Matahari sudah mulai menampakkan diri. Bahkan cahayanya sudah sedikit menyengat saat Kosim tiba di terminal bus yang terletak di kota Kabupaten. Setelah melewati perjalanan yang melelahkan selama dua jam dari desa Mekar Sari, Kosim tiba di tempat dimana bus-bus berjajar rapi. Perjalanan dua jam dari desa Mekar Sari ke kota mungkin lebih melelahkan dibanding perjalanan dari kota Kabupaten ke Jakarta. Menaiki kendaraan bak terbuka dari desa Mekar Sari dapat membuat sendi-sendi terputus. Seperti kapal yang terombang-ambing ditengah lautan, begitulah sensasi menaiki mobil bak terbuka dari desa Mekar Sari. Jika tidak berpegangan maka bisa jadi akan terpelanting dari mobil karena memang kondisi jalan yang sangat hancur. Selain itu, penumpang mobil tersebut harus berdesak-desakkan dengan kambing-kambing yang hendak di jual ke pasar.
Kernet-kernet bus lalu lalang sambil berteriak menawarkan tumpangan.
"Ke Jakarta?" tanya sang kernet pada Kosim yang sedang celingak-celinguk mencari bus yang akan membawanya ke Jakarta.
Yang ditanya hanya mengangguk.
Dua buah kardus yang di jinjing Kosim pun langsung disambar kernet tersebut. Kosim mengikuti langkah kaki kernet yang terburu-buru. Setelah kernet memasukan barang bawaannya ke bagasi, Kosim segera naik ke dalam bus yang baru berisi beberapa penumpang saja. Dia menghempaskan tubuhnya di deretan kursi tengah. Sengaja dia memilih bangku tepat dipinggir dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
Bus tak kunjung berangkat karena masih mencari penumpang lain.
Sementara pikiran Kosim masih berkecamuk tentang hal-hal yang tidak terlalu penting. Bayang-bayang keberhasilan dan kesuksesan merantau di Jakarta telah menari-nari dalam pikirannya. Dia tersenyum sendiri.
Kosim Kosiman, itulah nama lengkap yang diberikan kedua orang tuanya. Anak sepasang petani miskin dari udik yang telah memutuskan untuk mencari peruntungan di Jakarta. Prihal nama, bagi masyarakat desa seperti di Mekar Sari tidak terlalu menjadi masalah pelik. Kita bisa menebak kepanjangan dari nama seseorang. Nama belakang biasanya masih sama dengan nama depan. Seperti Kosim Kosiman, Yana Suryana, Dian Sudiana. Sederhana saja dalam pemberian nama.
Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya bus mulai merangkak perlahan menuju tempat tujuan. Bus ekonomi yang ditumpangi Kosim berjalan sangat perlahan. Sesekali berhenti untuk menaikan penumpang atau pedagang asongan. Bus yang sudah berumur tua itu mulai memancarkan hawa panas karena memang tidak ada pendingin udara yang dipasang di bus. Aroma pembakaran dibagian mesin mulai menyeruak menimbulkan bau yang tidak sedap dan menyebabkan perut mual.
Perlahan, bus mulai dipacu dengan kecepatan tinggi. Menyalip satu dua kendaraan yang ada dihadapannya. Dilihatnya pemandangan diluar jendela bus. Pohon-pohon, bangunan-bangunan, seolah sedang berlomba untuk mengejar bus yang ditumpangi kosim. Semuanya seolah bergerak mengikuti laju bus yang kian cepat.
Kosim menyaksikan pemandangan disetiap jalan yang dilewati bus. Namun, pikirannya tidak sedang berada di kursi bus tersebut. Pikirannya sedang berada di alam yang lain. Pikirannya sudah menerawang jauh membayangkan kehidupan di kota Jakarta. Namun, sesekali bayangannya terlontar kebelakang yang telah meneguhkan keinginannya untuk pergi merantau.
***
Malam minggu, seperti biasa selalu menjadi malam yang istimewa bagi kaula muda. Untuk sekedar nongkrong dipinggir jalan bersama kawan-kawan atau menyepi ditempat-tempat yang jauh dari keramaian bersama kekasih. Ritual malam minggu juga berlangsung di desa yang amat jauh dari hiruk pikuk kota, desa Mekar Sari. Setiap malam minggu, rumah-rumah gadis desa selalu ramai oleh pemuda yang berkunjung. Tentu, tujuannya untuk menarik simpati gadis pujaannya. Pemuda kampung bergerombol dengan kelompoknya masing-masing. Biasanya, satu kelompok pemuda terdiri dari tiga atau empat orang. Mereka akan bermain ke rumah gadis desa incarannya. Ini biasa dilakukan oleh pemuda desa yang memilih untuk hidup di kampung dengan segala keterbatasan pekerjaan dan kesempatan.
Kosim tidak pernah ketinggalan untuk ikut menyemarakan ritual malam minggu. Sejak dia duduk dibangku STM dia telah tertarik dengan salah seorang gadis yang menjadi incaran pemuda tanggung sepertinya. Gadis itu bernama Soleha. Gadis dengan kulit putih mulus, mata bola pingpong dan rambut panjang tergurai. Dia anak dari salah satu pejabat desa. Kosim dan Soleha telah menjalin hubungan sejak tiga bulan terakhir.
Hampir setiap malam minggu, Kosim selalu berada di rumah Soleha. Inilah kelebihan budaya desa yang sangat luhur. Meskipun pemuda pemudi telah saling mencintai namun mereka tidak pernah sengaja pacaran ditempat-tempat sepi seperti generasi muda di kota. Apalagi di tempat-tempat hiburan, tidak pernah mereka jalan-jalan malam minggu di tempat hiburan. Selain karena mereka mengenal sopan santun dan adab sebagai sepasang kekasih yang belum sah dalam ikatan suci, alasan lainnya karena memang tidak ada tempat-tempat hiburan di desa terpencil seperti Mekar Sari. Jika seorang pemuda telah menjalin hubungan dengan seorang gadis, maka kabar itu akan segera menjadi buah bibir masyarakat desa. Itu mungkin kebiasaan buruk masyarakat desa yang lebih suka membicarakan hidup orang lain. Bahkan urusan sepele pun taknluput dari pembicaraan masyarakat desa. Baik itu di warunh- warung saat berbelanja, di sawah, di ladang atau di pos ronda. Kebiasaan masyarakat desa adalah mengomentari kehidupan orang lain. Sebenarnya bukan masyarakat desa saja yang seperti itu karena ternyata masyarakat perkotaan pun lebih parah lagi.
Soleha adalah gadis desa tulen yang tidak pernah dan bahkan tidak pernah tertarik untuk merantau ke kota sebagaimana yang di lakukan gadis seumurannya. Banyak kawan-kawannya yang merantau. Ada yang menjadi pengasuh bayi china, menjadi pembantu rumah tangga, penjaga toko atau yang memiliki ijazah SLTA bisa menjadi buruh di pabrik tekstil.
Malam itu, seperti biasanya Kosim berkunjung ke rumah Soleha untuk sekedar melepas rindu. Tentu pertemuan tersebut tidak hanya mereka berdua karena ayah Soleha selalu siaga dan ikut nimbrung dalam obrolan sepasang kekasih tersebut. Hal yang biasa dilakukan oleh seorang ayah yang memiliki anak gadis.
"Bagaimana dengan ternak-ternakmu Sim?" Tanya ayahnya Soleha untuk sekedar basa-basi kepada Kosim yang terlihat canggung karena telah kehabisan kata-kata dengan Soleha.
"Masih seperti dulu pak." Jawab Kosim sekenanya.
"Apa tidak pernah terpikir untuk merantau ke Jakarta seperti yang lain?" Tanya ayah Soleha lagi.
"Untuk saat ini belum ada niatan pak. Sementara ingin fokus dulu merawat kambing-kambing saya. Apalagi satu kambing sedang hamil."
Ayahnya Soleha hanya mengangguk-angguk. Sebenarnya Kosim sedikit risi jika setiap kunjungannya kerumah Soleha selalu ada ayahnya. Namun, Kosim faham bagaimana ayahnya Soleha. Bagaimanapun dia adala pejabat desa yang tidak ingin membiarkan anak gadisnya melakukan hal yang lebih jauh bersama Kosim. Karena jika hal tersebut terjadi maka nama baik ayahnya Soleha akan tercemar sebagai pejabat desa. Nama baik selalu menjadi prioritas utama bagi para pejabat negeri ini.
Malam mulai larut. Kosim segera undur diri dari rumah Soleha. Dia bersalaman dan berpamitan kepada ayahnya Soleha. Namun, ayahnya Soleha meminta Kosim untuk duduk sesaat. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Sementara Soleha seperti sudah mengerti segera undur diri masuk ke kamar.
"Sim, apakah kamu sudah serius dengan anak saya?" Ayahnya Soleha membuka perbincangan keduanya.
"Tentu serius pak." Jawab Kosim.
"Sejauh mana keseriusan kamu?"
Kosim diam sejenak. Dia tidak mengira akan ditanya seperti itu oleh ayahnya Soleha jadi belum sempat menyiapkan jawaban apapun.
"Maaf sebelumnya jika pertanyaanku membuatmu kaget. Aku hanya tidak ingin kamu menjadikan anak gadisku sebagai permainan saja. Jika memang kamu serius aku sangat bersyukur." Tambah ayahnya Soleha. Kosim belum berkata-kata lagi.
"Aku serius pak." Nada bicara Kosim sedikit menegang. Pertanyaan tersebut memang lebih sulit dari pertanyaan guru-gurunya waktu di sekolah.
"Aku percaya kamu tidak ingin mempermainkan anakku karena setahuku kamu adalah pemuda yang baik. Hanya saja, kamu sebagai seorang laki-laki harus segera memikirkan masa depanmu. Umurmu dan tentu umur Soleha akan beranjak dewasa. Tentu ada hal lain yang harus kalian pikirkan selain cinta dan perasaan. Karena hubungan yang sesungguhnya tidak bisa hanya dibangun dengan kata-kata cinta." Meski suaranya lembut namun kata-kata ayahnya Soleha mampu membuat nafas Kosim tercekat.
Kosim tidak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya menunduk mendengarkan.
"Apalagi, kamu sekarang hanya anak desa yang kesehariannya hanya menyabit rumput untuk kambing-kambingmu. Aku tidak merendahkan ppekerjaanmu. Karena apapun pekerjaannya, rezeki sudah ada yang mengatur. Hanya saja apakah kamu tidak ada keinginan untuk mencari peruntungan di kampung orang seperti kebanyakan pemuda disini. Apalagi kamu masih muda dan memiliki ijazah STM. Apakah kamu tidak kasihan pada orang tuamu yang telah rela menjual sawah satu-satunya demi sekolah kamu. Sementara ijazahnya kamu biarkan begitu saja di dalam lemari. Aku tidak bermaksud apapun pada dirimu. Karena anak gadisku juga tidak jauh berbeda. Dia hanya gadis kampung yang kesehariannya hanya menunggu warung kecil kami. Hanya saja, sekali lagi kamu adalah laki-laki yang kelak dipundakmu tugas mencari nafkah bagi istrimu itu akan tersemat. Sekali lagi pembicaraanku kali ini tidak ada maksud apapun. Aku hanya ingin berbagi ilmu hidup karena kebetulan aku lebih dahulu menjalani hidup di dunia ini." Semakin kesini, kata-kata ayahnya Soleha membuat bulu kuduk Kosim berdiri.
"Iya pak. Saya mengerti, dan terimakasih atas saran dan ilmunya." Suara Kosim hampir tak terdengar jelas. Pemuda yang gagah itu tiba-tiba menjadi tak berdaya di hadapan orang tua gadis incarannya.
Masyarakat desa selalu menganggap serius untuk masalah hubungan anak-anak gadisnya. Jika ada seorang pemuda yang mendekati anak gadisnya maka mereka akan menamyakan keseriusan pemuda tersebut. Sperti itulah yang terjadi pada Kosim.
Kosim juga menyadari hal itu. Namun, usianya yang baru menginjak dua puluhan belum sampai memikirkan sejauh mana hubungannya dengan Soleha akan berjalan. Yang dia rasakan ialah menikmati malam minggu dengan gadis cantik pujaannya. Tapi kali ini pertanyaan-pertanyaan itu seolah menampar kesadarannya. Apalagi ayahnya Soleha menyinggung perjuangan orang tuanya dalam membiayai sekolah.
Pikiran Kosim menjadi runyam. Bayang-bayang Soleha menari-nari di pelupuk matanya.
"Sebenarnya, baberapa hari yang lalu ada seorang pemuda yang juga tertarik dengan Soleha. Namun, aku tidak mengatakan apapun pada pemuda itu karena aku tahu anak gadisku telah dekat denganmu. Aku tidak ingin kamu kecewa. Untuk itulah aku malam ini menanyakan ini padamu agar aku percaya bahwa kamu sudah serius dengan anak gadisku." Perkataan ayahnya Soleha itu nyaris membuat jantung Kosim copot. Dugaannya benar, ada sesuatu dibalik pertanyaan ayahnya Soleha itu.
"Siapa pemuda itu pak?" Tanya Kosim dengan sedikit getir.
"Kamu tentu tahu orangnya. Pemuda itu si Deri."
Hampir saja Kosim melonjak kaget mendengar nama itu. Deri adalah sahabatnya. Meskipun usianya sedikit lebih tua dari Kosim. Bahkan Deri pulalah yang membantu agar hubungannya dengan Soleha dapat terjalin. Kenapa sekarang tiba-tiba dia juga tertarik dengan Soleha?
Semenjak lulus STM, Deri sudah pergi merantau. Memang beberapa minggu yang lalu dia pulang karena ada keperluan yang mendadak. Baru dua tahun dia merantau namun sudah mampu membeli sepeda motor dan beberapa petak sawah di kampung. Katanya, dia sudah bekerja di pabrik perakitan motor di kawasan industri Cikarang.
"Dia juga sudah menyatakan keseriusannya dengan anak gadisku. Namun, aku merasa tidak enak denganmu, Sim." Ayahnya Soleha seolah memahami keadaan hati Kosim.
"Aku juga serius dengan Soleha pak. Saya berjanji akan membuktikan keseriusanku." Janji Kosim.
***
Sebenarnya, itulah yang melandasi keputusan Kosim merantau. Alasan yang tidak pernah diceritakan pada orang tuannya.
Benar kata orang, karena cinta semuanya bisa berubah. Bahkan, saat pamit pada gadis pujaanya Kosim tidak mengatakan alasan tersebut. Dia hanya mengatakan tujuanya merantau hanya untuk mencari pengalaman dan peruntungan di tanah orang.
Meski berat, Soleha akhirnya menerima keputusan Kosim yang mendadak itu. Dia tidak bisa memaksa Kosim untuk tetap tinggal di kampung bersamanya karena memang di kampung tak menjanjikan kehidupan yang lebih baik pada hubungan cintanya.
Kosim tersadar dari lamunannya saat ada seorang pengamen jalanan yang menawarkan suara sumbangnya dengan sedikit rupiah.
Pemandangan diluar jendela masih sama. Pohon-pohon dan bangunan seolah mengikuti laju bus yang meraung-raung karena dipacu dengan kecepatan tinggi.
Seperti bus, jantungnya pun berpacu tqk kalah cepat. Ia ingin segera sampai di kota dan segera mendapatkan pekerjaan yang layak untuk membuktikan pada ayahnya Soleha bahwa dia tidak main-main dengan anak gadisnya. Gadis dengan mata indah dan bibir merah alami itu menari-nari di pelupuk matanya. Digenggamnya erat-erat kertas kecil bertuliskan alamat mang Sobari yang akan menjadi temapat tujuannya sementara.
Sesungging senyum menghias bibir Kosim. Membayangkan wajah Soleha cukup membuatnya bahagia dan bersemangat menjalani hidup selanjutnya di tanah orang.
***