaman dan berpamitan kepada ayahnya Soleha. Namun, ayahnya Soleha meminta Kosim untuk duduk sesaat. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Sementara Soleha seperti sudah mengerti segera undur diri masuk ke kamar.

"Sim, apakah kamu sudah serius dengan anak saya?" Ayahnya Soleha membuka perbincangan keduanya.

"Tentu serius pak." Jawab Kosim.

"Sejauh mana keseriusan kamu?"

Kosim diam sejenak. Dia tidak mengira akan ditanya seperti itu oleh ayahnya Soleha jadi belum sempat menyiapkan jawaban apapun.

"Maaf sebelumnya jika pertanyaanku membuatmu kaget. Aku hanya tidak ingin kamu menjadikan anak gadisku sebagai permainan saja. Jika memang kamu serius aku sangat bersyukur." Tambah ayahnya Soleha. Kosim belum berkata-kata lagi.

"Aku serius pak." Nada bicara Kosim sedikit menegang. Pertanyaan tersebut memang lebih sulit dari pertanyaan guru-gurunya waktu di sekolah.

"Aku percaya kamu tidak ingin mempermainkan anakku karena setahuku kamu adalah pemuda yang baik. Hanya saja, kamu sebagai seorang laki-laki harus segera memikirkan masa depanmu. Umurmu dan tentu umur Soleha akan beranjak dewasa. Tentu ada hal lain yang harus kalian pikirkan selain cinta dan perasaan. Karena hubungan yang sesungguhnya tidak bisa hanya dibangun dengan kata-kata cinta." Meski suaranya lembut namun kata-kata ayahnya Soleha mampu membuat nafas Kosim tercekat.

Kosim tidak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya menunduk mendengarkan.

"Apalagi, kamu sekarang hanya anak desa yang kesehariannya hanya menyabit rumput untuk kambing-kambingmu. Aku tidak merendahkan ppekerjaanmu. Karena apapun pekerjaannya, rezeki sudah ada yang mengatur. Hanya saja apakah kamu tidak ada keinginan untuk mencari peruntungan di kampung orang seperti kebanyakan pemuda disini. Apalagi kamu masih muda dan memiliki ijazah STM. Apakah kamu tidak kasihan pada orang tuamu yang telah rela menjual sawah satu-satunya demi sekolah kamu. Sementara ijazahnya kamu biarkan begitu saja di dalam lemari. Aku tidak bermaksud apapun pada dirimu. Karena anak gadisku juga tidak jauh berbeda. Dia hanya gadis kampung yang kesehariannya hanya menunggu warung kecil kami. Hanya saja, sekali lagi kamu adalah laki-laki yang kelak dipundakmu tugas mencari nafkah bagi istrimu itu akan tersemat. Sekali lagi pembicaraanku kali ini tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin berbagi ilmu hidup karena kebetulan aku lebih dahulu menjalani hidup di dunia ini." Semakin kesini, kata-kata ayahnya Soleha membuat bulu kuduk Kosim berdiri.

"Iya pak. Saya mengerti, dan terimakasih atas saran dan ilmunya." Suara Kosim hampir tak terdengar jelas. Pemuda yang gagah itu tiba-tiba menjadi tak berdaya di hadapan orang tua gadis incarannya.

Masyarakat desa selalu menganggap serius untuk masalah hubungan anak-anak gadisnya. Jika ada seorang pemuda yang mendekati anak gadisnya maka mereka akan menamyakan keseriusan pemuda tersebut. Sperti itulah yang terjadi pada Kosim.

Kosim juga menyadari hal itu. Namun, usianya yang baru menginjak dua puluhan belum sampai memikirkan sejauh mana hubungannya dengan Soleha akan berjalan. Yang dia rasakan ialah menikmati malam minggu dengan gadis cantik pujaannya. Tapi kali ini pertanyaan-pertanyaan itu seolah menampar kesadarannya. Apalagi ayahnya Soleha menyinggung perjuangan orang tuanya dalam membiayai sekolah.

Pikiran Kosim menjadi runyam. Bayang-bayang Soleha menari-nari di pelupuk matanya.

"Sebenarnya, baberapa hari yang lalu ada seorang pemuda yang juga tertarik dengan Soleha. Namun, aku tidak mengatakan apapun pada pemuda itu karena aku tahu anak gadisku telah dekat denganmu. Aku tidak ingin kamu kecewa. Untuk itulah aku malam ini menanyakan ini padamu agar aku percaya bahwa kamu sudah serius dengan anak gadisku." Perkataan ayahnya Soleha itu nyaris membuat jantung Kosim copot. Dugaannya benar, ada sesuatu dibalik pertanyaan ayahnya Soleha itu.

"Siapa pemuda itu pak?" Tanya Kosim dengan sedikit getir.

"Kamu tentu tahu orangnya. Pemuda itu si Deri."

Hampir saja Kosim melonjak kaget mendengar nama itu. Deri adalah sahabatnya. Meskipun usianya sedikit lebih tua dari Kosim. Bahkan Deri pulalah yang membantu agar hubungannya dengan Soleha dapat terjalin. Kenapa sekarang tiba-tiba dia juga tertarik dengan Soleha?

Semenjak lulus STM, Deri sudah pergi merantau. Memang beberapa minggu yang lalu dia pulang karena ada keperluan yang mendadak. Baru dua tahun dia merantau namun sudah mampu membeli sepeda motor dan beberapa petak sawah di kampung. Katanya, dia sudah bekerja di pabrik perakitan motor di kawasan industri Cikarang.

"Dia juga sudah menyatakan keseriusannya dengan anak gadisku. Namun, aku merasa tidak enak denganmu, Sim." Ayahnya Soleha seolah memahami keadaan hati Kosim.

"Aku juga serius dengan Soleha pak. Saya berjanji akan membuktikan keseriusanku." Janji Kosim.

***

Sebenarnya, itulah yang melandasi keputusan Kosim merantau. Alasan yang tidak pernah diceritakan pada orang tuannya.

Benar kata orang, karena cinta semuanya bisa berubah. Bahkan, saat pamit pada gadis pujaanya Kosim tidak mengatakan alasan tersebut. Dia hanya mengatakan tujuanya merantau hanya untuk mencari pengalaman dan peruntungan di tanah orang.

Meski berat, Soleha akhirnya menerima keputusan Kosim yang mendadak itu. Dia tidak bisa memaksa Kosim untuk tetap tinggal di kampung bersamanya karena memang di kampung tak menjanjikan kehidupan yang lebih baik pada hubungan cintanya.

Kosim tersadar dari lamunannya saat ada seorang pengamen jalanan yang menawarkan suara sumbangnya dengan sedikit rupiah.

Pemandangan diluar jendela masih sama. Pohon-pohon dan bangunan seolah mengikuti laju bus yang meraung-raung karena dipacu dengan kecepatan tinggi.

Seperti bus, jantungnya pun berpacu tqk kalah cepat. Ia ingin segera sampai di kota dan segera mendapatkan pekerjaan yang layak untuk membuktikan pada ayahnya Soleha bahwa dia tidak main-main dengan anak gadisnya. Gadis dengan mata indah dan bibir merah alami itu menari-nari di pelupuk matanya. Digenggamnya erat-erat kertas kecil bertuliskan alamat mang Sobari yang akan menjadi temapat tujuannya sementara.

Sesungging senyum menghias bibir Kosim. Membayangkan wajah Soleha cukup membuatnya bahagia dan bersemangat menjalani hidup selanjutnya di tanah orang.

***

Minggu, 06 September 2015

1 Merantau

Mentari masih malu-malu untuk menampakan dirinya menyapa mahluk bumi. Mungkin mentari pagi ini masih bermalas-malasan untuk mulai merangkak menikmati pemandangan kehidupan bumi. Buaian angin malam membuatnya terlelap hingga malas untuk terbangun. Sudah jam setengah enam namun belum terlihat tanda-tanda akan kemunculan mentari pagi yang akan menyiramkan cahaya hangatnya. Kokok ayam disubuh hari tidak membangunkan sang raja siang itu. Hanya awan hitam yang bergumul di langit beriringan seirama seolah sedang meninabobokan si raja siang agar tidak segera terbangun. Embun-embun masih bergelantungan di daun-daun. Rupanya embun pun masih enggan untuk menapakkan kakinya di atas bumi. Ia masih merajuk manja pada ujung daun.

Kampung yang dikelilingi bukit barisan itu seolah lenyap ditelan kabut yang merangsak turun menjalari setiap jengkal kampung. Suasana seperti ini adalah suasana yang paling dibenci oleh warga kampung. Karena dengan cuaca yang seperti ini maka kadar kemalasan pun bertambah beberapa kali lipat. Tak ada semangat. Hawa dingin membuai agar tidak ada aktivitas pagi ini.

Tapi, tidak dengan penghuni rumah yang berada tepat di ujung desa. Semuanya telah sibuk sejak subuh hari.

Ini adalah hari dimana anak sulungnya memutuskan untuk merantau. Seperti kebanyakan pemuda kampung lainnya, dia juga telah memutuskan untuk pergi mengadu nasib di kerasnya kehidupan Jakarta bersaing dengan perantau lain yang sama-sama mengadu nasib. Awalnya, memang tidak ada keinginan dalam diri Kosim untuk merantau. Dia ingin mencari penghidupan ditanah sendiri, ditanah tempat ari-arinya terkubur. Dia ingin dekat dengan kedua orang tua dan kedua adiknya.

Namun memang kenyataan tak seindah yang di harapkan. Keberuntungan yang diusahakan itu tak kunjung datang.  Dua tahun setelah kelulusannya dari sebuah sekolah kejuruan hanya di habiskan dengan menyabit rumput untuk tiga ekor kambingnya. Ijazah SMKnya hanya tersimpan rapi di lemari dari sejak dia menerimanya. Kini, dia telah memutuskan untuk menggunakan ijazah tersebut sebagai kartu keberuntungannya di Jakarta. Sebagai perantau.

Keinginannya untuk hidup di desa harus ditanggalkannya. Karena mimpinya untuk menjadi peternak sukses sulit terwujudkan. Modal menjadi kendala utamanya. Disisi lain sebagai seorang pemuda yang sedang beranjak dewasa Kosim juga merasa iri melihat teman-teman seperjuangannya dulu telah banyak yang berhasil di perantauan. Mereka kembali ke desa hanya setahun sekali saat idul Fitri dengan segala atribut yang menandakan bahwa mereka telah berhasil di perantauan. Sedangkan dia? Dia tetap saja begitu. Kesehariannya sibuk dengan menyabit rumput. Jangankan mampu membeli sepeda motor atau apapun kebutuhannya seperti teman-temannya di perantauan. Untuk sekedar makan saja kadang Kosim masih mengandalkan dari orang tuanya.

Sekarang, dia baru menyadari kalau ternyata kehidupannya tidak akan berubah jika hanya tinggal di kampung. Keinginan untuk menjadi peternak sukses harus ia singkirkan dulu karena keterbatasan modal.

Umpan manis yang dijanjikan ibu kota rupanya mampu memikat hati pemuda kampung tersebut. Kawan-kawannya yang baru saja pulang merantau dari Jakarta pada lebaran lalu banyak bercerita tentang enaknya hidup di ibu kota.

"Disana, asal kita mau, kita bisa bekerja apa saja. Asal kita siap bekerja keras semuanya akan jadi uang. Untuk sekedar kencing saja disana bisa menjadi ladang bisnis." Itulah sebagian yang dikatakan kawannya.

Mendengar rayuan seperti itu goyah juga hati dan pemikiran Kosim. Ditambah pula mimpinya untuk menjadi peternak yang sukses di kampung tak kunjung menampakkan hasil. Teori-teori yang dia pelajari di sekolah pun seolah tak bermanfaat jika tidak di tunjang dengan kemampuan ekonomi yang memadai. Menjadi peternak yang sukses membutuhkan modal yang tidak sedikit. Itu juga yang mendorong keinginannya untuk merantau.

Barangkali dengan merantau aku akan mampu mengumpulkan modal untuk memulai usaha di kampung. Begitulah pemikiran sederhananya.

Sebenarnya, masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan modal usaha. Salah satunya dengan meminjam uang di bank. Bukan tidak pernah dicoba oleh Kosim cara tersebut. Namun, meminjam uang di bank bukan perkara mudah. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya ialah jaminan.

Apa yang hendak dijadikan jaminan?

Harta satu-satunya yang dimiliki keluarga tersebut tinggal rumah yang mereka tempati. Satu-satunya sawah warisan kakek Kosim telah habis dijual untuk membiayai sekolah Kosim di STM. Apalagi Kosim hanyalah pemuda tanggung yang masih labil. Tidak mudah bagi pegawai bank meminjamkannuangnpada pemuda tanggung sepertinya. Kini, seolah telah menjadi syarat yang tidak tertulis bahwa Kosim harus mampu mengangkat ekonomi keluarganya dan bertanggung jawab akan pendidikan adik-adiknya. Sebagai anak sulung dan anak laki-laki satu-satunya.

Harapan untuk menjadi tuan di tempat ari-arinya terkubur pun harus disimpan rapat-rapat dalam sanubarinya. Karena sebentar lagi dia akan menjadi petarung di ibu kota sebagai perantau. Mimpi semua perantau pasti sama yakni mendapatkan keberhasilan di tanah rantau agar kelak bisa membanggakan tanah kelahirannya. Itu juga harapan Kosim.

***

Embun masih bergeliat lesu di ujung daun. Matahari pun masih belum terlihat tanda-tanda kemunculannya. Meski begitu, Kosim telah melangkahkan kakinya menuju lapangan balai desa tempat dimana mobil pikap yang biasa mengatar warga ke kabupten itu mangkal. Hanya ada tiga mobil pikap yang sedang menunggu penumpang.

Desa Mekar Sari sangat terpencil bahkan bisa dikatakan terisolir dari kehidupan kota. Jarak dari desa Mekar Sari ke kota bisa ditempuh dengan waktu dua jam menggunakan mobil bak terbuka. Perjalanan tersebut tidaklah mudah. Harus melewati hutan-hutan belantara ditambah pula dengan kontur jalan yang jauh dari kata layak. Mungkin, jalan tersebut hanya sekali-sekalinya di aspal. Karena sekarang jalan tersebut sudah seperti sungai. Batu-batu berukuran sedang tergeletak tanpa aspal yang kadang membuat mobil bak terbuka itu tergelincir atau keseleo. Belum lagi tanjakan dan turunannya yang curam sangat berbahaya. Jika sedang menanjak kadang mobil pengangkut warga tak mampu menanjak. Mobil tua tanpa atap itu sering tersengal meraung-raung karena tak kuat menanjak. Jika sedang turun sering membuat hati penumpang berdebar-debar karena takut kalau mobil tersebut tersungkur ke dalam jurang yang ada di pinggir-pinggir jalan tersebut. Singkatnya, desa mekar sari adalah desa yang terpencil atau udiknya udik.

Kebanyakan anak-anak disana tidak bersekolah tinggi karena memang tidak ada sekolah disana selain sekolah SD ditambah satu sekolah Tsanawiyah yang berada di pusat kecamata. Jika ingin sekolah lebih tinggi maka harus siap dengan biaya yang tidak sedikit. Itulah sebabnya untuk sekolah ke STM saja orang tua Kosim harus menjual sawah mereka satu-satunya. Sekolah STM berada dipusat kota kabupaten, jadi untuk sekolah disana harus ngkost. Tentu itu tidak lah mudah bagi warga kampung yang kesehariannya hanya bertani.

Jika ada yang mengatakan bahwa sekolah tidak terlalu penting maka warga desa mekar sari mungkin akan menjadi khalayak yang menyetujui pendapat tersebut.

Nasib desa terpencil memang tak jauh berbeda di pelosok manapun di negeri ini. Hanya saja pemerintah seolah tutup mata dan telinga untuk melihat dan mendengar kenyataan tersebut.

Kesejahteraan bagi seluruh rakyat indonesia itu hanya omong kosong bagi masyarakat terpencil. Janji manis pemerintah hanya menjadi dongeng indah sebelum tidur bagi masyarakat pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.

Maka, atas dasar itulah kebanyakan orang-orang kampung merantau. Pemuda-pemuda desa yang harusnya menjadi garda terdepan dalam pembangunan desa pun memilih untuk merantau karena di desa tak pernah menjajnjikan kehidupan yang lebih baik. Berbekal ijazah seadanya dan kemampuan yang seadanya pula mereka nekat memasuki lubang gua yang gelap bernama ibu kota. Didalam gua tersebut masih belum terlihat ada hewan apa saja yang menghuninya. Mereka semua nekat untuk berbaur dengan perantau lain menjadi bagian dari masalah kependudukan di ibu kota. Meski banyak yang hanya berakhir di kolong jembatan atau di bantaran sungai namun tak menyurutkan orang-orang udik seperti Kosim untuk mengurungkan niatnya merantau. Kabar burung tentang banyaknya lapangan pekerjaan di ibu kota rupanya lebih menarik untuk dipikirkan daripada memikirkan kemungkinan buruk yang akan menimpa.

Maka, dengan menjinjing dua kardus mie instan yang berisi perbekalan dan satu tas besar yang berisi pakaian Kosim memutuskan untuk mengikuti jejak pemuda kampung lainnya sebagai perantau. Diiringi tatapan menyedihkan dari kedua orang tua dan adik-adiknya Kosim melangkah menyusuri jalan tanah yang masih gerimis untuk pergi berjuang ditanah orang. Doa-doa orang terkasih senantiasa mengiringi langkahnya. Keputusannya untuk merantau tidak bisa di goyahkan lagi meskipun hawa dingin masih menyelimuti desa mekarsari.

Berbekal secarik kertas yang berisi alamat mang Sobari yang tak lain adalah tetangganya sendiri yang telah lebih dulu merantau ke jakarta sebagai pedagang Kosim menguatkan tekadnya. Statusnya akan segera berubah menjadi perantau.

***

Delapan

Rasanya, baru kemarin aku menginjakkan kaki di tempat yang tak pernah aku bayangkan.
Hari ini, untuk pertama kalinya aku pulang ke kampung halaman. Seperti saat pertama aku datang kesini. Aku memilih naik bis yang berada di terminal Kampung Rambutan.

Bis melaju tanpa hambatan. Setelah melewati perjalanan kurang lebih delapan jam akhirnya aku telah sampai di satu-satunya terminal bis yang ada di kotaku. Segera saja aku bergegas mencari mobil bak terbuka yang akan mengantarkanku ke desa.

Ah, kembali merasakan naik mobil bak terbuka adalah salah satu yang paling kurindukan dari tanah kelahiranku. Tidak ada yang menggunakan transfortasi seperti ini di kota. Biasanya, bak terbuka hanya digunakan untuk mengangkut hewan ternak atau sayuran. Tak ada berubah dari jalan menuju desaku. Masih seperti dulu, jalan tanah dengan sedikit batu sisa pengaspalan yang telah mengelupas beberapa tahun lalu.

Dari jauh aku melihat kedua orang tuaku sedang bercengkrama di teras rumah. Sepertinya, kedatanganku memang sudah ditunggu-tunggu.

Setelah mengucapkan salam dan mencium tangan mereka aku segera masuk kedalam rumah merebahkan tubuhku di kursi. Perjalanan dari Depok ke kampung cukup menguras tenaga.

Rupanya, kedua orang tuaku tidak hanya menungguku melainkan mereka juga telah menyiapkan makanan kesukaanku. Bagi mereka, meskipun aku telah beranjak dewasa namun tetap saja bagi mereka aku adalah anaknya. Meskipun aku anak sulung, tapi kedua orang tuaku tidak pernah membedakan anak sulung atau anak bungsu. Bagi kedua orang tuaku, semuanya sama. Hanya saja, hari ini aku sedikit merasa risih karena sikap orang tuaku yang berlebihan. Mereka memanjakanku seperti pada anak kecil. Mungkin, ini adalah cara orang tua untuk melampiaskan kerinduannya pada anak. Sejak aku menginjakkan kaki di rumah entah sudah berapa kali ibu menyuruhku makan. Sampai aku sendiri sudah tidak bisa menolak lagi.

Kedua orang tuaku memang istimewa. Meskipun kami tidak terlalu berlebih dalam materi, setidaknya kami anak-anaknya tidak pernah kekurangan kasih sayang. Dan aku baru menyadari pentingnya kasih sayang dan kepedulian orang tua setelah aku mengenal beberapa sahabatku yang kekurangan kasih sayang orang tua karena orang tuanya sibuk dengan pekerjaan.

***

Sudah hampir seminggu aku berada di kampung. Aku sebenarnya bukan tipe orang yang senang nongkrong seperti kebanyakan teman-temanku. Praktis seminggu berlalu aku habiskan waktu di rumah bersama orang tua dam kedua adik perempuanku. Sesekali aku ikut bapak ke sawah. Sisanya hanya mengurung diri di kamar ditemani beberapa buah buku yang menjadi koleksiku. Sebenarnya, ada beberapa sahabat yang ingin aku kunjungi namun aku meragukan mereka ada di rumah karena setahuku mereka merantau setelah lulus sekolah. Ada satu hal yang mengganjal dalam hatiku untuk kepulangan kali ini. Ada seseorang gadis yang sangat ingin aku temui namun aku sedikit ragu. Karena aku belum terbiasa berkunjung ke rumah gadis. Di kampung aku dikenal sebagai pemuda yang pendiam,kalem dan tidak banyak tingkah. Aku jarang ikut kumpul di tongkrongan sebagaimana kebanyakan pemuda kampung. Paling juga ikut kumpul karang taruna. Lebih singkatnya aku anak rumah. Ku urungkan niat untuk mengunjungi gadis itu.

"Tumben kamu gak main ke rumah teman-temanmu kak?" Tanya ibu. Beliau memang sering memanggilku dengan sebutan kaka jika dihadapan adik-adikku. Untuk melatih adik-adikku agar memanggil kakak terhadapku.

"Teman dekat yang biasa dikunjungi juga sudah pada merantau bu."

"Terus kamu gak main ke tetangga sebelah?"

"Kan tadi baru saja pulang bu dari tetangga." Walau aku merasa sedikit aneh dengan pertanyaan ibu aku berusaha tetap menjawab karena sebenarnya ibu juga tahu kalau aku baru saja pulang dari tetangga.

"Maksud ibu, ke tetangga desa sebelah." Terang ibuku sambil senyum-senyum sendiri.

Ah aku dibuat kikuk dengan pernyataan ibuku. Aku sudah tahu maksudnya. Pasti yang dimaksud tetangga desa sebelah adalah Siti. Ah, gadis itu. Sebenarnya itu masuk dalam rencanaku hanya saja aku tidak berani sengaja berkunjung kerumahnya. Apalagi dia anak kepala desa sebelah. Bisa jadi bahan gosip dua desa kalau aku ketahuan main ke rumah Siti.

"Eh,, anu bu..." Aku menimbang jawaban yang tepat. "Rencananya besok bu." Jawabku mantap.

"Kenapa harus besok?"

"Tidak apa-apa sih bu." Aku kehilangan jawaban dan alhasil hanya cengengesan.

"Ya sudah, kalau begitu sekarang saja mumpung tidak hujan lagi pula ini malam minggu. Sekalian ibu mau nitip ambilkan baju jahitan ibu di uwakmu!"

Ah, malam minggu? Sampai seumuran sekarang pun aku belum pernah merasakan seperti apa malam minggu yang sesungguhnya. Aku merasa malu dengan ibuku. Alhasil, aku menuruti saran ibuku.

Aku yang sebenarnya kurang suka berdandan pun seolah berubah sebaliknya. Lihatlah! Kini, sisiran rambutku nampak mengkilap dengan olesan minyak rambut padahal biasanya aku tak terlalu suka memakai minyak rambut karena sering membuat mual jika di siang hari. Pakaianku pun tak seperti biasanya. Meski tak biasa memakai celana jeans, untuk hari ini aku mengenakan celana jeans satu-satunya yang ada di lemari. Dan kemajaku? Ah, ibu rupanya telah menyiapkan semuanya. Kemejaku telah di setrikanya sampai perlente.
Aku kembali memperhatikan wajahku di cermin. Rasanya tidak yakin melihat penampilanku di cermin. Penampilanku benar-benar berbeda. Sampai-sampai aku merasa sedikit ragu untuk keluar kamar.

"Waduh,,, mau konser dimana kak?" Tanya adikku yang pertama saat aku keluar dari kamar. Dia memperhatikan tampilanku dari atas sampai ke bawah sambil senyum-senyum nggak jelas.

Ibuku juga yang sedang duduk dekat adikku tak kalah membuatku malu karena dia juga tak kuasa menahan tawanya meski tetap berusaha di tahan apalagi mendengar komentar adikku yang sedikit membuatku malu.

"Huss,,, kakakmu mau ke rumah pak kades jadi harus rapi." Terang ibu pada adikku.

"Ketemu pak kades atau ketemu kak Siti?" Tanya adikku sedikit meledek.

Aku sedikit sebal dengan adikku yang terus meledek hingga membuatku mati kutu dihadapan ibu.

"Kak Siti selalu titip salam loh kalau ketemu. Pasti sekarang dia bakal kelepek-kelepek lihat kakak tampilannya seperti ini." Tambah adikku yang semakin membuatku sebal. Aku segera mencubit hidung adikku dengan gemas sampai dia meronta minta dilepaskan.

"Sudah...sudah...lebih baik cepat berangkat nanti keburu sore!" Ibuku berusaha menengahi. Tepatnya menghentikan ledekkan adikku.

Aku segera pergi meninggalkan adikku yang masih cengengesan.

***

Bahasa cinta adalah bahasa kejujuran
Semakin kita berusaha berbohong terhadap hati
Maka, semakin keras upaya hati
Untuk mengungkapkan kejujuran

Perkara hati,
Tak perlu disembunyikan
Sebab, kita tak mungkin menolak anugerah
Yang telah Tuhan anugerahkan
Dan anugerah itu bernama Cinta.

***