Waktu berjalan seperti tak mengenal jeda. Begitulah memang.
Hari-hari yang aku jalani masih sama. Belajar menjadi tujuan utama. Sekarang pendidikanku sudah menginjak smester ke tujuh. Itu artinya tinggal satu smester lagi aku berada di kampus ini dengan status mahasiswa. Mudah-mudahan saja bisa lulus tepat waktu.
Persahabatanku dengan Beni dan Gista semakin dekat saja. Dia adalah sahabat yang telah mengajakku menjelajahi cakrawala kehidupan yang lain. Meski sebenarnya aku memiliki banyak teman-teman di organisasi namun entah kenapa aku lebih dekat dengan Beni dan Gista. Salah satunya mungkin karena mereka berdua adalah sahabat yang mengerti arti persahabatan yang sesungguhnya. Begitu juga dengan Irman, dia juga lebih sibuk dengan sahabat-sahabatnya. Keadaan tersebut membuat pertemanan kami semakin hambar. Namun, dia masih peduli terhadapku. Itu terbukti dengan seringnya dia memberi nasihat kepadaku.
"Ham, apa tidak sebaiknya kamu membatasi pergaulan kamu dengan Beni dan Gista? Kenapa kamu tidak memilih untuk lebih dekat dengan teman-teman organisasimu saja?" Tanya Irman pada satu waktu.
"Memangnya kenapa?" Datar saja aku menanggapinya.
"Aku khawatir kamu terjerumus pada kesalahan yang akan mengganggu penggapaian cita-citamu. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa dua smester yang telah lewat IP mu tak seperti yang kamu targetkan?"
"Kamu tidak usah terlalu khawatir. Aku masih bisa menjaga diri sendiri. Kamu tidak usah terlalu berlebihan karena sejauh ini aku pun masih mampu menguasai diriku. Lagipula mereka adalah sahabat yang baik. Masalah nilai-nilaiku yang tidak sesuai harapan bukan karena mereka jadi tidak usah kamu kaitkan dengan mereka." Aku merasa yakin dengan diriku.
Memang itu terbukti setiap Beni dan Gista mengajakku ke kafe-kafe sekalipun aku tidak pernah tergiur dengan minuman keras. Walaupun memang sesekali aku sudah belajar menghisap sigaret. Itupun hanya di lakukan di tempat-tempat tertentu hanya agar tidak terlalu disebut kampungan. Paling aku hanya ngobrol dengan gadis-gadis kafe.
"Ya itu terserah kamu saja. Yang penting aku sudah mengingatkan untuk tetap hati-hati dalam nergaul karena tujuan kita untuk menuntut ilmu. Kamu yang lebih tahu dirimu. Sebagai teman aku hanya mengingatkan tidak lebih.
"Iya, aku mengerti. Terimakasih atas nasihatnya."
Begitulah aku dengan Irman. Hanya saling berbicara untuk hal yang dianggap penting saja.
Untuk masalah merokokpun sebenarnya aku merasa berdosa dan bersalah terhadap orang tuaku. Aku sudah berjanji pada mereka untuk tidak merokok selama masih kuliah. Aku pun merasa seperti orang yang paling munafik saat aku pulang ke kampung setiap libur panjang. Orang tuaku masih percaya bahwa aku bukan perokok. Pun dengan orang-orang desa yang masih menganggapku pemuda baik-baik. Pemuda yang pendiam dan soleh. Padahal kenyataannya disini aku sering le tempat-tempat yang mungkin belum pernah dikunjungi pemuda-pemuda kampung yang hobi nongkrong. Kenakalan pemuda kampung hanya sebatas nongkrong sampai larut malam sementara aku, aku main ke tempat-tempat remang sampai tidak mengenal waktu. Namun meskipun demikian aku selalu berpikir bahwa ini hanya sementara dan dalam batas yang aku masih sanggup mengendalikannya. Sungguh itu adalah pembelaan yang paling menjijikan sebenarnya.
Dihadapan orang tuaku memang aku bersikap sebagaimana anggapan orang tuaku bahwa aku adalah anak yang baik. Entah jika mereka mengetahui kelakuanku di luar rumah saat jauh dari mereka. Mungkin mereka akan membenciku sejadi-jadinya.
Aku adalah anak yang biasa di manja oleh orang tuaku meski bukan berasal dari keluarga berlebih namun orang tuaku selalu memastikan keperluanku terpenuhi. Selain tidak banyak tingkah, aku juga termasuk anak yang penurut. Setiap perkataan dari orang tua selalu aku penuhi. Aku tidak pernah membangkang pada setiap larangan mereka. Lebih tepatnya aku seperti dikendalikan oleh orang tuaku. Alhasil saat aku jauh dari mereka seperti menemukan kebebasan. Tidak ada aturan yang harus aku patuhi. Orang tuaku selalu membatasi setiap gerak-gerikku dan kini aku seperti kuda yang lepas dari ikatannya. Masih terlihat jinak, namun sebanrnya sudah liar karena kebebasan yang dimilikinya.
Aku merasa berdosa dan bersalah terhadap orang tuaku namun rasa penasaran kadang mengalahkan semuanya. Kesempatan dan ego diri selalu menguasaiku.
***
Ada hal yang lebih aku tunggu di ujung masa pendidikanku selain tentu dapat lulus dan mendapatkan selembar ijazah. Lebih dari itu ada hati yang sedang menungguku. Dan ada perasaan yang membuncah didadaku.
Hubunganku dengan Siti kian menggembirakan. Orang tua siti dan orang tuaku telah sama-sama tahu hubungan yang kita jalin. Bahkan orang tua siti menyarankanku agar melakukan proses lamaran bersamaan dengan kelulusanku.
"Tidak baik menjalin hubungan tanpa tujuan ke arah yang lebih serius. Walaupun kami percaya nak Ilham sungguh-sungguh mencintai Siti. Tapi, sebagai orang tua kami ingin agar ada obrolan yang lebih serius antar dua keluarga agar kami lebih tenang terhadap hubungan kalian." Begitulah yang di ungkapkan orang tua Siti.
Sebenarnya aku tidak ingin terburu-buru dalam urusan yang satu ini. Namun tidak ada salahnya jika aku mencoba untuk menyampaikan apa yang disampaikan oleh orang tua Siti pada orang tuaku.
"Itu lebih baik. Karena memang dalam tradisi kita tidak baik menggantungkan anak orang tanpa kejelasan tujuan." Jelas bapakku saat aku mengutarakan apa yang disampaikan orang tua Siti.
"Tapi aku masih terlalu muda untuk memikirkan itu pak. Lagi pula saat ini aku masih kuliah." Aku mengeluarkan pendapatku.
Tapi, itu bukan berarti aku tidak serius dengan hubungan yang aku jalani. Aku hanya tidak ingin terburu-buru.
"Memastikan bukan berarti kamu harus segera menikahinya nak." Bapakku malam itu terlihat lebih bijak dan tenang.
"Sebagai laki-laki kamu harus bisa memberi kepercayaan kepada orang tua perempuan bahwa kamu pantas mendampingi anak perempuan mereka. Mereka juga tidak ingin memaksa kamu untuk segera menikahinya. Lagi pula mereka tahu kamu masih kuliah dan anak mereka juga masih kuliah. Ini hanya soal kesungguhan. Itu saja. Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita melangsungkan tunangan saat kamu lulus kuliah? Itu juga sebagai tanda syukur atas kelulusanmu." Kali ini aku menemukan bapakku lebih bijak dari biasanya. Ketenangannya dalam berbicara menyiratkan kedewasaannya sebagai orang tua. Itu terlihat dari caranya memilih kata. Sangat hati-hati.
Aku hampir saja melonjak kaget.
"Tapi aku masih muda pak. Dan saat lulus berarti belum memiliki pekerjaan. Karena jika sudah bertunangan maka tidak perlu menunggu lama untuk melangsungkan pernikahan." Aku berusaha setenang mungkin menolak permintaan bapak.
Sekali lagi bukan karena aku tidak serius dengan gadis pujaanku. Ini karena aku tidak ingin ada penyesalan setelahnya.
"Dalam budaya kita bahkan agam tidak melarang sepasang kekasih menikah muda. Bahkan di anjurkan. Kamu tidak perlu memikirkan apa yang harus kamu siapkan untuk acara tersebut. Selama kamu masih belum berumah tangga, kamu masih menjadi tanggungan kami. Lagipula kamu sudah bisa mencari pekerjaan setelah lulus sebelum melangsungkan pernikahan sambil menunggu nak Siti lulus kuliah. Itu juga jika kamu benar-benar serius dengan kekasihmu. Sebab, bagaimanapun dia adalah anak kepala desa, sangat tidak elok jika terlihat berduaan denganmu tanpa kamu benar-benar menunjukan keseriusan terhadapnya."
Kali ini aku memilih mengikuti apa yang bapak katakan. Karena memang sebenarnya itulah yang aku inginkan.
Smester terkahir akan menjadi terasa begitu panjang bagiku. Mengejar toga dan menuju cinta. Meski sekedar lamaran.
***
"