Senin, 12 Oktober 2015

Sebelas

Waktu berjalan seperti tak mengenal jeda. Begitulah memang.
Hari-hari yang aku jalani masih sama. Belajar menjadi tujuan utama. Sekarang pendidikanku sudah menginjak smester ke tujuh. Itu artinya tinggal satu smester lagi aku berada di kampus ini dengan status mahasiswa. Mudah-mudahan saja bisa lulus tepat waktu.

Persahabatanku dengan Beni dan Gista semakin dekat saja. Dia adalah sahabat yang telah mengajakku menjelajahi cakrawala kehidupan yang lain. Meski sebenarnya aku memiliki banyak teman-teman di organisasi namun entah kenapa aku lebih dekat dengan Beni dan Gista. Salah satunya mungkin karena mereka berdua adalah sahabat yang mengerti arti persahabatan yang sesungguhnya. Begitu juga dengan Irman, dia juga lebih sibuk dengan sahabat-sahabatnya. Keadaan tersebut membuat pertemanan kami semakin hambar. Namun, dia masih peduli terhadapku. Itu terbukti dengan seringnya dia memberi nasihat kepadaku.

"Ham, apa tidak sebaiknya kamu membatasi pergaulan kamu dengan Beni dan Gista? Kenapa kamu tidak memilih untuk lebih dekat dengan teman-teman organisasimu saja?" Tanya Irman pada satu waktu.

"Memangnya kenapa?" Datar saja aku menanggapinya.

"Aku khawatir kamu terjerumus pada kesalahan yang akan mengganggu penggapaian cita-citamu. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa dua smester yang telah lewat IP mu tak seperti yang kamu targetkan?"

"Kamu tidak usah terlalu khawatir. Aku masih bisa menjaga diri sendiri. Kamu tidak usah terlalu berlebihan karena sejauh ini aku pun masih mampu menguasai diriku. Lagipula mereka adalah sahabat yang baik. Masalah nilai-nilaiku yang tidak sesuai harapan bukan karena mereka jadi tidak usah kamu kaitkan dengan mereka." Aku merasa yakin dengan diriku.

Memang itu terbukti setiap Beni dan Gista mengajakku ke kafe-kafe sekalipun aku tidak pernah tergiur dengan minuman keras. Walaupun memang sesekali aku sudah belajar menghisap sigaret. Itupun hanya di lakukan di tempat-tempat tertentu hanya agar tidak terlalu disebut kampungan. Paling aku hanya ngobrol dengan gadis-gadis kafe.

"Ya itu terserah kamu saja. Yang penting aku sudah mengingatkan untuk tetap hati-hati dalam nergaul karena tujuan kita untuk menuntut ilmu. Kamu yang lebih tahu dirimu. Sebagai teman aku hanya mengingatkan tidak lebih.

"Iya, aku mengerti. Terimakasih atas nasihatnya."

Begitulah aku dengan Irman. Hanya saling berbicara untuk hal yang dianggap penting saja.

Untuk masalah merokokpun sebenarnya aku merasa berdosa dan bersalah terhadap orang tuaku. Aku sudah berjanji pada mereka untuk tidak merokok selama masih kuliah. Aku pun merasa seperti orang yang paling munafik saat aku pulang ke kampung setiap libur panjang. Orang tuaku masih percaya bahwa aku bukan perokok. Pun dengan orang-orang desa yang masih menganggapku pemuda baik-baik. Pemuda yang pendiam dan soleh. Padahal kenyataannya disini aku sering le tempat-tempat yang mungkin belum pernah dikunjungi pemuda-pemuda kampung yang hobi nongkrong. Kenakalan pemuda kampung hanya sebatas nongkrong sampai larut malam sementara aku, aku main ke tempat-tempat remang sampai tidak mengenal waktu. Namun meskipun demikian aku selalu berpikir bahwa ini hanya sementara dan dalam batas yang aku masih sanggup mengendalikannya. Sungguh itu adalah pembelaan yang paling menjijikan sebenarnya.

Dihadapan orang tuaku memang aku bersikap sebagaimana anggapan orang tuaku bahwa aku adalah anak yang baik. Entah jika mereka mengetahui kelakuanku di luar rumah saat jauh dari mereka. Mungkin mereka akan membenciku sejadi-jadinya.

Aku adalah anak yang biasa di manja oleh orang tuaku meski bukan berasal dari keluarga berlebih namun orang tuaku selalu memastikan keperluanku terpenuhi. Selain tidak banyak tingkah, aku juga termasuk anak yang penurut. Setiap perkataan dari orang tua selalu aku penuhi. Aku tidak pernah membangkang pada setiap larangan mereka. Lebih tepatnya aku seperti dikendalikan oleh orang tuaku. Alhasil saat aku jauh dari mereka seperti menemukan kebebasan. Tidak ada aturan yang harus aku patuhi. Orang tuaku selalu membatasi setiap gerak-gerikku dan kini aku seperti kuda yang lepas dari ikatannya. Masih terlihat jinak, namun sebanrnya sudah liar karena kebebasan yang dimilikinya.

Aku merasa berdosa dan bersalah terhadap orang tuaku namun rasa penasaran kadang mengalahkan semuanya. Kesempatan dan ego diri selalu menguasaiku.

***

Ada hal yang lebih aku tunggu di ujung masa pendidikanku selain tentu dapat lulus dan mendapatkan selembar ijazah. Lebih dari itu ada hati yang sedang menungguku. Dan ada perasaan yang membuncah didadaku.

Hubunganku dengan Siti kian menggembirakan. Orang tua siti dan orang tuaku telah sama-sama tahu hubungan yang kita jalin. Bahkan orang tua siti menyarankanku agar melakukan proses lamaran bersamaan dengan kelulusanku.

"Tidak baik menjalin hubungan tanpa tujuan ke arah yang lebih serius. Walaupun kami percaya nak Ilham sungguh-sungguh mencintai Siti. Tapi, sebagai orang tua kami ingin agar ada obrolan yang lebih serius antar dua keluarga agar kami lebih tenang terhadap hubungan kalian." Begitulah yang di ungkapkan orang tua Siti.

Sebenarnya aku tidak ingin terburu-buru dalam urusan yang satu ini. Namun tidak ada salahnya jika aku mencoba untuk menyampaikan apa yang disampaikan oleh orang tua Siti pada orang tuaku.

"Itu lebih baik. Karena memang dalam tradisi kita tidak baik menggantungkan anak orang tanpa kejelasan tujuan." Jelas bapakku saat aku mengutarakan apa yang disampaikan orang tua Siti.

"Tapi aku masih terlalu muda untuk memikirkan itu pak. Lagi pula saat ini aku masih kuliah." Aku mengeluarkan pendapatku.
Tapi, itu bukan berarti aku tidak serius dengan hubungan yang aku jalani. Aku hanya tidak ingin terburu-buru.

"Memastikan bukan berarti kamu harus segera menikahinya nak." Bapakku malam itu terlihat lebih bijak dan tenang.

"Sebagai laki-laki kamu harus bisa memberi kepercayaan kepada orang tua perempuan bahwa kamu pantas mendampingi anak perempuan mereka. Mereka juga tidak ingin memaksa kamu untuk segera menikahinya. Lagi pula mereka tahu kamu masih kuliah dan anak mereka juga masih kuliah. Ini hanya soal kesungguhan. Itu saja. Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita melangsungkan tunangan saat kamu lulus kuliah? Itu juga sebagai tanda syukur atas kelulusanmu." Kali ini aku menemukan bapakku lebih bijak dari biasanya. Ketenangannya dalam berbicara menyiratkan kedewasaannya sebagai orang tua. Itu terlihat dari caranya memilih kata. Sangat hati-hati.

Aku hampir saja melonjak kaget.

"Tapi aku masih muda pak. Dan saat lulus berarti belum memiliki pekerjaan. Karena jika sudah bertunangan maka tidak perlu menunggu lama untuk melangsungkan pernikahan." Aku berusaha setenang mungkin menolak permintaan bapak.

Sekali lagi bukan karena aku tidak serius dengan gadis pujaanku. Ini karena aku tidak ingin ada penyesalan setelahnya.

"Dalam budaya kita bahkan agam tidak melarang sepasang kekasih menikah muda. Bahkan di anjurkan. Kamu tidak perlu memikirkan apa yang harus kamu siapkan untuk acara tersebut. Selama kamu masih belum berumah tangga, kamu masih menjadi tanggungan kami. Lagipula kamu sudah bisa mencari pekerjaan setelah lulus sebelum melangsungkan pernikahan sambil menunggu nak Siti lulus kuliah. Itu juga jika kamu benar-benar serius dengan kekasihmu. Sebab, bagaimanapun dia adalah anak kepala desa, sangat tidak elok jika terlihat berduaan denganmu tanpa kamu benar-benar menunjukan keseriusan terhadapnya."

Kali ini aku memilih mengikuti apa yang bapak katakan. Karena memang sebenarnya itulah yang aku inginkan.

Smester terkahir akan menjadi terasa begitu panjang bagiku. Mengejar toga dan menuju cinta. Meski sekedar lamaran.

***


"

Minggu, 11 Oktober 2015

Sepuluh

Bus sudah melaju dengan kecepatan sangat tinggi karena memang saat itu jalanan pantura sangat lengang. Beberapa penumpang banyak yang terlelap tidak peduli dengan supir bus yang ugal-ugalan. Ah, kondisi tersebut membuatku tak bisa memejamkan mata. Seperti biasa, aku memilih menikmati pemandangan sepanjang jalan pantura. Sesekali menuliskan sesuatu pada jendela bus yang berembun akibat hembusan nafasku yang terlalu dekat dengan kaca.

Liburan telah berakhir. Saatnya menuju medan jihad, meneruskan perjuangan menuntut ilmu. Namun, beberapa kenangan saat liburan masih terus membayangiku. Apalagi hal-hal konyol yang terjadi selama liburan yang pasti akan aku rindukan selama berada di kota orang. Selain orang tua dan kedua adikku, ada seseorang yang juga akan memaksaku untuk selalu rindu pulang kampung. Ah, andai liburannya bisa di perpanjang tentu akan lebih baik.

Aku masih menikmati pemandangan sepanjang perjalanan meski sesekali harus terpelanting ke depan akibat supir bus yang rem mendadak. Memasuki daerah Karawang jalanan sudah mulai terjadi kemacetan. Beberapa pedagang buku Teka Teki Silang juga sudah ada yang berjualan di bus. Hanya satu dua orang saja yang membeli buku Teka-Teki Silang tersebut. Setelah itu disusul lagi dengan artis jalanan yang menjajakan suara emas mereka. Vokalis nya masih anak-anak namun suaranya cukup merdu. Alhasil, hampir semua penumpang bus pun mengulurkan tangannya berbagi rupiah pada kelompok penyanyi jalanan tersebut.

Tak terasa, bus sudah mendarat mulus di terminal kampung Rambutan. Bus yang memang tidak terlalu sesak dengan penumpang membuatku leluasa untuk keluar dari bus yang terasa panas. Aku sudah tidak harus bertanya lagi angkutan yang akan membawaku ke kost-kostan karena memang sudah hafal.

***

Irman rupanya telah lebih dulu  berada di kostan. Dia memang teman kostku yang rajin. Aku beruntung bisa satu kostan dengan dia, setidaknya kami sama-sama memiliki kepedulian terhadap tempat kami tinggal.

"Sudah lama tiba disini?" Aku menyimpan satu buah kardus di pojok kamar. Irman yang sedang membaca buku menoleh padaku.

"Saya sudah berada disini sejak kemarin. Banyak tugas yang harus diselesaikan." Terangnya.

"Oh..." Aku hanya ber-oh saja.

Begitulah kami, meski kami satu kamar namun sikap kami datar-datar saja. Pembicaraan kami sepertinya selalu serius sesekali bercandapun terasa hambar. Mungkin karena kami masih sama-sama kaku. Padahal Irman biasanya periang dan suka bercanda jika dengan teman-temannya. Aku pun demikian. Tapi, di kamar ini seolah candaan yang biasa kami lemparkan terasa hambar. Tapi aku selalu berusaha tetap nyaman tinggal disini dan Irman pun sepertinya demikian.

***

Kamis, 08 Oktober 2015

Sembilan

Jarak antara desaku dan desa sebelah tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, rasanya aku sudah seperti orang gila. Setiap kaca rumah yang aku lewati pasti selalu menyempatkan melihat tampilanku dari kaca. Aku tidak peduli walaupun orang yang berada di dalam rumah menertawakan tingkahku. Ah, mungkin memang benar, cinta bisa membuat orang menjadi gila.

Langkahku terhenti saat aku tepat berada di depan mesjid yang berhadapan dengan rumah pak kades--rumah Siti lebih tepatnya. Tiba-tiba saja aku menjadi ragu untuk meneruskan langkah. Mungkin karena belum terbiasa berkunjung ke rumah perempuan.

Tapi, entah kekuatan apa yang membuatku mampu melangkah sampai di depan pintu. Keringat dingin mulai keluar dari pori-poriku saat aku mengetuk pintu rumah. Setelah dua kali mengetuk pintu terdengar jawaban dari dalam rumah. Suara seorang perempuan namun dengan suara sedikit lebih berat yang aku taksir suara bu kades.

"Eh, ini siapa ya?" Tanya bu Kades merasa keheranan melihatku mematung di depan pintu.

Aku berusaha mengendalikan emosiku. Rupanya aku tidak di kenal di desa sebelah meskipun di desaku aku sangat terkenal.

"Saya Ilham bu dari desa sebelah."

"Oh, nak Ilham temannya Siti ya?"

Aku hanya mengangguk.

"Kalau nak Ilham ibu tahu. Siti sering cerita tentang nak Ilham. Mari masuk!" Ajaknya.

Deg,,, tiba-tiba saja hatiku bergetar tidak karuan. Sering cerita tentangku? Apa saja yang Siti ceritakan? Ah, pikiranku menjadi tidak karuan. Keringat dingin semakin membanjiri keningku. Pengalamn pertama yang mendebarkan.

"Sebentar ya, ibu panggil dulu Sitinya. Oh iya nak Ilham mau minum apa?"

"Tidak usah repot-repot bu!"

Bu Kades tidak menjawab. Dia segera meninggalkanku.

"Eh kak Ilham, sudah lama kak?"

Ah, suara itu. Aku yang sedang memperhatikan ke luar rumah pun dibuat kikuk dengan suara itu. Aku berusaha mengatur tempo nafasku agar tidak terlihat grogi.

"Baru saja." Jawabku sambil mencuri pandang pada wajahnya yang esdikit menunduk menyimpan segelas teh di meja.

Ternyata wajahnya masih sama persis seperti yang aku lihat terakhir kali di sekolah. Masih membuatku tidak bisa konsentrasi. Aku masih terus berusaha berbicara senormal mungkin meski terlihat di buat-buat.

Saat aku sudah menguasai diriku, obrolan pun berlangsung hangat. Bertukar kabar, bertukar pengalaman. Sesekali aku melihat rona merah di pipinya saat aku takbl sengaja mengucakan kata kangen padanya. Ah, pengalaman pertama yang menakjubkan.

"Sepertinya keinginanku untuk kuliah ditempat kakak kuliah harus di urungkan." Tiba-tiba saja wajahnya berubah murung.

Entah apa maksudnya. Mungkin karena impiannya juga sama sepertiku dapat menempuh pendidikan di kampus terbaik negeri ini. Atau karena alasan yang lain? Entah.

"Loh, kenapa memangnya?"

"Aku tidak lolos seleksinya Kak."

"Oh begitu. Tidak apa-apa dimana pun sama saja menuntut ilmu tidak ada bedanya." Aku berusaha membesarkan hatinya.

"Iya sih kak." Jawabannya hampir tidak terdengar.

"Terus rencananya mau meneruskan pendidikan dimana?"

"Rencananya di Cirebon."

"Dimanapun tempatnya harus tetap semangat dong!" Aku berusaha menghiburnya yang tiba-tiba terlihat murung.

Obrolan pun terus berlanjut sampai tidak terasa aku sudah kurang lebih satu jam setengah berada di rumahnya. Aku segera pamit padanya dan ibunya. Karena sebentar lagi adzan magrib.

***

Ini kali pertama aku berkunjung ke rumah gadis. Dan entah kenapa perasaanku seperti kegirangan tidak karuan. Aku tak kuasa lagi untuk tidak tersenyum sepanjang jalan. Orang-orang yang hendak ke mesjid pun keheranan melihat tingkahku yang tidak jauh dengan orang gila. Sepanjang jalan yang terbayang dalam ingatanku hanya rona merah di pipinya dan senyum malu-malu gadis itu. Ah, aku akan rindu untuk segera pulang kampung lagi nanti setelah aku berada di kota.

Aku memasuki rumahku dengan hati berbunga-bunga. Kedua orang tua dan adikku menatap aneh terhadapku. Aku pun menjadi malu sendiri.

"Kamu tidak apa-apa kan kak?" Tanya ibuku penuh selidik.

"Tidak, memangnya kenapa bu?" Jawabku sambil sedikit tersenyum.

Sementara kedua adikku sedang tertawa melihat tingkah polahku yang sedikit aneh.

"Ya sudah kalau tidak apa-apa lebih baik kamu mandi dulu lalu shalat magrib. Siapa tahu setelah itu kamu normal lagi." Terang bapakku sambil senyum-senyum tidak jelas menghentikan introgasi ibuku.

Meski masih bingung dengan sikap kedua orang tua dan adikku namun aku memutuskan mengikuti saran bapakku.

Setelah shalat, aku segera menuju ruang keluarga. Disana sudah ada kedua orang tua dan adikku. Dengan wajah yang sedikit aneh menatapku.

"Bener kak kamu tidak apa-apa?" Tanya ibuku lagi dengan pertanyaan yang sama.

"Tidak bu. Memangnya kenapa? Ada yang aneh dengan saya bu? Perasaan tidak ada yang hilang dariku." Aku meraba kepalaku,telinga, tanganku, menghitung jariku memastikan tidak ada yang berubah dariku.

Sontak saja aktivitasku membuat kedua orang tua dan adikku tertawa.

"Bukan itu maksud ibu. Bukannya tadi ibu nitip sama kamu untuk mengambilkan jahitan baju ibu di uwakmu?"

Astaga! Aku menepuk jidatku sekras-kerasnya.

Semua penghuni rumah kecilku tertawa lepas. Adikku yang paling pertama tertawanya paling lepas. Terlihat puas sekali menertawakan kakaknya yang tak berdaya. Aku sampai lupa untuk mengambil titipan ibu.

"Gara-gara perempuan sampai lupa segalanya." Kata bapakku di sela tawa yang masih saja meramaikan rumah kami. Di akhiri dengan tawa lepas.

"Iya nih kak, payah cuma gara-gara perempuan jadi lupa segalanya." Timpal adikku yang belum puas meledek dan mentertawakanku.

Aku hanya menggaruk kepalaku yang tak gatal. Menyadari keteledoranku yang konyol.

Ah, benar saja cinta membuat segalanya jadi aneh.

***

Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta cuka menjelma anggur segar
Karena cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Karena cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Karena cinta api yang berkobar-kobar Jadi cahaya yang menyenangkan
Karena cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Karena cinta batu yang keras menjadi lembut bagaikan mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat
Karena cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Karena cinta sakit jadi sihat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-ramahan

(Jalalludin Rummi : Karena Cinta)

***

Cahaya Yang Hilang (1 Bersama sebuah doa)

Wisuda adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh semua yang mengatasnamakan dirinya mahasiswa. Perjuangan menyelesaikan tugas akhir yang menguras tenaga pun seolah terbayar lunas manakala seorang mahasiswa memakai toga, memakai jubah kebesaran bak seorang pahlawan yang baru saja diberi gelar pahlawan nasional. Terlepas dari siapa dan apa yang ada di balik pengerjaan tugas akhir yang jelas tujuannya ialah mengenakan toga. Pidato-pidato ilmiah yang disampaikanpun tak terlalu penting. Karena yang terpenting ialah saat tali toga dipindahkan dari kiri ke kanan. Wajah-wajah sumringah para generasi muda harapan bangsa yang siap mengabdikan ilmunya nampak jelas menghiasi ruangan auditorium tempat berlangsungnya acara wisuda.

Kebahagiaan akan bertambah lengkap manakala nama kita disebut sebagai wisudawan terbaik. IP mu disebutkan di depan khalayak yang hadir memenuhi auditorium. Selain membuat bangga diri kita sudah barang tentu akan membuat bangga orang tua yang turut menyaksikan acara wisuda. Hal tersebut menjadi hadiah yang sangat indah bagi orang tua kita.

Irham Ramadhan.

Ya, nama itu menjadi wisudawan terbaik. Suara rektor membahana memanggil namanya untuk diwisuda terlebih dahulu.

Semua orang yang mengenalnya menoleh, melemparkan senyum kebanggaan.

Sebelum melangkah memenuhi panggilan rektor yang sudah berulang-ulang melalu mikropon yang bergaung menggetarkan auditorium, Irham memeluk erat kedua orang tuanya. Air mata keharuan mengalir tak bisa terbendung dari mata mereka.

"Selamat nak." Terdengar lirih kedua bibir kedua orang tuanya mengucapkan kata tersebut bahkan hampir tak terdengar.

Tepuk tangan riuh rendah membahana mengiringi langkah pemuda yang selalu menampilkan wajah optimis tersebut. Semua mata tertuju padanya. Seolah tersihir oleh pesonanya. Antara ketampanan dan kepintarannya. Irham seolah gambaran pemuda yang sempurna.

Hari ini adalah hari yang sempurna baginya. Senyum selalu menghias wajah tampannya.

Selanjutnya, satu per satu wisudawan dan wisudawati di panggil melalui pengeras suara membuat suasana auditorium tempat  berlangsungnya wisuda kian ramai.

"Selamat nak, ibu dan bapak bangga padamu. Kamu telah berhasil mengangkat derajat orang tuamu." Perempuan paruh baya yang tak lain ibunya Irham kembali memeluk anak bungsunya tersebut seolah tak ingin melepaskannya. Sementara, bapaknya lebih terlihat tenang walaupun sebenarnya dia juga tidak bisa menyembunyikan genangan di sudut matanya.

"Terimakasih bu, pak. Kalau bukan karena doa ibu dan bapak tidak mungkin Irham bisa mendapatkan ini semua."

Pelukan ibunya baru terlepas saat suasana di luar auditorium sudah semakin tidak karuan. Para wisudawan dan wisudawati memanfaatkan waktu yang ada untuk berfose di depan kamera bersama sanak famili yang mengantarnya wisuda. Senyum-senyum yang mengembang di bibir semakin memperjelas arti kebahagiaan mereka.

"Selamat Ham, aku sudah menduga bahwa kamu akan menjadi wisudawan terbaik. Dan kamu memang pantas mendapatkannya."

" Terimakasih Mam. Alhamdulillah."

"Sama-sama. Oh iya, sengaja aku menemuimu. Aku ingin mengajakmu berfoto bersama kawan-kawan satu kostan yang lain. Hitung-hitung sebagai kenang-kenangan."

Imam adalah salah satu teman kosan Irham selama menempuh pendidikan. Selain teman kostan, dia juga adalah sahabat yang paling dekat dengan Irham. Dia yang selalu mendukung dan memberi motivasi saat semangat Irham sedang turun. Keduanya sudah seperti saudara.

"Mana teman yang lain?"

"Mereka sudah menunggu disana." Imam menunjuk ke arah dimana teman-temannya telah menunggu dengan memakai toga. Nampak jelas dari kejauhan terlihat gagah.